Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Rekomendasi Saham AI Terbaik 2026 Biar Cuan dari Booming AI
5 Rekomendasi Saham AI Terbaik 2026 Biar Cuan dari Booming AI (dok. Istimewa)
  • Tim Investment Research Pluang merekomendasikan lima saham AI unggulan 2026: Nvidia, Digital Realty Trust, Marvell Technology, Palantir, dan Dian Swastatika Sentosa, ditambah ETF utilitas XLU sebagai pelengkap investasi.
  • Booming AI global masih kuat dengan proyeksi belanja modal hyperscaler mencapai 1,1 triliun dolar AS pada 2027 dan pasokan chip ketat hingga 2030, menopang pertumbuhan industri semikonduktor.
  • DSSA menonjol di BEI lewat proyek pusat data SMX01 berkapasitas tinggi yang siap beroperasi kuartal IV-2026, sementara XLU menawarkan cara sederhana berinvestasi di tema energi untuk AI.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Lima saham AI terbaik 2026 menurut Tim  Investment Research Pluang adalah Nvidia (NVDA), Digital Realty Trust (DLR), Marvell Technology (MRVL), Palantir (PLTR), dan dari bursa lokal, Dian Swastatika Sentosa (DSSA) — plus ETF utilitas XLU sebagai pelengkap.

Kalau kamu merasa hype kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI) sudah mulai reda, lihat dulu datanya: gelombang investasi AI dunia justru makin besar dan makin deras. Di sini kita akan bahas alasannya, angka-angkanya, risikonya, sampai cara belinya dari Indonesia.

1. Kenapa Booming AI Masih Bikin Cuan Mengalir?

ilustrasi saham GameStop (unsplash.com/Michael Förtsch)

Saham AI adalah saham perusahaan yang pendapatannya digerakkan langsung oleh rantai nilai kecerdasan buatan dari desainer chip, produsen memori, operator pusat data, sampai penyedia listrik. Angka-angkanya bikin melongo:

  • Pendapatan industri semikonduktor dunia diproyeksikan naik dari sekitar 800 miliar dolar AS pada 2025 jadi di atas 1 triliun dolar AS pada 2030 — bahkan skenario agresif sejumlah riset industri menyebut 2,3 triliun dolar AS.

  • Belanja modal hyperscaler cloud — Microsoft, Google, Amazon, Meta — diproyeksikan mencapai sekitar 800 miliar dolar AS pada 2026, lalu tembus 1,1 triliun dolar AS pada 2027 (proyeksi Morgan Stanley dan Moody’s). Gokil, kan?

  • Kontribusi memori terhadap pendapatan semikonduktor diperkirakan naik ke 50 persen dalam dua tahun ke depan, jauh di atas rata-rata 27 persen selama satu dekade terakhir.

  • Tambahan pasokan chip yang berarti kemungkinan baru muncul setelah 2028, dan bottleneck diprediksi bertahan sampai 2030.

2. Apa Saja Rekomendasi Saham AI Terbaik di Wall Street?

ilustrasi pergerakan harga saham turun (pexels.com/Luca Summarco)

Menurut Tim Investment Research Pluang, empat saham AS ini menunggangi gelombang yang sama dan bisa kamu beli di Pluang.

a. Nvidia (NVDA) — Si Raja Chip AI

  • Pendapatan kuartal I tahun fiskal 2027 mencapai 81,6 miliar dolar AS, tumbuh 85 persen secara tahunan; segmen pusat data 75,2 miliar dolar AS, tumbuh 92 persen YoY (angka resmi SEC).

  • CEO Jensen Huang menyebut pembangunan “pabrik AI” saat ini sebagai ekspansi infrastruktur terbesar dalam sejarah manusia.

  • Risiko: valuasi premium dan pembatasan ekspor chip.

b. Digital Realty Trust (DLR) — “Tuan Tanah” Era AI

  • Perusahaan properti pusat data ini mencetak rekor penyewaan kuartal I-2026, termasuk kontrak sewa AI berkapasitas 200 MW.

  • Panduan laba inti (FFO) 2026 dinaikkan jadi 8,00–8,10 dolar AS per saham.

  • Model bisnisnya mirip strategi DSSA: mengamankan pasokan listrik jangka panjang buat pusat datanya.

c. Marvell Technology (MRVL) — Otak Chip Kustom

  • Merancang chip AI kustom dan interkoneksi optik yang memindahkan data di dalam dan antar pusat data — persis di titik memory wall yang lagi jadi rebutan.

  • Sahamnya mulai pulih seiring membaiknya siklus chip AI.

  • Risiko: pergerakannya cenderung fluktuatif.

d. Palantir (PLTR) — Jualan “Hasil Tambang” AI

  • Kalau Nvidia jualan “cangkul”, Palantir jualan hasil tambangnya: pendapatan kuartal I-2026 sekitar 1,63 miliar dolar AS, margin kotor 84 persen, adjusted free cash flow 925 juta dolar AS.

  • Katalis: kemitraan baru dengan Nvidia plus perluasan kontrak dengan Angkatan Darat AS.

  • Risiko: valuasinya menuntut eksekusi nyaris sempurna.

Adakah Saham AI di Bursa Efek Indonesia?

e. Dian Swastatika Sentosa (DSSA) — Listrik dan Data Center dalam Satu Atap

  • Bagian Grup Sinar Mas; salah satu dari sedikit emiten BEI yang punya kombinasi paling dicari di era AI: energi dan infrastruktur digital dalam satu ekosistem — bedah lengkapnya ada di analisis saham DSSA.

  • Lagi menyiapkan Flagship Hub Jakarta SMX01, pusat data Tier-IV siap AI pertama di kawasan bisnis pusat Jakarta, dibangun bersama LG CNS asal Korea Selatan — siap beroperasi kuartal IV-2026. Spesifikasinya gak main-main: hingga 2.400 rak GPU berdaya 130 kilowatt per rak dengan pendingin cair, kapasitas awal 18 MW menuju 60 MW.

  • Segmen infrastruktur digital menyumbang 7,6 persen pendapatan 2025 (naik dari 4,8 persen pada 2024), target melesat ke 19 persen pada 2026.

3. ETF Apa yang Paling Simpel buat Tema “AI Butuh Listrik”?

Utilities Select Sector SPDR Fund (XLU) — ETF sektor utilitas AS — jadi cara paling gampang main di tema ini. Di pusat data AI, 60 persen energi justru habis buat memindahkan data antar-chip. Pusat data AS kini menyerap 4,5 persen listrik nasional, dan EPRI memperkirakan angkanya naik ke 9–17 persen pada 2030. XLU kasih eksposur terdiversifikasi tanpa harus pusing milih satu saham utilitas.

4. Perbandingan 5 Saham AI Terbaik 2026

Sahamnya

Perannya di Dunia AI

Info Penting

Main di Mana

NVDA

Chip/GPU

Pusat data +92% YoY

Bursa AS

DLR

Pusat data (REIT)

Kontrak sewa AI 200 MW

Bursa AS

MRVL

Chip kustom, interkoneksi

Eksposur memory wall

Bursa AS

PLTR

Aplikasi/software AI

Margin kotor 84%

Bursa AS

DSSA

Energi + pusat data

Target segmen digital 19% (2026)

BEI

XLU (ETF)

Listrik/utilitas

Eksposur terdiversifikasi

Bursa AS

5. Apakah Booming AI Cuma Hype Sesaat?

Ilustrasi pasar saham (freepik.com)

Tim  Investment Research Pluang menilai reli saham semikonduktor saat ini wajar dan — selama pasokan tetap ketat — valuasinya relatif belum kemahalan. Bedanya dengan gelembung teknologi zaman dulu ada di sifat permintaannya: pelatihan model AI butuh bandwidth memori tinggi, inference butuh kapasitas besar, dan sistem agentic AI butuh dua-duanya. Siklus ini ditopang arus kas riil, bukan sekadar euforia.

6. Apa Risiko Investasi Saham AI?

Ilustrasi mengamati pasar saham (freepik.com)

Gak ada investasi yang bebas risiko, ya. Yang perlu kamu pantau:

  • Eksekusi proyek — pembangunan pusat data dan pabrik chip bisa molor dari jadwal.

  • Geopolitik — pembatasan ekspor chip bisa memangkas pasar produsennya.

  • Kelebihan kapasitas — kalau permintaan melambat, belanja modal masif berbalik jadi beban.

  • Valuasi dan volatilitas — sebagian saham AI dihargai premium dan rawan koreksi tajam.

  • Khusus DSSA — risiko ramp-up SMX01 dan ketergantungan arus kas pada bisnis energi berbasis batu bara.

Mitigasinya: diversifikasi antar lapisan rantai nilai, horizon panjang, dan sesuaikan dengan profil risiko kamu.

Gimana Cara Beli Saham AI dari Indonesia?

  1. Unduh aplikasi Pluang, daftar, dan selesaikan verifikasi identitas (KYC).

  2. Buka menu Saham AS buat cari NVDA, DLR, MRVL, PLTR, atau ETF XLU; pantau juga emiten lokal DSSA 

  3. Mulai investasi dari Rp10.000 

  4. Pantau kinerja dan diversifikasi secara berkala.

Pluang dipakai lebih dari 13 juta pengguna, berizin dan diawasi OJK dan Bappebti.

Pertanyaan yang Sering Ditanyain (FAQ)

Berapa modal minimal beli saham AI dari Indonesia? Mulai Rp10.000 aja! Saham AS kayak NVDA, MRVL hingga DLR bisa kamu jangkau dengan mudah dan murah.

Adakah saham AI di BEI? Ada — DSSA jadi salah satu dari sedikit emiten BEI dengan eksposur AI, lewat kombinasi bisnis listrik dan pusat data SMX01 yang siap jalan kuartal IV-2026.

Apakah ETF lebih aman daripada saham AI tunggal? Relatif iya — ETF kayak XLU isinya puluhan emiten sekaligus, jadi risiko satu perusahaan bermasalah gak langsung menghantam portofoliomu. Trade-off-nya, cuannya juga lebih kalem.

Kesimpulan

Booming AI ditopang belanja modal hyperscaler menuju 1,1 triliun dolar AS (proyeksi Morgan Stanley) dan kelangkaan pasokan yang diprediksi bertahan sampai 2030 — gelombangnya masih panjang dan baru saja dimulai. NVDA, DLR, MRVL, PLTR, dan DSSA, plus ETF XLU, kasih kamu eksposur ke tiap lapisan rantai nilai AI, dari chip sampai listrik. Mulai dari Rp10.000 di Pluang. (WEB/TAMA)

Disclaimer: Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu. Bukan ajakan untuk membeli atau menjual. Semua materi dibuat untuk tujuan edukasi dan studi kasus. Selalu lakukan Do Your Own Research (DYOR) sebelum mengambil keputusan finansial.

*Disclaimer: Artikel ini hanya untuk memberikan informasi. Segala keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. IDN Times tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang mungkin timbul akibat keputusan tersebut.

Topics

Editorial Team

Related Article