Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Harus Kembalikan Dana SAL Rp38 Triliun, BTN Siap?
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu. (IDN Times/Vadhia Lidyana)
  • Kemenkeu mulai menarik dana SAL Rp38 triliun dari BTN secara bertahap setelah koordinasi dengan Menteri Keuangan untuk menjaga stabilitas likuiditas perbankan.
  • Penempatan dana SAL sebelumnya berhasil mendongkrak pertumbuhan kredit BTN sebesar 6 persen pada 2025, terutama di sektor perumahan dan komersial.
  • Hingga semester I-2026, penyaluran kredit BTN naik 11,2 persen menjadi Rp418,11 triliun, namun diperkirakan melandai di paruh kedua akibat suku bunga tinggi dan permintaan menurun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mulai melakukan penarikan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) dari Himpunan Bank-Bank Negara (Himbara) secara bertahap.

Secara total, pemerintah sudah menempatkan dana SAL Rp400 triliun di Himbara. Adapun untuk PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN, posisi terakhir dana SAL yang masih ditempatkan di bank tersebut ialah Rp38 triliun.

Dalam konferensi pers paparan kinerja BTN per semester I-2026, Kamis (16/7/2026), Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu mengatakan, BTN menggunakan seluruh dana SAL untuk mendongkrak penyaluran kredit.

“Kita menggunakan sesuai dengan arahan awal bahwa ini itu membantu pertumbuhan kredit. Per segmennya kita ada, cuma enggak bawa datanya ya. Berapa konsumer, berapa komersial, berapa dan sebagainya ada. Berapa jadi KPR, berapa jadi komersial, konstruksi dan sebagainya itu semua ada. Untuk BUMN juga ada. Agak banyak BUMN sih, seperti Bulog dan sebagainya,” kata Nixon di Menara BTN 2, Jakarta.

1. Bakal dikembalikan secara bertahap

ilustrasi rupiah (unsplash.com/Mufid Majnun)

Nixon mengatakan, pihaknya sempat mengembalikan dana SAL setelah diminta oleh negara. Namun, kala itu terjadi pengetatan likuiditas di pasar, yang memicu perbankan menaikkan bunga deposito.

“Kemarin jadi enggak sedikit mulus karena memang ada persaingan perbutan likuiditas di market, itu yang terjadi, dan akhirnya memicu bank-bank mengeluarkan suku bunga deposito itu semacam berlomba-lomba ke atas,” ucap Nixon.

Namun, Nixon mengatakan Himbara telah berkoordinasi dengan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa agar proses pengembaliannya diatur dengan baik. Masukan itu pun didengar, dan pengembalian dana SAL kini dilakukan secara bertahap.

“Kita cuma minta memperhatikan timing yang pas. Kemarin kan agak sedikit masalah. Karena BI ratenaik, SRBI naik, likuiditas ketat, terus duit harus kembali. Itu sebenarnya terjadi crossing, berebut akhirnya. Cuma ini kan sudah berhasil diatasi, kita semua menghadap Pak Menteri Keuangan, dipanggil DPR. Dan kita jelasin bahwa situasi ini bisa dicegah kalau ada koordinasi yang baik, terutama timingpenarikannya,” tutur Nixon.

Untuk September 2026 mendatang, dia meyakini perusahaan siap mengembalikan dana SAL ke negara.

“Kita sudah siapkan semua,” kata Nixon.

2. Penempatan dana SAL dongkrak pertumbuhan kredit BTN sebesar 6 persen

Menara BTN. (dok. BTN)

Nixon mengatakan, penempatan dana SAL membuat perusahaan bisa menggenjot penyaluran kredit. Pada 2025, suntikan dana dari Purbaya itu berhasil mendongkrak pertumbuhan kredit sebesar 6 persen.

“SAL itu membuat tahun lalu Juni tumbuh kredit 6 persen, 2025 sampai Juni,” ucap Nixon.

3. Penyaluran kredit di semester II-2026 bakal melandai

Layanan perbankan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN). (dok. BTN)

Hingga semester I-2026, BTN mencatatkan penyaluran kredit dan pembiayaan konsolidasi sebesar Rp418,11 triliun, meningkat 11,2 persen (yoy) dari Rp376,11 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut ditopang kenaikan di sektor kredit perumahan sebesar 4,8 persen (yoy) dari 317,77 triliun menjadi Rp332,88 triliun per Juni 2026, dan lonjakan kredit non-perumahan sebesar 46,1 persen (yoy) dari Rp58,34 triliun pada Juni 2025, menjadi Rp85,22 triliun di Juni 2026.

Kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi masih menjadi mesin pendorong kredit perumahan dengan kenaikan sebesar 8,1 persen (yoy) dari Rp182,17 triliun menjadi Rp196,96 triliun per Juni 2026.

Selain itu, Kredit Program Perumahan (KPP) yang disalurkan BTN juga tercatat mencapai Rp4,1 triliun per Juni 2026, sejak dirilis pada akhir Oktober 2025.

Untuk sepanjang tahun, BTN memproyeksikan pertumbuhan kredit di sekitar 8-10 persen.

Nixon memprediksi, pertumbuhan kredit di enam bulan terakhir 2026 akan melandai, mengingat suku bunga acuan BI masih tinggi, yakni 5,75 persen. Kemudian, ada faktor penurunan permintaan, dan juga ketersediaan hunian untuk kredit perumahan.

“Ini melandai cenderung turun sebenarnya, terutama yang nonsubsidi ya,” tutur Nixon.

Untuk memastikan kinerja penyaluran kredit terjaga, pihaknya secara agresif mencari pertumbuhan dengan memanfaatkan secondary market.

“Jadi pasar second maksudnya gini, dia beli rumah bekas, secondary, atau dia memrenovasi rumahnya, itu juga kita anggap pasar second, pasar kedua lah, secondary market. Yang ketiga misalnya dia memperluas, ada tanah di belakang, dia perluas, atau beli rumah sebelahnya supaya lebih luas,” ucap Nixon.

Dia juga mencoba menjaga penyaluran kredit dengan menjalin kolaborasi dengan platform digital properti terpadu.

“Nah kita juga lagi masuk ke pasar secondary bersama dengan penyedia digital yaitu Pinhome maupun Rumah123. Kita akan agresif kerja sama ini. Dan bisnis prosesnya, kita buat SLA-nya lebih cepat,” ujar Nixon.

Curated For You

Editorial Team

Related Article