Skenario Peretasan Terbesar Kripto, Binance Diduga Kebobolan Rp114 Triliun

- Binance menyelidiki dugaan peretasan senilai 6,3 miliar dolar AS setelah laptop insinyur diretas; setoran dan penarikan dihentikan sementara, sementara sekitar 3 miliar dolar AS telah dibekukan.
- TRM meyakini TraderTraitor yang terkait Lazarus Group Korea Utara terlibat. Binance menyatakan aset pengguna terlindungi dan siap menanggung kerugian melalui cadangan bitcoin sambil bekerja dengan aparat.
- Insiden menekan Bitcoin sekitar 5 persen dan saham kripto, serta memicu pembekuan dana oleh penerbit aset. Nilainya melampaui rekor Bybit 2025 dan berpotensi menjadi pencurian kripto terbesar.
Jakarta, IDN Times – Binance, bursa mata uang kripto terbesar di dunia, sedang mengusut dugaan pembobolan dana senilai 6,3 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp114 triliun. Perusahaan pada Kamis (29/10/2026) menyatakan telah menghentikan sementara layanan setoran dan penarikan serta membekukan sekitar 3 miliar dolar AS (setara Rp54,3 triliun), sedangkan sisa dana lainnya masih ditelusuri.
Dikutip dari CoinMarketCap, penyelidikan awal menemukan bahwa serangan bermula dari peretasan laptop milik salah satu perekayasa Binance. Pelaku memanfaatkan celah tersebut untuk memasuki jaringan internal perusahaan dan melakukan penarikan tanpa izin, meski Binance tercatat memiliki 335 juta pengguna terdaftar, aset kelolaan sekitar 155 miliar dolar AS (setara Rp2.805 triliun) serta aset penitipan senilai 162,8 miliar dolar AS (setara Rp2.946 triliun) berdasarkan laporan tahunan 2025.
Table of Content
1. TRM menduga kelompok peretas Korut terlibat

ilustrasi peretasan (pexels.com/Mati Mango) Firma intelijen rantai blok TRM meyakini dengan tingkat kepercayaan tinggi bahwa serangan tersebut dilakukan TraderTraitor, unit peretas Korea Utara (Korut) yang memiliki keterkaitan dengan Lazarus Group. TRM dikenal memiliki kemampuan melacak pergerakan dana melalui teknologi rantai blok untuk mengidentifikasi pihak yang terlibat dalam kejahatan siber.
Pendiri sekaligus pemegang saham terbesar Binance, Changpeng Zhao mengindikasikan bahwa insiden tersebut merupakan aksi peretasan, tetapi memastikan aset pengguna tetap terlindungi. Sementara itu, salah satu pendiri Binance, Yi He menyatakan, perusahaan siap menanggung seluruh kerugian dengan mengandalkan cadangan bitcoin sebagai perlindungan bagi pengguna, sekaligus mengerahkan timnya untuk bekerja tanpa henti bersama aparat penegak hukum.
2. Serangan menekan harga Bitcoin dan saham kripto

ilustrasi Bitcoin mengalami penurunan harga (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com) Pasar keuangan turut merasakan dampak insiden tersebut setelah harga Bitcoin melemah sekitar 5 persen hingga jatuh di bawah 77 ribu dolar AS (setara Rp1,39 miliar) dan sempat menyentuh 76.368 dolar AS (setara Rp1,38 miliar) per koin. Level tersebut menjadi posisi terendah Bitcoin dalam enam minggu terakhir di pasar Asia, sementara saham bursa kripto Coinbase Global terkoreksi 4,8 persen dan saham perusahaan pembeli Bitcoin, Strategy, merosot hampir 6 persen dalam perdagangan lanjutan di AS.
Sejumlah penerbit aset kripto juga mengambil langkah pengamanan dengan membekukan dana yang diduga berkaitan dengan serangan tersebut. Penerbit koin stabil Tether membekukan hampir 1,57 miliar dolar AS (setara Rp28,317 triliun), Circle menghentikan peredaran lebih dari 800 juta dolar AS (setara Rp14,48 triliun), sedangkan World Liberty Financial bersama kustodian kripto BitGo membekukan 27 juta dolar AS (setara Rp488,7 miliar) dalam bentuk koin stabil dan sekitar 2 juta dolar AS (setara Rp36,2 miliar) token World Liberty, yaitu aset kripto yang diterbitkan World Liberty Financial.
3. Pembobolan Binance melampaui rekor pencurian kripto

ilustrasi mata uang digital (pexels.com/Worldspectrum) Nilai pembobolan yang tengah diselidiki Binance melampaui kasus peretasan Bybit pada 2025 yang dilakukan Lazarus Group dengan kerugian mencapai 1,5 miliar dolar AS (setara Rp27,15 triliun). Laporan Kejahatan Kripto 2026 yang disusun TRM mencatat total pencurian aset kripto sepanjang 2025 mencapai 2,87 miliar dolar AS (setara Rp51,947 triliun) dari hampir 150 insiden, termasuk pembobolan Bitget pada September dengan kerugian sekitar 350 juta dolar AS (setara Rp6,335 triliun), sementara firma analitik Chainalysis memperkirakan insiden Binance berpotensi menjadi pencurian terbesar yang pernah tercatat.
Kepala bisnis sistematis pasar luar bursa (OTC) di perusahaan pembuat pasar kripto GSR, Aravind Srinivasan, menilai insiden tersebut sebagai peretasan terbesar sepanjang sejarah. Peneliti senior HashKey Group yang berbasis di Hong Kong, Tim Sun, juga memperkirakan kejadian semacam ini dapat menekan minat investor terhadap aset berisiko sekaligus mendorong peninjauan ulang standar keamanan penyimpanan aset pada bursa terpusat.
Sementara itu, Kepala Eksekutif Trace Finance, Bernardo Brites, menyoroti perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan celah keamanan terdeteksi lebih cepat dibandingkan proses perbaikannya. Menurutnya, kondisi tersebut dapat mendorong pengguna untuk meninggalkan bursa kripto berskala kecil dan menengah.
Kepala kebijakan global TRM, Ari Redbord, mengingatkan bahwa pencurian aset dalam jumlah besar oleh Korut memiliki konsekuensi yang melampaui sektor keuangan digital.
“Ketika Korea Utara mencuri dalam skala ini, uang tersebut mendanai proliferasi senjata dan aktivitas destabilisasi lainnya. Itu menjadikannya isu keamanan global, bukan hanya pencurian kripto,” katanya kepada Al Jazeera.
Pakar pasar kripto di Universitas Macquarie, Sydney, Sean Foley, turut menyoroti risiko penyimpanan aset pada bursa terpusat.
“Setiap aset yang disimpan di bursa terpusat hanya seaman bursa itu sendiri, dan semakin besar kepemilikan bursa, semakin besar pula targetnya,” tutur Foley.




















