Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Emas Melemah saat Minyak Melonjak, Apa Penyebabnya?
ilustrasi emas (pexels.com/Michael Steinberg)
  • Pada 22 Oktober 2026, emas dunia melemah saat Brent melampaui US$110 per barel, karena lonjakan energi memicu kekhawatiran inflasi di tengah ketegangan Timur Tengah.
  • Inflasi yang sulit turun memperkuat ekspektasi suku bunga AS tinggi lebih lama; kondisi ini mengalihkan minat investor ke deposito atau obligasi yang menawarkan imbal hasil.
  • Dolar AS yang menguat dan imbal hasil Treasury meningkat membuat emas lebih mahal bagi pembeli global serta kurang menarik, sehingga status safe haven tidak menjamin harganya naik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Emas selama ini dikenal sebagai aset safe haven yang sering diburu ketika konflik geopolitik memicu ketidakpastian pasar. Namun, pergerakan harga emas tidak selalu mengikuti kekhawatiran investor karena ada faktor ekonomi lain yang ikut memengaruhi permintaan terhadap logam mulia tersebut. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah hubungan antara harga energi, inflasi, dan kebijakan suku bunga.

Pada Kamis, 22 Oktober 2026, harga emas dunia kembali melemah ketika minyak mentah Brent bergerak di atas 110 dolar Amerika Serikat (AS) per barel. Kenaikan harga energi memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama. Lantas, mengapa harga minyak yang melonjak justru dapat menekan emas?

1. Minyak mahal memicu kekhawatiran inflasi

ilustrasi kapal tanker minyak (pexels.com/Zifeng Xiong)

Harga minyak yang meningkat dapat mendorong biaya transportasi, produksi, dan distribusi barang. Ketika perusahaan menghadapi biaya operasional yang lebih tinggi, sebagian kenaikan tersebut dapat diteruskan kepada konsumen melalui harga barang dan jasa. Kondisi ini membuat pasar khawatir inflasi akan bertahan lebih lama dari perkiraan.

Kekhawatiran tersebut semakin besar ketika kenaikan harga minyak dipicu oleh gangguan pasokan akibat konflik geopolitik. Pada 22 Oktober 2026, harga Brent berada di atas 110 dolar AS per barel di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Situasi ini membuat investor tidak hanya memperhatikan risiko perang, tetapi juga dampaknya terhadap inflasi dan kebijakan moneter.

2. Suku bunga tinggi membuat emas kurang menarik

ilustrasi suku bunga (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Emas memiliki karakteristik berbeda dari deposito atau obligasi karena tidak memberikan bunga secara langsung. Ketika suku bunga meningkat, investor memiliki lebih banyak alasan untuk mempertimbangkan instrumen yang menawarkan imbal hasil. Akibatnya, sebagian dana dapat berpindah dari emas menuju aset berbunga.

Kenaikan harga minyak dapat memperumit prospek kebijakan bank sentral seperti Federal Reserve (The Fed). Jika inflasi sulit turun, bank sentral mungkin mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau mempertimbangkan pengetatan kebijakan. Ekspektasi tersebut dapat menekan harga emas karena investor harus memperhitungkan biaya peluang ketika menyimpan aset yang tidak menghasilkan bunga.

3. Dolar AS dan imbal hasil obligasi ikut menekan emas

ilustrasi uang dolar (magnific.com/magnific)

Harga emas dunia umumnya diperdagangkan menggunakan dolar AS sehingga pergerakan mata uang tersebut turut memengaruhi permintaan global. Ketika dolar menguat, emas menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Kondisi ini dapat mengurangi minat beli dan menambah tekanan terhadap harga logam mulia.

Selain dolar, investor juga memantau imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury yield. Ketika imbal hasil obligasi meningkat, instrumen tersebut dapat terlihat lebih menarik dibandingkan emas yang tidak menghasilkan pendapatan berkala. Kombinasi dolar yang kuat dan imbal hasil yang meningkat karena itu dapat membuat harga emas melemah meskipun risiko geopolitik sedang tinggi.

4. Status safe haven tidak menjamin harga emas selalu naik

ilustrasi emas (pexels.com/Pixabay)

Emas kerap menjadi pilihan ketika investor ingin melindungi nilai aset dari ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. Namun, keputusan investasi tidak hanya bergantung pada tingkat risiko global, melainkan juga pada kebutuhan likuiditas, arah suku bunga, pergerakan dolar, dan ekspektasi pasar. Karena itu, kenaikan permintaan terhadap aset aman tidak otomatis membuat harga emas naik setiap saat.

Emas juga dapat mengalami tekanan ketika investor memilih menjual aset untuk menutup kerugian atau memenuhi kebutuhan likuiditas di pasar lain. Dalam situasi pasar yang bergejolak, keputusan tersebut bisa terjadi meskipun risiko geopolitik masih tinggi. Pergerakan ini menunjukkan bahwa harga emas turut dipengaruhi oleh strategi investor dan kondisi pasar secara keseluruhan, bukan hanya permintaan terhadap aset pelindung nilai.

Pergerakan harga pada Oktober 2026 menunjukkan bahwa beberapa faktor dapat bekerja secara bersamaan dengan arah yang berlawanan. Ketegangan geopolitik dapat meningkatkan daya tarik emas, tetapi lonjakan harga energi juga berpotensi memperkuat inflasi dan ekspektasi suku bunga tinggi. Investor perlu melihat pergerakan suku bunga, dolar AS, dan harga energi sebelum mengambil keputusan, sebab konflik geopolitik tidak selalu membuat harga emas naik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article