Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rugi Garuda Indonesia Susut Lebih dari Rp500 M di Kuartal I-2026
Penumpang pesawat Garuda Indonesia. (IDN Times/Holy Kartika)
  • Garuda Indonesia mencatat rugi bersih 46,48 juta dolar AS pada kuartal I-2026, turun signifikan dari 76,49 juta dolar AS di periode sama tahun sebelumnya.
  • Pendapatan usaha naik 5,3 persen menjadi 762,35 juta dolar AS, didorong peningkatan penerbangan berjadwal meski pendapatan charter menurun tajam.
  • Beban usaha turun tipis 0,7 persen dan aset perusahaan naik 1,1 persen menjadi 7,51 miliar dolar AS, menunjukkan perbaikan efisiensi operasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kerugian PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) menyusut hingga 30,01 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp511,4 miliar per akhir kuartal I-2026 (menggunakan kurs Rp17.041 per dolar AS pada 31 Maret).

Dikutip dari laporan keuangan kuartal I-2026 Garuda Indonesia yang belum diaudit, Jumat (24/4/2026), di tiga bulan pertama tahun ini, Garuda Indonesia mencatatkan rugi 46,48 juta dolar AS atau setara Rp792,07 miliar. Sementara, kerugian GIAA pada kuartal I-2025 masih sebesar 76,49 juta dolar AS atau setara Rp1,3 triliun.

1. Pendapatan usaha naik 5,3 persen

Pesawat Garuda Indonesia. (Dokumentasi Humas Garuda Indonesia untuk IDN Times)

Adapun total pendapatan usaha Garuda Indonesia di kuartal-2026 sebesar 762,35 juta dolar AS atau setara Rp12,99 triliun, naik 5,3 persen dari kuartal I-2025 yang sebesar 723,56 juta dolar AS atau setara Rp12,33 triliun.

Pendapatan usaha itu terdiri dari pendapatan penerbangan berjadwal sebesar 648,1 juta dolar AS (Rp11,44 triliun), naik 7,4 persen secara year on year (yoy). Lalu, pendapatan penerbangan tidak berjadwal (charter) sebesar 24,98 juta dolar AS (setara Rp425,7 miliar), turun 34,2 persen (yoy).

Pendapatan lain-lain meningkat 9 persen, dari 81,91 juta dolar AS atau setara Rp1,39 triliun, menjadi 89,27 juta dolar AS atau setara Rp1,52 triliun.

2. Beban usaha Garuda Indonesia menyusut

Livery masker pesawat Garuda Indonesia (Dok.Garuda Indonesia)

Penyusutan juga terjadi pada beban usaha Garuda Indonesia sebesar 0,7 persen, dari 718,36 juta dolar AS (Rp12,24 triliun) menjadi 713,22 juta dolar AS (Rp12,15 triliun).

Beban terbesar datang dari beban operasional penerbangan yang mencapai 350,24 juta dolar AS atau setara Rp5,97 triliun.

Adapun beban pemeliharaan dan perbaikan naik tipis menjadi 159,14 juta dolar AS (Rp2,71 triliun), beban kebandaraan naik tipis menjadi 57,84 juta dolar AS (Rp985,65 miliar), beban pelayanan penumpang yang naik tipis jadi 49,92 juta dolar AS (Rp850,7 miliar).

Tak lupa dengan beban umum dan administrasi yang turun jadi 42,01 juta dolar AS (Rp715,9 miliar). Kemudian, beban tiket, penjualan dan promosi yang naik tipis jadi 45,64 juta dolar AS (Rp777,8 miliar), beban operasional hotel naik tipis jadi 4,85 juta dolar AS (Rp82,6 miliar), beban operasional transportasi yang naik tipis jadi 2,62 juta dolar AS (Rp44,6 miliar), dan beban operasional jaringan yang turun tipis jadi 0,96 juta dolar AS (Rp16,4 miliar).

Maskapai pelat merah itu juga dibebani oleh beban usaha lainnya, yang naik 3,1 persen per kuartal I-2026 dari 93,9 juta dolar AS, (Rp1,6 triliun), menjadi 96,8 juta dolar AS (Rp1,65  triliun). Hal itu disebabkan oleh kerugian selisih kurs bersih sebesar 19,3 juta dolar AS (Rp328,9 miliar).

Meski begitu, Garuda Indonesia mencatatkan kenaikan pendapatan keuangan sebesar 171,7 persen, dari 3,36 juta dolar AS (Rp57,3 miliar), menjadi 9,13 juta dolar AS (Rp155,6 miliar). Hal itu diiringi dengan beban keuangan yang turun jadi 104 juta dolar AS (Rp1,77 triliun).
Lebih lanjut, dikurangi rugi sebelum pajak penghasilan dan manfaat pajak penghasilan, maka rugi periode berjalan GIAA pada kuartal I tahun ini menyusut 45,2 persen dari 75,93 juta dolar AS (Rp1.293,9 miliar), menjadi 41,62 juta dolar AS (Rp709,2 miliar).

3. Aset Garuda Indonesia naik tipis

Pramugari Garuda Indonesia. (dok. Garuda Indonesia)

Adapun total ekuitas Garuda Indonesia menyusut 25,7 persen dari 68,25 juta dolar AS (Rp1.163,0 miliar) pada kuartal I-2026, dari sebelumnya mencapai 91,91 juta dolar AS (Rp1.566,5 miliar) per akhir Desember 2025.

Sementara, total liabilitas perusahaan mencapai 7,44 miliar dolar AS (Rp126.785,0 miliar), naik 1,4 persen dari posisi 31 Desember 2025 yang sebesar 7,34 miliar dolar AS (Rp125.080,9 miliar).

Total aset Garuda Indonesia naik tipis 1,1 persen, dari 7,43 miliar dolar AS (Rp126.614,6 miliar) per akhir 2025, menjadi 7,51 miliar dolar AS (Rp128.978,9 miliar) pada kuartal I-2026.

Editorial Team