Ilustrasi trading (pexels.com/Jakub Zerdzicki)
Pelaku day trading umumnya memperhatikan berbagai peristiwa yang berpotensi memicu pergerakan harga dalam jangka pendek. Salah satu pendekatan yang banyak digunakan adalah memanfaatkan momentum setelah rilis data ekonomi, laporan kinerja perusahaan, maupun keputusan suku bunga.
Ketika hasil yang diumumkan berbeda dari ekspektasi pasar, harga aset dapat bergerak secara signifikan dalam waktu singkat. Kondisi tersebut sering dimanfaatkan oleh day trader untuk mencari peluang transaksi.
Strategi lain yang dikenal di kalangan trader adalah fading the gap, yakni mengambil posisi yang berlawanan dengan arah selisih harga pembukaan dibandingkan harga penutupan hari sebelumnya. Pada saat tidak terdapat berita penting maupun gap harga, trader biasanya lebih dulu mengamati arah pasar sejak awal sesi perdagangan.
Jika pasar diperkirakan bergerak naik, trader akan mencari instrumen yang tetap menunjukkan kekuatan saat mengalami koreksi harga. Sebaliknya, ketika pasar berada dalam tren turun, perhatian diarahkan pada instrumen yang menunjukkan pelemahan setelah mengalami kenaikan sementara.
Sebagian besar day trader independen hanya menghabiskan beberapa jam per hari untuk bertransaksi. Sebelum menggunakan dana riil, banyak di antaranya terlebih dahulu melakukan simulasi perdagangan selama berbulan-bulan untuk menguji strategi sekaligus mengevaluasi hasil transaksi yang dilakukan.
Dalam praktiknya, terdapat sejumlah strategi intraday yang umum digunakan, antara lain scalping yang berfokus pada perolehan keuntungan kecil dari pergerakan harga yang terbatas, range trading yang memanfaatkan area support dan resistance, news-based trading yang mengandalkan volatilitas akibat berita, serta high-frequency trading (HFT) yang menggunakan algoritma untuk mengeksekusi transaksi dalam jumlah besar dan waktu sangat singkat.