ilustrasi Bitcoin (unsplash.com/Amjith S)
Bitcoin tidak memiliki hubungan langsung dengan harga minyak seperti perusahaan yang membutuhkan bahan bakar untuk menjalankan bisnisnya. Pengaruh minyak terhadap Bitcoin lebih banyak terjadi melalui perubahan kondisi ekonomi dan perilaku investor. Ketika minyak mahal meningkatkan kekhawatiran inflasi, yield obligasi, dan ketidakpastian pasar, investor dapat mulai mengurangi kepemilikan aset yang dianggap lebih berisiko.
Dalam kondisi tersebut, Bitcoin dapat ikut mengalami tekanan bersama saham teknologi dan aset berisiko lainnya. Bitcoin sempat bergerak di bawah 77 ribu dolar AS ketika pasar saham AS melemah setelah harga minyak dan yield Treasury meningkat. Namun, kenaikan harga minyak tidak selalu membuat Bitcoin turun karena pergerakannya juga dipengaruhi likuiditas, arus dana, sentimen pasar, dan berbagai faktor khusus dari pasar kripto.
Harga minyak yang tinggi dapat memberikan tekanan kepada pasar melalui beberapa hal yang saling berkaitan. Biaya perusahaan dapat meningkat, inflasi dapat kembali terdorong, yield obligasi bisa naik, dan investor dapat menjadi lebih berhati-hati terhadap aset berisiko. Karena itu, pergerakan harga minyak menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan ketika kita ingin memahami tekanan terhadap saham dan Bitcoin.