Bocoran Bos BTN soal Pembagian Dividen Tahun Depan

- BTN menargetkan dividen 20-25 persen dari laba bersih 2026, tetapi keputusan final tetap ditentukan dalam RUPS. Perseroan belum merencanakan dividen interim.
- Pada semester I-2026, BTN membukukan laba bersih Rp2,4 triliun, naik 40,8 persen secara tahunan, didorong kredit dan pembiayaan konsolidasi yang tumbuh menjadi Rp418,11 triliun.
- BTN menargetkan porsi kredit non-perumahan sekitar 30 persen pada 2030, sambil mempertahankan fokus perumahan dan memperluas layanan finansial melalui strategi Beyond Mortgage.
Jakarta, IDN Times - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) berkomitmen memberikan dividen kepada pemegang saham dari capaian kinerja 2026 ini. Direktur Utama BTN, Nixon L.P Napitupulu menargetkan pembagian dividen itu mencapai 20 persen dari laba bersih sepanjang tahun.
"Nah sekarang kan di RBB kita di 2026 memang kita tulis 20-25 persen. Jadi kita masih konsisten dengan angka yang ditulis RBB," kata Nixon dalam Public Expose (Pubex) Live 2026, Kamis (10/9/2026).
1. Keputusan final ada di pemegang saham

Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) atau BTN, Nixon L.P. Napitupulu. (IDN Times/Vadhia Lidyana) Meski begitu, keputusan final mengenai dividen akan ditetapkan melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). "Tapi sekali lagi nanti ini bergantung pada saat RUPS diumumkan. Karena memang dividend kan itu games-nya, pemegang saham ya," ucap Nixon.
Dia mengatakan, terkait peluang dividen interim, menurutnya perseroan selama ini selalu membayarkan dividen final.
"Memang kalau kita lihat sampai 5 tahun kebelakang BTN belum pernah membayarkan dividen interim, dan sampai hari ini kita belum merencanakan adanya dividen interim," ujar Nixon.
2. BTN cetak laba bersih Rp2,4 triliun

Perumahan KPR subsidi. (dok. BTN) Per semester I-2026, BTN membukukan laba bersih Rp2,4 triliun. Angka tersebut tumbuh 40,8 persen dari periode yang sama tahun lalu atau secara year on year (yoy).
Capaian itu didorong oleh penyaluran kredit dan pembiayaan konsolidasi sebesar Rp418,11 triliun, meningkat 11,2 persen (yoy) dari Rp376,11 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut ditopang kenaikan di sektor kredit perumahan sebesar 4,8 persen (yoy) dari Rp317,77 triliun menjadi Rp332,88 triliun per Juni 2026, dan lonjakan kredit non-perumahan sebesar 46,1 persen (yoy) dari Rp58,34 triliun pada Juni 2025 menjadi Rp85,22 triliun di Juni 2026.
Kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi masih menjadi mesin pendorong kredit perumahan dengan kenaikan sebesar 8,1 persen (yoy) dari Rp182,17 triliun menjadi Rp196,96 triliun per Juni 2026. Selain itu, Kredit Program Perumahan (KPP) yang disalurkan BTN juga tercatat mencapai Rp4,1 triliun per Juni 2026, sejak dirilis pada akhir Oktober 2025.
3. Mau dongkrak penyaluran kredit di luar sektor perumahan

Layanan perbankan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN). (dok. BTN) Nixon mengatakan, perusahaan sedang memperluas sumber pertumbuhan di luar bisnis perumahan. Perseroan menargetkan porsi kredit non-perumahan mencapai sekitar 30 persen dari total kredit pada 2030, dari posisi 20,4 persen pada Juni 2026 dan 18 persen pada akhir 2025.
Meski begitu, Nixon memastikan pengembangan bisnis non-perumahan bukan berarti BTN meninggalkan kompetensi utamanya di sektor perumahan. Sebaliknya, strategi tersebut diarahkan untuk memperkuat model bisnis BTN dengan membangun sumber sumber pertumbuhan baru yang masih memiliki keterkaitan dengan basis nasabah dan ekosistem perseroan.
“BTN tetap menjadi bank yang fokus pada sektor perumahan. Namun, kebutuhan nasabah tidak berhenti ketika mereka memiliki rumah. Melalui Beyond Mortgage, kami ingin hadir lebih luas dalam kebutuhan finansial nasabah sekaligus masuk ke ekosistem-ekosistem baru yang memiliki potensi bisnis besar,” tutur Nixon.






![[QUIZ] Dari MBTI, Ini Ide Bisnis yang Cocok untuk Si Ekstrovert](https://image.idntimes.com/post/20240320/tim-mossholder-zhffvw2u93u-unsplash-90788451079a40c7884ed313ca93232a.jpg)












