Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rupiah Sentuh Level Terlemah Sepanjang Sejarah, Apa Selanjutnya?

Rupiah Sentuh Level Terlemah Sepanjang Sejarah, Apa Selanjutnya?
ilustrasi uang rupiah (vecteezy.com/Miftachul Huda)
Intinya Sih
  • Rupiah menyentuh rekor terlemah di Rp17.670 per dolar AS akibat tekanan global, lonjakan harga minyak, dan arus modal asing keluar dari pasar Indonesia.
  • Investor mulai kehilangan kepercayaan karena fondasi ekonomi dinilai rapuh, tercermin dari keluarnya dana asing hingga miliaran dolar dan penghapusan saham Indonesia dari indeks MSCI.
  • Bank Indonesia menghadapi dilema antara menaikkan suku bunga untuk menahan rupiah atau menjaga pertumbuhan ekonomi, sementara cadangan devisa terus menurun akibat intervensi pasar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Nilai tukar rupiah kembali jadi sorotan setelah sempat menyentuh level Rp17.670 per dolar AS, angka terlemah sepanjang sejarah. Kondisi ini bikin banyak orang mulai khawatir, mulai dari pelaku usaha sampai masyarakat biasa yang takut harga barang makin mahal.

Apalagi Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk kebutuhan energi dan beberapa bahan baku industri. Situasi global juga sedang gak baik-baik saja karena konflik geopolitik dan penguatan dolar AS terus menekan mata uang negara berkembang.

Meski begitu, kondisi sekarang sebenarnya berbeda jauh dibanding krisis 1998 karena sistem perbankan Indonesia saat ini jauh lebih kuat. Pertanyaannya sekarang, setelah rupiah jatuh sedalam ini, apa kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya? Berikut ulasannya dilansir dari Asia Times.

1. Tekanan global bikin rupiah makin sulit bangkit

ilustrasi isi bensin (unsplash.com/Visual Karsa)
ilustrasi isi bensin (unsplash.com/Visual Karsa)

Salah satu penyebab utama melemahnya rupiah datang dari kondisi global yang sedang panas. Konflik di Timur Tengah dan gangguan jalur perdagangan minyak dunia membuat harga energi melonjak tajam. Harga minyak Brent bahkan bertahan di sekitar 110 dolar AS atau sekitar Rp1,78 juta per barel.

Indonesia sebagai negara pengimpor minyak otomatis terkena dampak besar. Kebutuhan dolar AS untuk membeli minyak meningkat, sementara pasokan dolar di dalam negeri terbatas. Akibatnya, permintaan dolar makin tinggi dan rupiah terus tertekan. Situasi ini diperparah karena investor global sekarang lebih memilih menyimpan dana di aset aman seperti dolar AS dibanding masuk ke pasar negara berkembang.

2. Investor mulai kehilangan rasa percaya

ilustrasi investasi, investor
ilustrasi investasi, investor (magnific.com/DC Studio)

Melemahnya rupiah ternyata bukan hanya soal kondisi luar negeri, lho. Banyak investor mulai mempertanyakan kekuatan ekonomi Indonesia sendiri. Walaupun pertumbuhan ekonomi Indonesia sempat mencapai 5,61 persen pada kuartal pertama 2026, pasar menilai pertumbuhan itu belum cukup kuat karena lebih banyak ditopang konsumsi musiman dan belanja sosial.

Kondisi tersebut membuat investor melihat fondasi ekonomi Indonesia masih rapuh. Arus modal asing bahkan sempat keluar hingga 1,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp28 triliun hanya dalam tiga minggu pertama Januari 2026. Ketika dana asing keluar terus-menerus, permintaan dolar naik tajam dan rupiah makin susah menguat kembali.

Kekhawatiran investor juga meningkat setelah MSCI menghapus 18 saham Indonesia dari indeks mereka pada Mei 2026. Langkah itu memicu aksi jual besar-besaran dari investor asing karena pasar khawatir transparansi dan likuiditas saham di Indonesia semakin menurun. Dampaknya terasa langsung ke pasar keuangan dan memperbesar tekanan pada rupiah.

3. Bank Indonesia menghadapi dilema besar

ilustrasi mata uang dolar Amerika
ilustrasi mata uang dolar Amerika (pexels.com/Karolina Grabowska www.kaboompics.com)

Bank Indonesia sebenarnya sudah melakukan berbagai cara untuk menahan pelemahan rupiah. Mulai dari intervensi pasar valuta asing sampai penerbitan instrumen stabilisasi seperti SRBI dan NDF. Sayangnya, kekuatan dolar AS saat ini memang sedang sangat dominan sehingga upaya tersebut belum cukup efektif.

Masalahnya, Bank Indonesia juga berada dalam posisi sulit. Jika suku bunga dinaikkan terlalu tinggi demi mempertahankan rupiah, pertumbuhan ekonomi bisa melambat karena konsumsi masyarakat ikut melemah. Namun kalau suku bunga tetap rendah, investor asing merasa aset Indonesia kurang menarik dibanding obligasi Amerika Serikat.

Cadangan devisa Indonesia juga mulai menurun. Pada April 2026, cadangan devisa turun menjadi 146,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.556 triliun dari sebelumnya 148,2 miliar dolar AS. Penurunan ini terjadi karena pemerintah dan bank sentral terus menggunakan cadangan dolar untuk menjaga stabilitas rupiah serta membayar utang luar negeri.

4. Harga barang impor berpotensi makin mahal

ilustrasi obat (pexels.com/Kaboompics.com)
ilustrasi obat (pexels.com/Kaboompics.com)

Kalau rupiah terus melemah, dampak paling terasa nantinya ada di kehidupan sehari-hari. Barang impor seperti elektronik, obat-obatan, sampai bahan bakar berisiko mengalami kenaikan harga. Perusahaan juga harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli bahan baku dari luar negeri.

Kondisi ini bisa memicu inflasi impor, yaitu kenaikan harga barang akibat nilai tukar yang melemah. Daya beli masyarakat perlahan ikut tergerus karena pengeluaran makin besar sementara pendapatan belum tentu naik. Beberapa perusahaan bahkan mulai melakukan efisiensi agar tetap bertahan menghadapi biaya produksi yang melonjak.

Situasi tersebut juga membuka potensi terjadinya pemutusan hubungan kerja di beberapa sektor industri. Perusahaan yang marginnya makin tipis kemungkinan akan mengurangi biaya operasional, termasuk jumlah pekerja. Efek domino seperti ini biasanya paling terasa ketika pelemahan mata uang berlangsung cukup lama.

5. Apakah rupiah bisa tembus Rp18.000?

ilustrasi mata uang rupiah
ilustrasi mata uang rupiah (pexels.com/Robert Lens)

Banyak analis mulai memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah lebih jauh. Dalam skenario dasar, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.550 sampai Rp17.700 per dolar AS. Namun jika konflik Timur Tengah makin memburuk dan harga minyak melonjak di atas 120 dolar AS atau sekitar Rp1,95 juta per barel, rupiah berpotensi menembus Rp18.000 hingga Rp18.300 per dolar AS.

Meski terdengar mengkhawatirkan, kondisi sekarang belum bisa disamakan dengan krisis moneter 1998. Sistem perbankan Indonesia saat ini jauh lebih sehat dengan pengawasan yang lebih ketat. Pemerintah dan Bank Indonesia juga masih memiliki berbagai instrumen untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Namun tantangan terbesar sebenarnya adalah menjaga kepercayaan pasar. Investor ingin melihat kebijakan ekonomi yang transparan, disiplin fiskal, dan langkah nyata untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi. Jika reformasi berjalan lambat, tekanan terhadap rupiah kemungkinan masih akan terus berlangsung dalam jangka menengah.

Pelemahan rupiah kali ini memang jadi alarm serius bagi ekonomi Indonesia. Faktor global memang punya pengaruh besar, tapi kondisi dalam negeri juga ikut menentukan seberapa kuat rupiah mampu bertahan. Selama ketergantungan impor energi masih tinggi dan kepercayaan investor belum pulih sepenuhnya, tekanan terhadap rupiah kemungkinan belum akan cepat hilang.

Meski begitu, situasi sekarang tetap berbeda dibanding krisis besar di masa lalu karena fondasi perbankan Indonesia jauh lebih siap. Ke depan, langkah pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga kepercayaan pasar bakal jadi penentu utama apakah rupiah bisa stabil lagi atau justru terus melemah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More