Media Sense dan IDN Bahas Masa Depan Creator Marketing

Creator marketing dibahas sebagai strategi yang membutuhkan pengukuran kinerja, transparansi biaya, tata kelola agency, dan kepemilikan data.
Media Sense menyoroti pentingnya evaluasi agency, creator memory, serta akuntabilitas seiring meningkatnya investasi pemasaran.
IDN memperluas ruang kolaborasi brand melalui media, konten, venue, event, dan komunitas.
Jakarta, IDN Times - Pertumbuhan creator marketing membuat brand tidak lagi cukup mengandalkan kreativitas dan jangkauan. Ketika investasi pemasaran semakin besar, pengukuran kinerja, pengelolaan agensi, transparansi biaya, hingga kepemilikan data menjadi tantangan yang ikut menentukan efektivitas strategi marketing.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam The Growth Leaders Luncheon, acara yang digelar Media Sense (sebelumnya dikenal sebagai R3) bersama IDN, Kamis (24/9/2026). Pertemuan yang diikuti pemimpin senior dari berbagai industri ini membahas arah creator marketing, efektivitas investasi, serta cara brand menghadapi perubahan ekosistem pemasaran.
Country Director Media Sense, Vanda Francisca, mengatakan perusahaan perlu melihat investasi marketing secara menyeluruh, mulai dari proses pemilihan agensi hingga evaluasi hasil kerja.
“Kami adalah konsultan korporasi independen global yang siap membantu teman-teman memahami investasi mereka, melakukan hal yang maksimal dan optimal. Kami juga membantu melakukan pelacakan agar investasi tersebut benar-benar bekerja dengan baik untuk Anda,” kata Vanda,.
1. Marketing tak berhenti di-pitching

Acara Growth Leaders Luncheon yang digelar MediaSense dan IDN di Jakarta, Kamis (24/9/2026). (IDN Times/Lia Hutasoit) Vanda mengatakan, Media Sense membantu brand dalam seluruh siklus pengelolaan marketing. Proses itu mencakup sourcing, review agency, pitching, penyusunan kontrak, penentuan target harga, hingga kerangka KPI.
Menurut dia, cakupan layanan tak hanya berkaitan dengan agensi media. Brand juga dapat memperoleh pendampingan untuk berbagai kebutuhan agensi, termasuk creative, KOL, dan media sosial.
“Jadi, kami membantu dari seluruh siklus, mulai dari sourcing atau pencarian, kemudian review agency. Bukan hanya media, tetapi sekarang kami bisa membantu berbagai agensi, seperti creative, KOL, social media, dan lainnya,” ujar dia.
Media Sense juga membantu brand memantau kinerja agensi setelah kerja sama berjalan. Salah satunya melalui Key Agency Performance Evaluation atau KPE yang digunakan untuk mengevaluasi hubungan dan kinerja agensi.
“Menurut saya, hal yang paling penting ketika bekerja sama dengan agensi adalah melakukan evaluasi terhadap partnership dan kinerja agensi. Kami menyebutnya Key Agency Performance Evaluation atau KPE,” kata dia.
Selain evaluasi, kata Vanda, Media Sense juga dapat membantu aspek governance dan compliance, termasuk validasi kontrak, media audit, serta perhitungan remunerasi berbasis performa.
2. Creator marketing masuk fase pertanggungjawaban

Acara Growth Leaders Luncheon yang digelar MediaSense dan IDN di Jakarta, Kamis (24/9/2026). (IDN Times/Lia Hutasoit) Sementara, Senior Consultant Media Sense, Asha Bourne, membahas tentang creator marketing. Menurut dia, creator marketing telah berkembang jauh dari kanal eksperimental dan kini perlu mendapatkan tingkat akuntabilitas yang sama seperti kanal media lainnya.
“Kita berada pada titik penting dalam creator marketing ketika kita harus mulai meminta pertanggungjawaban yang sama seperti yang kita lakukan terhadap kanal lainnya. Ketika investasi semakin besar, kita perlu memastikan bahwa kita mengetahui untuk apa uang kita dibelanjakan,” kata Asha.
Dia menyoroti persoalan tata kelola creator marketing yang masih kompleks. Pengelolaan kreator dapat melibatkan manajemen, intermediary, agensi, hingga kreator yang mengelola bisnisnya sendiri. Kondisi itu membuat data mengenai biaya, performa, hubungan dengan kreator, hingga hak penggunaan konten berpotensi tersebar di berbagai pihak.
Asha mengatakan, persoalan tersebut dapat membuat brand kehilangan pengetahuan ketika berganti agensi atau partner. Oleh karena itu, menurut dia, brand perlu memastikan data creator marketing tetap menjadi aset yang mereka miliki.
“Ketika eksekusi berpindah ke luar, pengetahuan juga bisa ikut berpindah. Itu yang tidak Anda inginkan sebagai sebuah brand. Hubungan dengan kreator, riwayat komersial, pembelajaran performa, semuanya bisa hilang ketika Anda berganti agensi atau partner,” ujar dia.
Menurut Asha, brand perlu membangun apa yang dia sebut sebagai creator memory. Isinya antara lain daftar kreator yang pernah digunakan, karakter audiens, riwayat biaya, kualitas aset, performa, serta hubungan dengan kreator.
3. Creator bukan cuma soal awareness

Acara Growth Leaders Luncheon yang digelar MediaSense dan IDN di Jakarta, Kamis (24/9/2026). (IDN Times/Lia Hutasoit) VP ICE by IDN, Hana Noviatri, memaparkan perkembangan creator marketing dari sisi perilaku konsumen. Dalam kesempatan tersebut, dia memperkenalkan Indonesia Creator Marketing Report yang dikembangkan IDN Research.
Hana mengatakan, creator marketing kini tak hanya berkaitan dengan produksi konten dan awareness. Perjalanan konsumen dapat berlanjut melalui ulasan, perbandingan produk, live commerce, tutorial, hingga pembelian.
“Kita harus ingat bahwa audiens juga melihat ulasan, melakukan perbandingan, mengikuti live commerce, melihat tutorial, dan itu membuat mereka membeli, mengambil tindakan, atau kembali ke brand kita,” ujar Hana.
Dia juga menyoroti pentingnya transparansi dalam kolaborasi brand dan kreator. Menurut Hana, konsumen semakin terbiasa dengan kerja sama komersial antara brand dan kreator selama kolaborasi tersebut tetap memperhatikan transparansi, kualitas, dan autentisitas.
“Kuncinya adalah transparansi, kualitas, dan autentisitas,” kata dia.
Hana mengatakan, kondisi ekonomi yang lebih ketat juga membuat konsumen semakin selektif dalam membelanjakan uang. Karena itu, brand perlu melihat creator marketing berdasarkan tahapan perjalanan konsumen, bukan hanya mengejar angka awareness.
“Dalam kondisi ekonomi seperti ini, sebenarnya tantangannya bukan hanya bagaimana melakukan lebih banyak creator marketing, tetapi bagaimana melakukannya dengan lebih baik,” ucap dia.
4. IDN perluas ruang kolaborasi brand

Acara Growth Leaders Luncheon yang digelar MediaSense dan IDN di Jakarta, Kamis (24/9/2026). (IDN Times/Lia Hutasoit) Dalam kesempatan yang sama, Founder dan COO IDN, William Utomo, menyampaikan perkembangan bisnis IDN yang membuka sejumlah ruang baru bagi brand untuk berinteraksi dengan konsumen.
William memperkenalkan pengelolaan The Colors, majalah Garuda Indonesia, serta lini venue management IDN yang mencakup sejumlah ruang budaya dan komersial. Menurut dia, pengembangan tersebut dapat menjadi alternatif bagi brand yang ingin membangun kehadiran di ruang dengan karakter audiens tertentu.
“Jika Anda ingin menjangkau konsumen tertentu yang bepergian dengan Garuda Indonesia, melalui The Colors kami akan dengan senang hati membantu Anda menjangkau konsumen tersebut,” ujar William.
Dia juga memperkenalkan pengembangan bisnis event melalui JakCloth yang kini berada dalam ekosistem IDN. Selain itu, William menyampaikan berbagai program Fortune Indonesia, termasuk Fortune 100, Fortune 40 Under 40, Businessperson of the Year, Fortune Investment Forum, serta Fortune Indonesia Change the World.
Menurut William, berbagai lini tersebut menjadi bagian dari ekosistem IDN yang dapat mempertemukan brand dengan audiens melalui media, konten, venue, event, dan komunitas.
“Kami mengundang Anda untuk datang ke ruang-ruang tersebut. Jika Anda merasa bisa mendapatkan manfaat dari kehadiran brand Anda di venue, kami akan dengan senang hati membantu,” kata William.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















