Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mau Jadi Day Trader? Pahami Dulu Strategi dan Risikonya
ilustrasi trading (pexels.com/Yan Krukau)
  • Day trading fokus pada fluktuasi harga jangka pendek dengan frekuensi transaksi tinggi, menuntut analisis cepat dan keputusan tepat untuk mengelola risiko volatilitas pasar.
  • Trader memanfaatkan momentum pasar melalui strategi intraday seperti scalping, range trading, news-based trading, hingga high-frequency trading guna menangkap peluang dari pergerakan harga singkat.
  • Aktivitas ini menawarkan fleksibilitas dan potensi keuntungan cepat, namun disertai risiko besar akibat biaya tinggi, penggunaan margin, serta kemungkinan kerugian cepat saat prediksi meleset.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Day trading menjadi salah satu strategi perdagangan yang banyak digunakan pelaku pasar untuk memanfaatkan fluktuasi harga dalam waktu singkat.

Dilansir Investopedia, praktik ini dilakukan dengan frekuensi transaksi yang tinggi dalam satu hari perdagangan, di mana posisi umumnya ditutup sebelum pasar berakhir guna menghindari risiko yang muncul saat pasar tutup.

Berbeda dengan investasi jangka panjang yang menitikberatkan pada fundamental perusahaan, day trading lebih berfokus pada pergerakan harga dalam jangka pendek.

Karena mengandalkan perubahan harga yang cepat, aktivitas ini membutuhkan kemampuan analisis dan pengambilan keputusan yang tinggi. Di sisi lain, potensi keuntungan yang ditawarkan juga diiringi risiko yang tidak kecil akibat volatilitas pasar yang tinggi.

1. Day trader diklasifikasikan berdasarkan frekuensi transaksi

Ilustrasi trading (pexels.com/iam hogir)

Tidak ada persyaratan khusus untuk menjadi day trader. Klasifikasi ini umumnya ditentukan berdasarkan intensitas transaksi yang dilakukan. Di Amerika Serikat, Otoritas Regulasi Industri Keuangan (FINRA) dan Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) turut mengategorikan day trader.

Kategori yang dimaksud melakukan sedikitnya empat transaksi harian dalam lima hari kerja, dengan porsi transaksi tersebut melebihi 6 persen dari total aktivitas perdagangan pada periode yang sama atau ditetapkan demikian oleh perusahaan pialang tempat mereka membuka akun.

Dalam praktiknya, day trader cenderung menutup seluruh posisi sebelum penutupan pasar untuk menghindari risiko pergerakan harga di luar jam perdagangan. Namun, aktivitas ini juga menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari selisih harga bid dan ask, biaya transaksi, hingga kebutuhan akan akses berita dan perangkat analisis secara real time.

Pengambilan keputusan dalam day trading dilakukan dengan berbagai pendekatan. Sebagian pelaku menggunakan model komputer dan analisis teknikal untuk menghitung peluang transaksi, sementara sebagian lainnya mengandalkan pengalaman dan intuisi.

Fokus utama day trader berada pada pola pergerakan harga saham. Pendekatan tersebut berbeda dengan investor jangka panjang yang lebih memperhatikan kondisi fundamental perusahaan sebagai dasar pengambilan keputusan investasi.

Selain itu, volatilitas harga, volume transaksi, dan likuiditas menjadi faktor penting dalam aktivitas day trading. Instrumen yang memiliki pergerakan harga terbatas atau volume perdagangan rendah umumnya kurang diminati karena dinilai tidak memberikan ruang yang cukup untuk memperoleh keuntungan dalam waktu singkat.

2. Memanfaatkan momentum pasar dan berbagai strategi intraday

Ilustrasi trading (pexels.com/Jakub Zerdzicki)

Pelaku day trading umumnya memperhatikan berbagai peristiwa yang berpotensi memicu pergerakan harga dalam jangka pendek. Salah satu pendekatan yang banyak digunakan adalah memanfaatkan momentum setelah rilis data ekonomi, laporan kinerja perusahaan, maupun keputusan suku bunga.

Ketika hasil yang diumumkan berbeda dari ekspektasi pasar, harga aset dapat bergerak secara signifikan dalam waktu singkat. Kondisi tersebut sering dimanfaatkan oleh day trader untuk mencari peluang transaksi.

Strategi lain yang dikenal di kalangan trader adalah fading the gap, yakni mengambil posisi yang berlawanan dengan arah selisih harga pembukaan dibandingkan harga penutupan hari sebelumnya. Pada saat tidak terdapat berita penting maupun gap harga, trader biasanya lebih dulu mengamati arah pasar sejak awal sesi perdagangan.

Jika pasar diperkirakan bergerak naik, trader akan mencari instrumen yang tetap menunjukkan kekuatan saat mengalami koreksi harga. Sebaliknya, ketika pasar berada dalam tren turun, perhatian diarahkan pada instrumen yang menunjukkan pelemahan setelah mengalami kenaikan sementara.

Sebagian besar day trader independen hanya menghabiskan beberapa jam per hari untuk bertransaksi. Sebelum menggunakan dana riil, banyak di antaranya terlebih dahulu melakukan simulasi perdagangan selama berbulan-bulan untuk menguji strategi sekaligus mengevaluasi hasil transaksi yang dilakukan.

Dalam praktiknya, terdapat sejumlah strategi intraday yang umum digunakan, antara lain scalping yang berfokus pada perolehan keuntungan kecil dari pergerakan harga yang terbatas, range trading yang memanfaatkan area support dan resistance, news-based trading yang mengandalkan volatilitas akibat berita, serta high-frequency trading (HFT) yang menggunakan algoritma untuk mengeksekusi transaksi dalam jumlah besar dan waktu sangat singkat.

3. Day trading menawarkan peluang sekaligus risiko

ilustrasi trading (unsplash.com/Kanchanara)

Salah satu keunggulan day trading adalah terhindar dari risiko pergerakan harga yang terjadi di luar jam perdagangan. Berbagai informasi penting seperti data ekonomi, laporan keuangan perusahaan, maupun perubahan rekomendasi dari broker dapat memengaruhi harga aset sebelum pasar dibuka atau setelah pasar ditutup.

Day trader juga memiliki fleksibilitas untuk menerapkan stop-loss yang lebih ketat guna membatasi potensi kerugian. Selain itu, akses terhadap fasilitas margin memungkinkan penggunaan leverage yang lebih besar dibandingkan metode investasi tertentu.

Di sisi lain, frekuensi transaksi yang tinggi dapat meningkatkan biaya perdagangan. Posisi yang hanya dibuka dalam waktu singkat juga tidak selalu memiliki kesempatan yang cukup untuk menghasilkan keuntungan optimal.

Risiko lainnya muncul dari penggunaan margin maupun strategi short selling. Ketika pergerakan harga tidak sesuai perkiraan, kerugian dapat bertambah dengan cepat dan berpotensi memicu margin call dari perusahaan pialang.

Editorial Team

Related Article