Livery masker pesawat Garuda Indonesia (Dok.Garuda Indonesia)
Penyusutan juga terjadi pada beban usaha Garuda Indonesia sebesar 0,7 persen, dari 718,36 juta dolar AS (Rp12,24 triliun) menjadi 713,22 juta dolar AS (Rp12,15 triliun).
Beban terbesar datang dari beban operasional penerbangan yang mencapai 350,24 juta dolar AS atau setara Rp5,97 triliun.
Adapun beban pemeliharaan dan perbaikan naik tipis menjadi 159,14 juta dolar AS (Rp2,71 triliun), beban kebandaraan naik tipis menjadi 57,84 juta dolar AS (Rp985,65 miliar), beban pelayanan penumpang yang naik tipis jadi 49,92 juta dolar AS (Rp850,7 miliar).
Tak lupa dengan beban umum dan administrasi yang turun jadi 42,01 juta dolar AS (Rp715,9 miliar). Kemudian, beban tiket, penjualan dan promosi yang naik tipis jadi 45,64 juta dolar AS (Rp777,8 miliar), beban operasional hotel naik tipis jadi 4,85 juta dolar AS (Rp82,6 miliar), beban operasional transportasi yang naik tipis jadi 2,62 juta dolar AS (Rp44,6 miliar), dan beban operasional jaringan yang turun tipis jadi 0,96 juta dolar AS (Rp16,4 miliar).
Maskapai pelat merah itu juga dibebani oleh beban usaha lainnya, yang naik 3,1 persen per kuartal I-2026 dari 93,9 juta dolar AS, (Rp1,6 triliun), menjadi 96,8 juta dolar AS (Rp1,65 triliun). Hal itu disebabkan oleh kerugian selisih kurs bersih sebesar 19,3 juta dolar AS (Rp328,9 miliar).
Meski begitu, Garuda Indonesia mencatatkan kenaikan pendapatan keuangan sebesar 171,7 persen, dari 3,36 juta dolar AS (Rp57,3 miliar), menjadi 9,13 juta dolar AS (Rp155,6 miliar). Hal itu diiringi dengan beban keuangan yang turun jadi 104 juta dolar AS (Rp1,77 triliun).
Lebih lanjut, dikurangi rugi sebelum pajak penghasilan dan manfaat pajak penghasilan, maka rugi periode berjalan GIAA pada kuartal I tahun ini menyusut 45,2 persen dari 75,93 juta dolar AS (Rp1.293,9 miliar), menjadi 41,62 juta dolar AS (Rp709,2 miliar).