Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Alasan Produk Pre-Order Lebih Menguntungkan daripada Ready Stock

5 Alasan Produk Pre-Order Lebih Menguntungkan daripada Ready Stock
ilustrasi produk baju (pexels.com/Arina Krasnikova)
Intinya Sih
  • Sistem pre-order dinilai lebih efisien karena modal awal bisa ditekan, produksi dilakukan sesuai pesanan, dan risiko penumpukan stok di gudang dapat diminimalkan.
  • Model ini membantu pelaku usaha menghindari kerugian akibat stok mati serta memungkinkan penyesuaian cepat terhadap tren pasar yang terus berubah.
  • Pre-order juga membuka peluang margin keuntungan lebih optimal sekaligus membangun eksklusivitas dan loyalitas pelanggan melalui interaksi yang lebih personal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Dalam dunia bisnis modern, model penjualan terus berkembang mengikuti pola perilaku konsumen. Salah satu strategi yang semakin populer adalah sistem pre-order, yang menawarkan produk berdasarkan pesanan terlebih dahulu sebelum barang tersedia secara fisik. Model ini sering dibandingkan dengan sistem ready stock yang lebih konvensional dan langsung tersedia di gudang.

Banyak pelaku usaha mulai melirik pre-order karena dinilai lebih efisien dan minim risiko. Meski terlihat lebih lama dalam proses pengiriman, sistem ini justru menyimpan potensi keuntungan yang menarik jika dikelola dengan strategi yang tepat. Memahami perbedaannya secara mendalam membantu pelaku bisnis menyusun langkah yang lebih rasional dan terukur. Yuk, pahami alasan kenapa sistem pre-order bisa jadi pilihan yang lebih menguntungkan!

1. Modal awal yang lebih efisien dan terkontrol

ilustrasi rencana keuangan
ilustrasi rencana keuangan (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Sistem pre-order memungkinkan pelaku usaha mengumpulkan pesanan terlebih dahulu sebelum memproduksi atau membeli barang. Pola ini membuat kebutuhan modal awal jauh lebih ringan karena produksi dilakukan sesuai jumlah permintaan. Risiko penumpukan barang di gudang pun bisa ditekan secara signifikan.

Berbeda dengan ready stock yang mengharuskan stok tersedia sejak awal, sehingga dana besar sudah tertanam sebelum ada kepastian penjualan. Jika barang tidak cepat terjual, arus kas bisa terganggu dan modal tertahan terlalu lama. Dengan pre-order, perputaran dana terasa lebih sehat dan fleksibel dalam pengelolaan bisnis.

2. Risiko kerugian stok mati lebih rendah

ilustrasi mengatur stok barang (pexels.com/cottonbro studio)
ilustrasi mengatur stok barang (pexels.com/cottonbro studio)

Salah satu tantangan dalam sistem ready stock adalah risiko stok mati. Produk yang tidak laku dalam waktu lama berpotensi mengalami penurunan nilai, rusak, atau bahkan tidak relevan lagi dengan tren pasar. Kondisi ini tentu berdampak pada margin keuntungan.

Model pre-order mengurangi risiko tersebut karena produksi atau pembelian dilakukan setelah ada kepastian pesanan. Barang yang dibuat sudah memiliki pembeli, sehingga kemungkinan kerugian akibat barang tidak terjual jauh lebih kecil. Strategi ini membuat manajemen inventaris terasa lebih aman dan terukur.

3. Fleksibilitas dalam mengikuti tren pasar

ilustrasi bisnis kuliner
ilustrasi bisnis kuliner (pexels.com/Faheem Ahamad)

Pasar bergerak cepat dan selera konsumen sering berubah dalam waktu singkat. Sistem pre-order memberi ruang lebih luas untuk menyesuaikan produk dengan tren terkini tanpa terikat stok lama. Pelaku usaha bisa merespons permintaan pasar dengan lebih adaptif.

Sebaliknya, sistem ready stock sering terjebak pada produk yang sudah diproduksi dalam jumlah besar. Jika tren berubah, stok lama bisa menjadi beban yang sulit dilepas. Dengan pre-order, strategi bisnis terasa lebih dinamis dan responsif terhadap perubahan pasar.

4. Potensi margin keuntungan yang lebih optimal

ilustrasi menghitung keuangan
ilustrasi menghitung keuangan (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Dalam sistem pre-order, pelaku usaha bisa menghitung biaya produksi secara lebih presisi berdasarkan jumlah pesanan yang masuk. Perencanaan ini membantu menentukan harga jual dengan margin yang lebih terkontrol. Efisiensi produksi dalam jumlah pasti juga membantu menekan biaya yang tidak perlu.

Pada sistem ready stock, biaya penyimpanan, distribusi, dan risiko kerusakan bisa memengaruhi margin keuntungan. Semua komponen ini sering luput dari perhitungan awal. Dengan model pre-order, struktur biaya terasa lebih ramping dan transparan.

5. Membangun eksklusivitas dan loyalitas pelanggan

ilustrasi melayani pelanggan
ilustrasi melayani pelanggan (unsplash.com/Cova Software)

Produk pre-order sering memberi kesan eksklusif karena tidak selalu tersedia setiap saat. Konsumen merasa menjadi bagian dari kelompok tertentu yang mendapatkan akses lebih awal terhadap produk. Faktor psikologis ini meningkatkan daya tarik sekaligus nilai persepsi produk.

Selain itu, sistem ini mendorong interaksi lebih intens antara penjual dan pembeli selama proses pemesanan. Komunikasi yang terjaga dengan baik membantu membangun kepercayaan dan loyalitas jangka panjang. Hubungan yang kuat dengan pelanggan menjadi aset penting dalam keberlanjutan bisnis.

Model pre-order dan ready stock sama-sama punya tempat dalam strategi bisnis modern. Namun, dari sisi efisiensi modal, risiko stok, fleksibilitas tren, margin keuntungan, hingga loyalitas pelanggan, sistem pre-order menawarkan sejumlah keunggulan yang signifikan. Memilih model yang tepat bukan sekadar mengikuti tren, tetapi menyesuaikan dengan kapasitas dan tujuan bisnis. Strategi yang tepat sejak awal membantu bisnis tumbuh lebih stabil dan berkelanjutan dalam jangka panjang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Agsa Tian
EditorAgsa Tian
Follow Us

Latest in Business

See More