Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Tips Menghindari Gaya Hidup Overbudget akibat FOMO saat Ramadan

5 Tips Menghindari Gaya Hidup Overbudget akibat FOMO saat Ramadan
ilustrasi pria belanja (pexels.com/Erik Mclean)
Intinya Sih
  • Ramadan sering memicu perilaku konsumtif akibat FOMO dari media sosial dan tren, membuat banyak orang sulit mengendalikan pengeluaran.
  • Artikel menekankan pentingnya membedakan kebutuhan dan keinginan, menetapkan anggaran khusus, serta mengurangi paparan konten konsumtif.
  • Fokus pada makna kebersamaan, pengalaman sederhana, dan kesiapan dana darurat menjadi kunci menjaga stabilitas finansial selama Ramadan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Ramadan sering identik dengan suasana hangat, kebersamaan, dan momen refleksi diri. Namun di sisi lain, bulan ini juga kerap dipenuhi godaan konsumtif yang datang dari berbagai arah, mulai dari promo flash sale, tren outfit lebaran, sampai ajakan buka puasa di kafe yang lagi viral. Tanpa sadar, pengeluaran bisa melonjak jauh dari rencana awal hanya karena dorongan ingin ikut tren.

Fenomena fear of missing out atau FOMO makin terasa kuat ketika media sosial dipenuhi konten bukber, hampers, dan dekorasi rumah bernuansa Ramadan. Rasa takut ketinggalan momen sering menggeser prioritas keuangan yang seharusnya lebih terkontrol. Padahal, esensi Ramadan justru tentang pengendalian diri, termasuk dalam hal finansial. Yuk, kelola pengeluaran dengan lebih bijak supaya Ramadan tetap khusyuk tanpa drama keuangan!

1. Bedakan kebutuhan dan keinginan secara sadar

ilustrasi pria berpikir
ilustrasi pria berpikir (pexels.com/olia danilevich)

Ramadan sering menghadirkan banyak keinginan yang terlihat seperti kebutuhan. Diskon besar untuk limited edition outfit atau hampers estetik kadang terasa mendesak untuk dimiliki. Padahal, kalau ditelaah lebih dalam, banyak di antaranya hanya dorongan sesaat.

Membedakan kebutuhan dan keinginan perlu kesadaran penuh, bukan sekadar ikut arus promosi. Kebutuhan bersifat esensial dan menunjang aktivitas utama, sementara keinginan lebih terkait gaya hidup. Dengan memilah secara jernih, pengeluaran bisa tetap terkendali tanpa rasa penyesalan di akhir bulan.

2. Tetapkan anggaran khusus Ramadan sejak awal

ilustrasi mengatur keuangan
ilustrasi mengatur keuangan (pexels.com/Karolina Grabowska www.kaboompics.com)

Ramadan punya pola pengeluaran yang berbeda dari bulan biasa. Ada tambahan biaya untuk buka puasa bersama, sedekah, hingga persiapan Idulfitri. Tanpa anggaran khusus, dana rutin bisa tergerus tanpa arah yang jelas.

Menentukan batas anggaran sejak awal membantu menjaga ritme pengeluaran tetap stabil. Setiap rencana belanja atau agenda sosial bisa disesuaikan dengan batas tersebut. Cara ini membuat pengeluaran lebih terukur dan gak mudah terpengaruh euforia sesaat.

3. Kurangi paparan konten konsumtif di media sosial

ilustrasi aktif media sosial
ilustrasi aktif media sosial (pexels.com/cottonbro studio)

Media sosial sering menjadi sumber utama dorongan FOMO. Konten buka puasa mewah, hampers elegan, atau dekorasi rumah ala minimalist aesthetic mudah memicu perbandingan sosial. Tanpa disadari, hal ini bisa memengaruhi keputusan belanja.

Mengurangi paparan konten konsumtif membantu menjaga fokus pada prioritas pribadi. Mengatur waktu penggunaan media sosial atau menyaring akun yang diikuti bisa menjadi langkah sederhana. Dengan begitu, keputusan finansial lebih rasional dan gak didorong tekanan sosial.

4. Fokus pada pengalaman, bukan gengsi

ilustrasi makan malam keluarga
ilustrasi makan malam keluarga (pexels.com/cottonbro studio)

Ramadan sejatinya tentang kebersamaan dan refleksi, bukan soal tampil paling mewah. Bukber sederhana di rumah sering lebih bermakna dibanding pertemuan di tempat yang sedang trending. Nilai kebersamaan jauh lebih penting daripada sekadar dokumentasi untuk feed.

Mengalihkan fokus dari gengsi ke pengalaman membuat pengeluaran lebih proporsional. Kebahagiaan gak selalu datang dari harga yang mahal, tapi dari kualitas interaksi. Pola pikir ini membantu menjaga stabilitas keuangan sekaligus memperdalam makna Ramadan.

5. Siapkan dana darurat agar tetap aman

ilustrasi menabung
ilustrasi menabung (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Pengeluaran tak terduga bisa saja muncul selama Ramadan. Tanpa dana cadangan, kondisi ini bisa memicu penggunaan dana lain yang seharusnya dialokasikan untuk kebutuhan penting. Situasi seperti ini sering menjadi awal dari kondisi overbudget.

Memiliki dana darurat memberi rasa aman dan ruang bernapas lebih lega. Jika ada kebutuhan mendadak, kondisi finansial tetap stabil tanpa mengganggu anggaran utama. Langkah ini membantu menjalani Ramadan dengan tenang tanpa tekanan keuangan tambahan.

Ramadan adalah momen pengendalian diri, termasuk dalam urusan finansial. Menghindari gaya hidup overbudget akibat FOMO bukan berarti mengurangi kebahagiaan, melainkan menjaga keseimbangan. Dengan strategi yang tepat, pengeluaran tetap terkendali tanpa kehilangan makna kebersamaan. Ramadan yang bijak secara finansial akan terasa lebih ringan dan penuh ketenangan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Agsa Tian
EditorAgsa Tian
Follow Us

Latest in Business

See More