Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Cara Mengatur Ulang Keuangan ketika Baru Punya Anak
ilustrasi menghitung pengeluaran (freepik.com/wirestock)
  • Terima perubahan pola hidup dan pengeluaran setelah punya anak agar lebih realistis mengatur keuangan.

  • Catat dan atur ulang anggaran bulanan untuk kebutuhan keluarga, anak, serta tabungan.

  • Bangun dana darurat yang memadai dan mulai tabungan pendidikan sejak dini demi keamanan finansial keluarga.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Punya anak itu rasanya campur aduk karena ada bahagia, terharu, capek, sekaligus deg-degan memikirkan masa depan. Adapun, salah satu hal yang perlu dipikirkan ulang ialah soal keuangan. Banyak pasangan baru sadar bahwa setelah bayi lahir, pengeluaran bertambah secara tiba-tiba. Dari popok, susu, baju, sampai biaya kesehatan, semuanya antre butuh dibayar.

Nah, buat kamu yang baru punya anak, mungkin ini waktunya untuk mengatur ulang keuangan keluarga. Bukan karena panik, tapi karena hidupmu sudah naik level. Yuk, kita bahas cara mengatur ulang keuangan keluarga ketika baru punya anak!

1. Terima fakta bahwa pola hidupmu memang sudah berubah

ilustrasi suami dan istri memegang sepatu bayi (pexels.com/Douglas Mendes)

Sebelum punya anak, mungkin kamu masih bisa jajan kopi tiap sore, belanja impulsif, atau liburan mendadak. Setelah ada bayi, tentu saja prioritas jadi bergeser. Bukan berarti hidupmu jadi tidak seru lagi, hanya saja aliran uangmu sekarang berbeda.

Saat ini, uang bukan hanya untuk kamu dan pasangan, melainkan juga untuk manusia kecil yang sepenuhnya bergantung pada kalian. Jadi, wajar kalau keuangan perlu direset. Dengan menerima fakta ini, harapannya kamu bisa legawa jika saat ini kamu belum bisa menabung atau harus menahan diri untuk beli barang-barang yang kamu inginkan.

2. Catat ulang semua pengeluaran baru

ilustrasi mencatat pengeluaran (vecteezy.com/thodsapol thongdeekhieo)

Coba duduk sebentar, lalu buka buku catatan atau aplikasi catatan di HP. Kemudian, tulis pengeluaran baru yang muncul sejak punya anak. Biaya-biaya yang biasanya sering muncul:

  • popok dan tisu basah;

  • susu, ASI booster, atau MPASI;

  • baju bayi;

  • biaya kontrol dokter serta imunisasi;

  • perlengkapan mandi bayi;

  • mainan; dan

  • buku bacaan.

Selanjutnya, bandingkan dengan pengeluaran lama yang bisa dikurangi:

  • nongkrong yang terlalu sering,

  • belanja barang yang tidak penting, dan

  • Langganan yang jarang dipakai.

Intinya, uangnya bukan hilang, tapi harus pindah pos.

3. Atur ulang anggaran bulanan

ilustrasi membuat anggaran keuangan (pexels.com/Karolina Grabowska)

Dulu, mungkin pembagian uangmu:

  • 50 persen kebutuhan,

  • 30 persen gaya hidup, dan

  • 20 persen tabungan.

Sekarang, mungkin berubah jadi:

  • 50–55 persen kebutuhan keluarga,

  • 20 persen tabungan dan dana darurat,

  • 15 persen kebutuhan anak, serta

  • 10–15 persen gaya hidup.

Namun, angka ini fleksibel, ya, karena tergantung penghasilan dan biaya hidup di rumah. Yang penting ada pos khusus untuk anak dan tabungan masa depan.

4. Bangun dana darurat yang lebih serius

ilustrasi dana darurat (freepik.com/user6702303)

Sebelum punya anak, dana darurat mungkin kamu anggap hanya untuk jaga-jaga kalau motor rusak, butuh berobat ke rumah sakit, atau telat gajian. Namun, setelah ada anak, dana darurat jadi lebih serius. Sekarang, kalau tiba-tiba salah satu orangtua sakit, kehilangan penghasilan, atau anak butuh biaya medis mendadak, efeknya bukan hanya ke kamu, tapi ke seluruh keluarga. Jadi, dana darurat itu bukan lagi opsional, tapi wajib.

Idealnya, dana darurat untuk keluarga yang punya anak itu 6–12 bulan biaya hidup. Ini bukan karena kamu pesimis, melainkan karena kamu realistis. Hidup bisa berubah kapan saja. Anak tetap harus makan, minum susu, serta dirawat meski kondisinya sedang tidak ideal. Kalau angka itu terasa besar, kamu bisa sisihkan sedikit demi sedikit, tapi rutin setiap bulan.

5. Mulai tabungan pendidikan sejak dini

ilustrasi menabung (pexels.com/Dany Kurniawan)

Jangan tunda-tunda punya tabungan pendidikan hanya karena anak masih kecil. Justru karena anak masih bayi, artinya kamu punya waktu lebih panjang untuk menabung sedikit demi sedikit. Kalau tabungan pendidikan terus ditunda, bisa-bisa kamu keberatan saat anak harus masuk sekolah nanti.

Tidak perlu langsung memikirkan universitas mahal. Sebagai contoh, kamu bisa mulai punya tabungan pendidikan khusus atau berinvestasi lewat reksa dana. Yang penting, uang pendidikan dipisah dari uang belanja sehari-hari.

Mengatur ulang keuangan ketika baru punya anak itu bukan soal jadi superirit, tapi soal lebih sadar ke mana uangmu mengalir. Sekarang, setiap rupiah punya arti baru karena untuk tumbuh kembang anak dan untuk ketenangan keluarga. Keuangan tidak harus langsung sempurna, jadi pelan-pelan saja. Yang penting mulai dulu, nanti juga kamu menemukan ritmenya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎