Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rupiah kian Tertekan, Harga Barang hingga Tabungan Bisa Terdampak
Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
  • Rupiah ditutup di level Rp17.966,5 per dolar AS, menandai pelemahan signifikan yang berdampak langsung pada harga barang dan biaya hidup masyarakat.
  • Pelemahan rupiah membuat tabungan dalam bentuk uang tunai berisiko kehilangan daya beli, mendorong pentingnya diversifikasi instrumen keuangan untuk menjaga nilai aset.
  • Pelaku usaha masih menahan beban kenaikan biaya produksi akibat kurs melemah dengan efisiensi internal, namun tekanan ini bisa berujung pada kenaikan harga jika kondisi berlanjut lama.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pergerakan nilai tukar rupiah sering kali dianggap hanya menjadi perhatian pelaku pasar dan investor. Apa pun pada pembukaan perdagangan hari ini, Rabu (3/6/2026), rupiah ditutup ke level Rp17.966,5 per dolar AS atau kembali menembus level terendahnya

Dilansir dari laman Pegadaian, naik turunnya kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, mulai dari harga barang kebutuhan sehari-hari hingga perencanaan keuangan jangka panjang.

1. Dorong kenaikan harga barang

Ilustrasi cabai merah keriting. (Dok. Bapanas)

Ketika rupiah melemah, efeknya dapat terasa hingga ke dapur rumah tangga. Sebab, banyak industri di Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor yang dibeli menggunakan dolar AS.

Akibatnya, pelemahan rupiah membuat biaya produksi meningkat. Kondisi tersebut pada akhirnya mendorong pelaku usaha menaikkan harga jual barang agar tidak merugi. Dengan kata lain, semakin mahal dolar AS, semakin besar pula potensi kenaikan harga sejumlah barang dan jasa di dalam negeri.

2. Pergerakan rupiah berdampak ke perencanaan keuangan

ilustrasi buku tabungan anak (freepik.com/rawpixel)

Pergerakan rupiah juga berdampak terhadap perencanaan keuangan masyarakat dalam jangka panjang. Tabungan yang hanya disimpan dalam bentuk uang tunai berisiko mengalami penurunan nilai riil ketika rupiah melemah dan inflasi meningkat. Artinya, jumlah uang yang tersimpan memang tetap sama, tetapi daya belinya bisa berkurang di masa depan.

Kondisi ini menjadi perhatian terutama bagi masyarakat yang sedang menyiapkan dana pendidikan anak, dana pensiun, maupun kebutuhan jangka panjang lainnya. Karena itu, para perencana keuangan kerap menyarankan masyarakat untuk tidak hanya mengandalkan tabungan biasa, melainkan juga melakukan diversifikasi instrumen keuangan agar nilai aset tetap terjaga di tengah fluktuasi nilai tukar dan inflasi.

Dengan demikian, pergerakan rupiah sejatinya bukan sekedar angka di pasar keuangan. Naik turunnya nilai tukar memiliki efek berantai terhadap harga barang, daya saing ekspor, hingga kemampuan masyarakat menjaga nilai kekayaannya dalam jangka panjang.

3. Pengusaha masih menanggung beban pelemahan rupiah

ilustrasi pengusaha (unsplash.com/Vitaly Gariev)

Sekretaris Jenderal BPP Hipmi Anggawira mengatakan, pengusaha saat ini belum memiliki ruang yang cukup untuk meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen. Pasalnya, konsumsi rumah tangga belum sepenuhnya pulih sehingga kenaikan harga berisiko menurunkan permintaan.

"Dunia usaha saat ini sedang menahan beban. Biaya produksi naik karena kurs melemah, tetapi pengusaha tidak bisa serta-merta menaikkan harga kepada konsumen karena risikonya permintaan turun," kata Anggawira saat dihubungi.

Anggawira menjelaskan, untuk sementara, pelaku usaha masih mengandalkan berbagai langkah efisiensi, seperti menekan margin keuntungan, menunda ekspansi, dan melakukan renegosiasi kontrak.

Namun apabila pelemahan rupiah berlangsung lama, tekanan biaya diperkirakan akan mulai diteruskan ke harga barang dan jasa secara bertahap.

"Tetapi kalau pelemahan rupiah berlangsung terlalu lama, tekanan biaya ini pada akhirnya sulit ditahan dan bisa mulai diteruskan ke harga konsumen secara bertahap," tegasnya.

Editorial Team

Related Article