Sering Boros? Kondisi Mental dan Pola Asuh Bisa Jadi Pemicunya, Lho!

- Pola asuh sejak kecil memengaruhi kebiasaan belanja dan pengelolaan uang dewasa.
- Kondisi mental dan kesehatan psikologis dapat mempengaruhi keputusan finansial seseorang.
- Belanja seringkali bukan hanya soal barang, tapi juga tentang mencari rasa senang dan pelarian dari stres.
Kamu pernah bertanya-tanya kenapa susah banget menahan diri saat lihat diskon atau promo? Padahal niat awal cuma “lihat-lihat”, tapi ujungnya tetap keluar uang.
Kebiasaan boros sering kali dianggap sekadar kurang disiplin atau gak bisa ngatur uang. Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks dari itu, lho.
Cara kamu memperlakukan uang bisa dipengaruhi oleh kondisi mental, pengalaman hidup, sampai pola asuh sejak kecil. Nah, lewat artikel ini, kamu akan melihat bahwa kebiasaan boros bisa punya akar yang lebih dalam dari yang kamu kira.
1. Pola asuh sejak kecil

Cara orangtua mengenalkan uang ke kamu sejak kecil punya dampak besar sampai dewasa. Kalau kamu tumbuh di lingkungan yang serba dibatasi secara finansial, ada kemungkinan kamu jadi ingin “balas dendam” dengan belanja saat sudah punya uang sendiri. Tanpa sadar, belanja jadi cara untuk merasakan kebebasan yang dulu tidak kamu dapatkan. Pola ini sering muncul sebagai kebiasaan impulsif yang sulit dikontrol.
Di sisi lain, pola asuh yang terlalu longgar juga bisa memicu kebiasaan boros. Jika sejak kecil kamu terbiasa dituruti tanpa penjelasan soal batasan uang, konsep prioritas finansial jadi kabur. Kamu bisa terbiasa membeli sesuatu hanya karena ingin, bukan karena butuh. Akhirnya, kebiasaan ini terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara kamu mengelola gaji.
2. Kondisi mental dan kesehatan psikologis

Kondisi mental sangat berpengaruh pada cara kamu mengambil keputusan finansial. Saat kamu sedang cemas atau tertekan, otak cenderung mencari jalan pintas untuk merasa aman. Dalam konteks uang, ini bisa muncul dalam bentuk belanja cepat tanpa banyak pertimbangan. Kamu mungkin memilih opsi yang lebih mahal hanya untuk menghindari rasa gak nyaman.
Menurut pandangan Ellyce Fulmore, financial educator dan penulis, orang dengan tantangan fungsi eksekutif sering kesulitan mengikuti anggaran. Masalahnya bukan pada niat, tapi pada kemampuan merencanakan dan menunda kepuasan. Jadi, kebiasaan boros bisa jadi sinyal bahwa ada isu mental yang perlu dipahami lebih dulu. Dengan mengenali akar ini, kamu bisa lebih bijak menyusun strategi keuangan.
3. Dorongan mencari rasa senang

Belanja sering kali bukan soal barang, tapi soal perasaan. Saat kamu merasa senang karena membeli sesuatu, tubuh melepaskan dopamin yang memberi efek puas sementara. Beberapa orang secara alami lebih sensitif terhadap dorongan ini. Akibatnya, belanja jadi alat untuk memperbaiki mood, bukan sekadar memenuhi kebutuhan.
Menurut Fulmore, orang yang cenderung mengejar dopamin lebih rentan melakukan pengeluaran impulsif. Tanpa disadari, kamu bisa menjadikan belanja sebagai pelarian dari rasa bosan atau stres. Masalahnya, efek senang ini cepat hilang dan sering digantikan rasa bersalah. Pola ini bisa berulang kalau kamu gak sadar apa yang sebenarnya sedang kamu cari.
4. Urutan kelahiran dalam keluarga

Urutan kelahiran juga bisa memengaruhi cara kamu melihat uang. Anak sulung biasanya tumbuh dengan rasa tanggung jawab yang tinggi. Mereka cenderung lebih berhati-hati, tapi bisa juga stres dan akhirnya melampiaskan tekanan lewat belanja. Uang dipakai sebagai bentuk self-reward setelah merasa “menjadi yang paling bertanggung jawab”.
Sementara itu, anak bungsu sering tumbuh dengan lebih banyak toleransi dari lingkungan. Jika kamu terbiasa dibantu atau diselamatkan, rasa urgensi mengatur uang bisa jadi lebih rendah. Hal ini bukan salah siapa-siapa, tapi efek dari dinamika keluarga. Memahami peran ini bisa membantumu mengubah kebiasaan belanja secara perlahan.
5. Pengalaman hidup dan paparan sehari-hari

Pengalaman kecil yang terlihat sepele ternyata bisa membentuk kebiasaan finansial kamu, lho. Contohnya, kebiasaan orangtua yang selalu menunggu diskon bisa tertanam kuat di pikiran. Atau sebaliknya, kamu terbiasa membeli sesuatu tanpa mempertimbangkan harga karena itu yang sering kamu lihat. Semua pengalaman ini tersimpan dan memengaruhi keputusan spontan.
Fulmore menjelaskan bahwa otak membuat keputusan berdasarkan akumulasi pengalaman hidup. Saat kamu memilih sesuatu di toko, banyak faktor lama yang ikut bermain. Bahkan film, iklan, dan media sosial bisa membentuk standar gaya hidup tertentu. Tanpa sadar, kamu berusaha menyesuaikan diri lewat belanja.
Kebiasaan boros gak selalu disebabkan kurang niat atau malas mengatur uang. Bisa jadi, ada pengaruh mental, pengalaman, dan pola asuh yang membentuk “cerita uang” kamu sejak lama. Dengan menyadari hal-hal ini, kamu punya kesempatan lebih besar untuk berubah tanpa menyalahkan diri sendiri.
Coba tarik napas, refleksi, dan pahami dulu apa yang sebenarnya mendorong kebiasaan belanja kamu. Dari sana, strategi keuangan yang kamu buat akan terasa lebih realistis dan manusiawi.


















