Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Di Balik Kilau Emas, Ada Peluang Besar Perbankan Syariah

6 min read
Di Balik Kilau Emas, Ada Peluang Besar Perbankan Syariah
ilustrasi mobile banking BCA Syariah (bcasyariah.co.id)
  • Pembiayaan emas BCA Syariah mencapai Rp598 miliar hingga Agustus 2026, tumbuh 81,76 persen tahunan, didorong minat investasi emas dan fitur Cicil Emas di aplikasi BSya.
  • Bisnis konsumer BCA Syariah turut ditopang KPR iB yang tumbuh 24,17 persen menjadi Rp1,78 triliun dan KKB iB naik 32,59 persen menjadi Rp78 miliar, dengan prinsip kehati-hatian tetap dijaga.
  • Aset keuangan syariah Indonesia mencapai Rp3.264 triliun pada Juni 2026, tetapi pangsa pasar 11,24 persen menunjukkan penetrasi perlu diperluas melalui inovasi, akses, dan layanan relevan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Di tengah ketidakpastian ekonomi, emas masih menjadi salah satu tempat masyarakat menambatkan harapan untuk menjaga nilai kekayaan.

Kilau logam mulia ini tak hanya menarik sebagai perhiasan, tetapi juga menjadi pilihan investasi yang dipercaya mampu menyimpan nilai dalam jangka panjang.

Kini, memiliki emas tak lagi harus menunggu hingga uang terkumpul dalam jumlah besar. Melalui fasilitas pembiayaan, masyarakat bisa mencicil kepemilikan emas secara bertahap. Perubahan cara berinvestasi ini pun membuka peluang baru bagi perbankan syariah untuk mendekatkan layanan keuangan kepada masyarakat.

Peluang tersebut mulai terlihat dari bisnis PT Bank BCA Syariah. Hingga Agustus 2026, pembiayaan emas perseroan mencapai Rp598 miliar, melonjak 81,76 persen secara tahunan atau year on year (YoY).

Pertumbuhan itu menjadi yang tertinggi di antara produk pembiayaan konsumen BCA Syariah.

Angka tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana emas, yang selama ini lekat dengan kebiasaan masyarakat menyimpan kekayaan, mulai menjadi salah satu pintu masuk bagi perbankan syariah untuk memperluas bisnisnya.

  1. 1. Lewat BSya, BCA Syariah bidik lonjakan pembiayaan emas

    WhatsApp Image 2026-09-30 at 19.07.01 (1).jpeg
    Kepala Satuan Kerja Bisnis Ritel dan Konsumer BCA Syariah Bukit Mas Siahaan. (IDN Times/Triyan).

    Kepala Satuan Kerja Bisnis Ritel dan Konsumer BCA Syariah Bukit Mas Siahaan mengatakan, meningkatnya minat masyarakat terhadap emas sebagai instrumen investasi jangka panjang menjadi salah satu pendorong pertumbuhan tersebut.

    "Consumer kita itu secara year on year bisa tumbuh sekitar 30 persen," kata Bukit, Kamis (1/10/2026).

    Namun, pertumbuhan pembiayaan emas tidak hanya ditopang oleh meningkatnya minat masyarakat. BCA Syariah juga berupaya menangkap perubahan perilaku nasabah melalui pengembangan layanan digital.

    Perseroan menghadirkan fitur Cicil Emas yang dapat diakses melalui aplikasi mobile banking BSya. Fitur ini memungkinkan nasabah mengakses pembiayaan emas melalui kanal digital tanpa harus selalu datang ke kantor cabang.

    "Fitur ini yang menurut kami juga salah satu penunjang untuk pertumbuhan emas kita yang cukup tinggi," ujar Bukit.

  2. 2. Menangkap peluang pasar lewat inovasi pembiayaan syariah

    IMG_3491 2.JPG
    BCA Syariah Corner di BCA Expoversary 2026 (Bima Prakasa/IDN Times)

    Digitalisasi menjadi salah satu strategi perbankan untuk menjangkau masyarakat yang semakin terbiasa menggunakan layanan keuangan berbasis aplikasi.

    Kemudahan akses diharapkan membuat produk pembiayaan syariah semakin dekat dengan kebutuhan nasabah.

    Di luar pembiayaan emas, bisnis consumer BCA Syariah juga ditopang oleh produk lainnya. Hingga Agustus 2026, pembiayaan kepemilikan rumah atau KPR iB tumbuh 24,17 persen YoY menjadi Rp1,78 triliun. Sementara itu, pembiayaan kendaraan bermotor atau KKB iB meningkat 32,59 persen YoY menjadi Rp78 miliar.

    Meski mencatatkan pertumbuhan tinggi, ekspansi pembiayaan tetap membutuhkan pengelolaan risiko yang cermat.

    BCA Syariah memastikan prinsip kehati-hatian atau prudential banking tetap menjadi landasan dalam menyalurkan pembiayaan, termasuk melalui proses identifikasi dan pengenalan nasabah atau know your customer (KYC)

    "Kita harus berperilaku sebagai bank yang prudent. Jadi, know your customer itu tetap harus dijaga," tegas Bukit.

    Ke depan, BCA Syariah akan terus mengembangkan produk dan layanan berdasarkan kebutuhan nasabah. Perseroan menghimpun berbagai masukan untuk menjadi bahan pengembangan layanan digital melalui aplikasi BSya.

    "Semuanya itu nanti akan bisa kita rekap semua, kita kumpulkan semua calon tema seperti itu di dalam satu aplikasi kita, mobile banking kita, BSya," tuturnya.

    Selain mengembangkan layanan digital, BCA Syariah juga mengoptimalkan sinergi dengan induk usahanya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Salah satu bentuk kolaborasi yang akan direalisasikan dalam waktu dekat berkaitan dengan pembiayaan emas.

    Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perseroan memperluas jangkauan bisnis consumer sekaligus memperkuat daya saing di tengah persaingan industri perbankan.

    Lonjakan pembiayaan emas BCA Syariah menjadi salah satu gambaran peluang yang masih terbuka di industri keuangan syariah Indonesia.

    Dengan jumlah penduduk yang besar dan kebutuhan layanan keuangan yang terus berkembang, Indonesia memiliki basis pasar yang potensial untuk memperluas penetrasi produk keuangan syariah.

  3. 3. Potensi pengembangan industri keuangan syariah di Indonesia masih sangat besar

    IMG-20261001-WA0016.jpg
    Anggota Komite Pengembangan Keuangan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Masyita. (IDNbTimes/Triyan).

    Anggota Komite Pengembangan Keuangan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Masyita menilai, potensi pengembangan industri keuangan syariah di Indonesia masih sangat besar. Hal ini tercermin dari pertumbuhan aset yang mampu mendekati dua digit.

    Hingga Juni 2026, aset keuangan syariah Indonesia mencapai Rp3.264 triliun atau tumbuh 9,82 persen secara tahunan. Sementara itu, pangsa pasar keuangan syariah terhadap total industri keuangan nasional mencapai sekitar 11,24 persen.

    Menurut Dian, jumlah penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 285 juta jiwa menjadi modal besar untuk memperluas pasar keuangan syariah. Basis pasar tersebut jauh lebih besar dibandingkan Malaysia.

    "Berarti kita punya pasar yang sangat besar. Aset kita bisa besar walaupun persentasenya tidak terlalu besar," ujarnya.

    Dian bahkan menilai, Indonesia memiliki peluang untuk mengejar capaian industri keuangan syariah Malaysia dari sisi aset.

    "Tren aset syariah meningkat, jadi ini masih optimis untuk mengejar potensi pangsa pasarnya sangat besar. Berarti BCA Syariah masih punya pasar yang sangat besar untuk minimal mencapai Malaysia lah secara aset," katanya.

    Besarnya potensi tersebut ditopang oleh tiga sektor utama pembentuk aset keuangan syariah nasional, yakni perbankan syariah, pasar modal syariah, serta industri keuangan non-bank (IKNB) syariah.

    Pasar modal syariah masih menjadi kontributor terbesar, antara lain didukung keberadaan instrumen sukuk. Sementara itu, aset perbankan syariah mencapai sekitar Rp1.075 triliun dan aset IKNB syariah sekitar Rp158 triliun.

    Meski pertumbuhan aset keuangan syariah masih lebih tinggi dibandingkan industri keuangan konvensional, pangsa pasar yang berada di kisaran 11,24 persen menunjukkan bahwa penetrasinya belum optimal.

    Dengan kata lain, besarnya potensi pasar belum sepenuhnya berbanding lurus dengan penggunaan layanan keuangan syariah oleh masyarakat. Tantangan industri bukan hanya memperbesar aset, melainkan juga membuat produk dan layanan syariah semakin dikenal, mudah diakses, serta relevan dengan kebutuhan masyarakat.

  4. 4. Penguatan ekonomi dan keuangan syariah menjadi bagian dari strategi transformasi ekonomi nasional

    ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Mathieu Stern)
    ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Mathieu Stern)

    Pengembangan keuangan syariah juga bukan sekadar agenda bisnis industri perbankan. Pemerintah telah memasukkannya sebagai salah satu bagian dari arah transformasi ekonomi dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045.

    Dian menjelaskan, penguatan ekonomi dan keuangan syariah menjadi bagian dari strategi transformasi ekonomi nasional, terutama dalam mendorong produktivitas, inovasi, serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. "Ini bagian dari visi-visi yang besar," kata Dian.

    Masuknya ekonomi dan keuangan syariah dalam agenda pembangunan jangka panjang menunjukkan bahwa pengembangan industri ini memiliki dimensi lebih luas daripada sekadar pertumbuhan aset lembaga keuangan.

    Industri syariah juga diharapkan mampu mendukung aktivitas ekonomi produktif dan memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan.

    Di sinilah pekerjaan besar industri keuangan syariah masih terbentang. Pertumbuhan aset dan besarnya populasi Indonesia perlu diikuti dengan inovasi produk, perluasan akses, serta peningkatan kualitas layanan.

    Perbankan syariah juga perlu memastikan produk yang ditawarkan tidak hanya memiliki label syariah, tetapi benar-benar mampu menjawab kebutuhan masyarakat, baik untuk kepemilikan rumah, kendaraan, investasi emas, maupun kebutuhan produktif lainnya.

    Pada akhirnya, peluang industri keuangan syariah tidak cukup hanya diukur dari seberapa besar aset yang berhasil dihimpun atau pembiayaan yang berhasil disalurkan. Kemampuan menjadikan layanan syariah sebagai pilihan yang relevan dan mudah dijangkau masyarakat akan menjadi penentu pertumbuhan jangka panjangnya.

    Lonjakan pembiayaan emas BCA Syariah memberikan gambaran bagaimana perubahan kebutuhan masyarakat dapat menjadi pintu masuk bagi pengembangan bisnis perbankan syariah. Namun, peluang yang jauh lebih besar masih terbentang: mengubah potensi pasar Indonesia yang besar menjadi penetrasi keuangan syariah yang lebih luas dan berkelanjutan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More