7 Negara dengan Cadangan Devisa Terbesar di Dunia Saat Ini

China memimpin cadangan devisa dunia dengan sekitar 3,3433 triliun dolar AS pada Oktober 2025, diikuti Jepang 1,347 triliun dolar AS dan Swiss sekitar 932,3 miliar dolar AS.
Taiwan mencatat cadangan 600,20 miliar dolar AS pada Oktober 2025, sementara India memiliki 689,733 miliar dolar AS dan Arab Saudi sekitar 450 miliar dolar AS.
Hong Kong menyimpan aset cadangan 426 miliar dolar AS pada Oktober 2025; devisa berfungsi menjaga nilai tukar, membayar kewajiban luar negeri, membiayai impor, dan meredam gejolak pasar.
Cadangan devisa sering disebut tabungan darurat sebuah negara, padahal fungsinya jauh lebih luas dari sekadar dana cadangan. Aset ini dipakai bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar, membayar kewajiban luar negeri, membiayai impor penting, dan menenangkan pasar saat gejolak global datang.
Karena itu, daftar negara dengan cadangan devisa terbesar bukan sekadar papan peringkat kekayaan, melainkan peta ketahanan ekonomi dunia. Peringkat di bawah ini memakai cadangan devisa, tidak termasuk emas, berdasarkan kompilasi data Dana Moneter Internasional (IMF) dan bank sentral per sekitar pertengahan hingga akhir 2025.
Angka bulanan bisa bergeser sedikit karena kurs dan harga aset, tetapi urutan tujuh besarnya relatif stabil. Inilah tujuh negara dengan bantalan devisa paling tebal di dunia saat ini.
Table of Content
1. China: Cadangan terbesar yang sulit ditandingi

ilustrasi bendera China (commons.wikimedia.org/TurnOnTheNight) China memegang cadangan devisa sekitar 3,3433 triliun dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir Oktober 2025, naik 4,7 miliar dolar AS atau 0,14 persen dari akhir September 2025. Sebulan sebelumnya, cadangan devisanya tercatat 3,3387 triliun dolar AS, level tertinggi sejak November 2015 ketika angkanya mencapai 3,4383 triliun dolar AS.
Besarnya cadangan ini dibangun dari surplus perdagangan yang bertahan lama, arus investasi, serta pengelolaan bank sentral yang hati-hati. Cadangan emas resminya pun ikut naik menjadi 74,06 juta ons pada akhir September 2025, kenaikan bulan kesebelas berturut-turut. Kombinasi devisa raksasa dan cadangan emas yang terus ditambah membuat Tiongkok punya ruang gerak besar untuk meredam guncangan eksternal tanpa panik.
2. Jepang: Cadangan raksasa dari negara eksportir yang disiplin

ilustrasi bendera Jepang (unsplash.com/Mạnh Ngô) Jepang berada di posisi kedua dengan total aset cadangan 1,347378 triliun dolar AS pada akhir Oktober 2025, naik 6,11 miliar dolar AS dari akhir September 2025. Dari total itu, cadangan mata uang asingnya mencapai 1,150642 triliun dolar AS, termasuk surat berharga senilai 989,345 miliar dolar AS dan simpanan di bank sentral asing serta Bank for International Settlements.
Cadangan emasnya tercatat 109,109 miliar dolar AS, sedangkan hak penarikan khusus (SDR) di IMF mencapai 60,354 miliar dolar AS. Kementerian Keuangan Jepang juga mengonfirmasi tidak ada intervensi valuta asing pada Juli hingga September 2025, sehingga kenaikan cadangan lebih banyak mencerminkan valuasi aset. Bagi Jepang, cadangan sebesar ini adalah bantalan penting untuk yen, mata uang yang kerap diburu investor saat dunia tidak pasti.
3. Swiss: Negara Kecil dengan bantalan keuangan kelas berat

ilustrasi negara Swiss (pexels.com/Gotta Be Worth It) Swiss membuktikan ukuran wilayah bukan penentu kekuatan cadangan, karena cadangan devisanya yang tidak termasuk emas tercatat sekitar 932,3 miliar dolar AS dalam kompilasi data IMF. Bank Nasional Swiss (SNB) melaporkan aset cadangan resmi sebesar 806,1 miliar franc Swiss pada Mei 2025, tidak berubah dari April 2025.
Cadangan besar ini sebagian merupakan warisan intervensi masa lalu untuk menahan penguatan franc Swiss, mata uang safe haven yang selalu diburu saat krisis. Franc yang terlalu kuat bisa menekan eksportir Swiss, sehingga bank sentralnya pernah membeli valuta asing dalam jumlah besar. Kini, bantalan itu memberi Swiss kemampuan menjaga stabilitas harga dan sistem keuangan tanpa harus bergantung pada negara lain.
4 Taiwan: Pulau teknologi dengan cadangan setara 600 miliar dolar AS

ilustrasi negara Taiwan (pexels.com/Jimmy Liao) Taiwan mencatatkan cadangan devisa 600,20 miliar dolar AS pada Oktober 2025, sedikit turun dari 602,94 miliar dolar AS pada September 2025. Penurunan tipis itu dipengaruhi hasil pengelolaan cadangan, fluktuasi kurs mata uang utama terhadap dolar AS, dan intervensi bank sentral untuk menjaga pasar valuta asing tetap stabil.
Sebagai pusat ekspor teknologi dunia, Taiwan mengumpulkan devisa dari surplus perdagangan yang berjalan selama puluhan tahun. Pada November 2025 cadangannya kembali turun tipis menjadi 599,79 miliar dolar AS, tetapi posisinya tetap jauh di atas sebagian besar negara maju. Cadangan setebal ini penting bagi Taiwan untuk menghadapi arus modal yang bisa berbalik arah dengan cepat.
5 India: Cadangan mendekati rekor di tengah tekanan rupee

ilustrasi negara india (unsplash.com/Sylwia Bartyzel ) India menutup 31 Oktober 2025 dengan total cadangan devisa 689,733 miliar dolar AS, terdiri dari aset mata uang asing 564,591 miliar dolar AS dan emas 101,726 miliar dolar AS. Posisi itu sedikit menurun dari pekan sebelumnya karena aset mata uang asing turun 1,957 miliar dolar AS dan emas turun 3,81 miliar dolar AS akibat koreksi harga emas global.
Menariknya, hanya dua pekan sebelumnya, pada pekan yang berakhir 17 Oktober 2025, cadangan India sempat menembus 702,28 miliar dolar AS berkat lonjakan nilai emas. Pada level itu, cadangan India disebut mampu menutup impor selama hampir 11 bulan, sebuah bantalan yang memperkuat kepercayaan investor. Rekor tertingginya sendiri tercatat 704,89 miliar dolar AS pada September 2024, sehingga posisi India kini tetap berada di dekat puncak sejarahnya.
6. Arab Saudi: Kekuatan minyak yang menopang patokan riyal

Ilustrasi negara Arab Saudi. (Scopio/Buthaynah AlHarthi) Arab Saudi memiliki total aset cadangan 1.689,4 miliar riyal pada September 2025, atau sekitar 450 miliar dolar AS dengan patokan kurs tetap 3,75 riyal per dolar AS. Komponen terbesarnya adalah investasi pada surat berharga asing senilai 985,6 miliar riyal, disusul mata uang asing dan simpanan di luar negeri sebesar 608,2 miliar riyal.
Cadangan ini menopang patokan riyal terhadap dolar AS yang dipertahankan sejak 1986, sehingga dunia usaha dan investor punya kepastian nilai tukar. Pendapatan minyak yang dikelola lewat bank sentral memberi Arab Saudi ruang untuk membiayai proyek diversifikasi ekonomi dalam Visi 2030. Meski harga minyak naik-turun, bantalan cadangan ini menjaga Arab Saudi tetap dipercaya pasar saat guncangan regional melanda.
7. Hong Kong: Cadangan yang melampaui uang beredar berkali-kali lipat

ilustrasi negara Hong Kong (pexels.com/Nick Kwan) Hong Kong menutup Oktober 2025 dengan aset cadangan mata uang asing resmi sebesar 426,0 miliar dolar AS, naik dari 419,1 miliar dolar AS pada akhir September 2025. Otoritas Moneter Hong Kong (HKMA) mencatat angka itu setara lebih dari lima kali uang kartal yang beredar, atau sekitar 37 persen dari jumlah uang beredar dalam arti luas (M3) dolar Hong Kong.
Rasio yang sangat tebal ini bukan kebetulan, karena Hong Kong menjalankan sistem currency board yang mengaitkan dolar Hong Kong dengan dolar AS. Dalam sistem itu, setiap dolar Hong Kong yang beredar harus didukung aset cadangan, sehingga kepercayaan menjadi fondasi utama. Tidak ada kontrak valuta asing yang belum diselesaikan pada akhir Oktober 2025, menandakan posisi cadangannya bersih dan siap pakai.
Daftar ini menunjukkan satu pola yang jelas: cadangan devisa terbesar umumnya dimiliki negara dengan surplus perdagangan besar, mata uang yang dipercaya pasar, atau pendapatan komoditas yang dikelola disiplin. Namun, besar saja tidak cukup, karena cadangan yang tidak dikelola dengan transparan bisa terkuras cepat saat krisis datang.
Pelajaran untuk negara mana pun, termasuk Indonesia, adalah membangun cadangan secara bertahap lewat ekspor yang kompetitif, investasi yang sehat, dan kebijakan moneter yang konsisten. Cadangan devisa bukan piala untuk dipamerkan, melainkan jaring pengaman yang nilainya baru terasa ketika badai ekonomi benar-benar datang. Semakin tebal dan semakin likuid jaring itu, semakin tenang pula sebuah negara menghadapi dunia yang tidak pasti.




.jpg)

















