Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gak hanya dipengaruhi oleh kinerja emiten dan kondisi ekonomi domestik, tetapi juga oleh arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Ketika Federal Reserve atau The Fed bersikap hawkish, pasar biasanya mengantisipasi suku bunga yang bertahan tinggi lebih lama atau bahkan kemungkinan kenaikan suku bunga untuk meredam inflasi. Perubahan ekspektasi tersebut dapat memengaruhi keputusan investor global dalam menempatkan dana, termasuk pada pasar saham Indonesia yang tergolong sebagai pasar negara berkembang.
Situasi ini menjadi perhatian karena perubahan arah arus modal asing dapat memengaruhi likuiditas perdagangan, pergerakan harga saham, hingga sentimen pasar secara keseluruhan. Bank Indonesia dalam Laporan Kebijakan Moneter Triwulan III 2026 juga mencatat bahwa ketidakpastian global dan tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat membatasi daya tarik aset di negara berkembang, sementara tekanan arus keluar pada saham Indonesia berlanjut pada Oktober 2026.
