Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
4 Cara Menyusun Anggaran Khusus Ramadan agar Keuangan Tetap Aman
ilustrasi membuat anggaran keuangan (pexels.com/Karolina Grabowska)
  • Menyusun anggaran Ramadan membantu menjaga keuangan tetap stabil meski pengeluaran meningkat.

  • Langkah pentingnya meliputi menghitung pemasukan, memisahkan kebutuhan Ramadan dan kebutuhan rutin, serta menentukan pos pengeluaran utama.

  • Selain itu, manfaatkan promo dengan bijak agar pengeluaran tidak melebihi anggaran.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ramadan menjadi bulan yang istimewa bagi umat Islam. Namun, kalau tidak hati-hati, bulan ini juga bisa jadi momen ketika pengeluaran melonjak cukup drastis. Ada pengeluaran untuk belanja bahan makanan sahur dan buka puasa, membeli takjil, berburu promo baju Lebaran, sampai menyiapkan THR untuk keluarga.

Tanpa perencanaan yang jelas, uang bisa habis sebelum Ramadan berakhir. Karena itu, menyusun anggaran khusus Ramadan menjadi langkah penting agar keuangan tetap stabil sampai setelah Lebaran. Nah, berikut beberapa cara menyusun anggaran Ramadan yang bisa kamu coba.

1. Hitung dulu seluruh pemasukan

ilustrasi pembayaran gaji (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Langkah pertama tentu saja mengetahui berapa uang yang bisa digunakan selama Ramadan. Ini bisa berasal dari gaji bulanan, bonus, THR, atau penghasilan tambahan. Setelah tahu jumlahnya, jangan langsung merasa uang tersebut bebas dipakai. Justru di sinilah pentingnya membagi dana ke beberapa pos pengeluaran.

Kalau misalnya punya pemasukan Rp6 juta untuk bulan Ramadan, kamu bisa mulai memperkirakan berapa yang akan dipakai untuk kebutuhan harian, sedekah, hingga persiapan Lebaran. Dengan begitu, kamu punya gambaran yang lebih jelas tentang batas pengeluaran. Jadi, tidak ada drama bingung uang habis entah ke mana.

2. Pisahkan kebutuhan Ramadan dan kebutuhan biasa

ilustrasi membuat daftar kebutuhan (freepik.com/freepik)

Banyak orang tidak sadar bahwa pengeluaran Ramadan sering bercampur dengan pengeluaran rutin bulanan. Akibatnya, kita tidak tahu mana yang benar-benar kebutuhan tambahan. Coba buat dua kategori sederhana, yakni kebutuhan bulanan biasa (listrik, internet, transportasi, dll.) serta kebutuhan khusus Ramadan.

Contoh kebutuhan khusus Ramadan:

  • bahan makanan tambahan untuk sahur dan buka,

  • takjil,

  • sedekah atau zakat,

  • buka puasa bersama, dan

  • persiapan Lebaran.

Dengan memisahkan dua kategori ini, kamu bisa melihat dengan lebih jelas ke mana uangmu sebenarnya mengalir.

3. Tentukan pos pengeluaran utama

ilustrasi menyusun skala prioritas (freepik.com/wayhomestudio)

Agar anggaran lebih terarah, bagi uangmu ke beberapa pos utama. Sebagai contoh:

  • Kebutuhan makan sahur dan buka
    Ini biasanya jadi pengeluaran terbesar selama Ramadan. Kalau sering membeli takjil atau makanan di luar, jumlahnya bisa cepat membengkak.

  • Sedekah dan zakat
    Ramadan identik dengan memperbanyak amal. Karena itu, ada baiknya kamu sudah menyiapkan dana khusus untuk zakat dan sedekah sejak awal.

  • Buka puasa bersama
    Agenda bukber sering muncul di mana-mana, mulai dari teman sekolah, kantor, komunitas, dan keluarga. Kalau tidak dibatasi, pengeluaran untuk bukber bisa cukup besar.

  • Persiapan Lebaran
    Mulai dari baju baru, hamper, sampai THR untuk keponakan biasanya sudah dipikirkan sejak Ramadan. Dengan menentukan pos ini dari awal, kamu bisa mengontrol pengeluaran dengan lebih mudah.

  • Buat batas maksimal untuk pengeluaran kecil
    Kadang, pengeluaran kecil justru yang paling sering bikin anggaran jebol, seperti membeli takjil setiap hari atau belanja makanan karena lapar saat menjelang buka puasa. Sebagai contoh, kamu bisa menetapkan anggaran takjil maksimal Rp20 ribu sehari atau menghadiri acara buka bersama maksimal tiga kali selama Ramadan.

4. Manfaatkan promo dengan bijak

ilustrasi berbelanja (pexels.com/Gustavo Fring)

Ramadan biasanya dipenuhi diskon dari berbagai toko dan aplikasi belanja. Diskon memang menggoda, tapi bukan berarti semua harus dibeli. Sebelum membeli sesuatu, coba tanya ke diri sendiri:

Apakah ini benar-benar dibutuhkan?

Apakah sudah ada anggarannya?

Kalau jawabannya tidak, mungkin lebih baik ditunda dulu. Diskon seharusnya membantu kita menghemat uang. Jangan sampai godaan diskon malah membuat pengeluaran bertambah.

Menyusun anggaran khusus Ramadan sebenarnya bukan soal membatasi diri secara berlebihan. Tujuannya justru agar kita bisa menikmati Ramadan dengan lebih tenang tanpa khawatir soal keuangan. Dengan perencanaan yang sederhana, pengeluaran bisa lebih terkontrol, kebutuhan terpenuhi, dan kita tetap punya ruang untuk berbagi dengan orang lain. Pada akhirnya, Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tapi juga tentang mengelola diri dengan lebih bijak, termasuk dalam hal keuangan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎