Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Tips Menghitung Harga Jual Katering agar Keuntungan Tidak Menyusut

4 min read
5 Tips Menghitung Harga Jual Katering agar Keuntungan Tidak Menyusut
ilustrasi susunan prasmanan elegan yang menampilkan berbagai hidangan lezat dalam wadah penghangat makanan (pexels.com/Zak Chapman)
  • Harga jual katering perlu memasukkan biaya di luar bahan makanan, termasuk perubahan pesanan mendadak, agar pengeluaran tambahan tidak menggerus keuntungan.

  • Pelaku usaha perlu menetapkan minimum pesanan yang menutup biaya persiapan serta mengatur biaya sesi uji rasa secara jelas dalam penawaran atau paket.

  • Porsi cadangan dan layanan lokasi—penataan, waktu tunggu, petugas, perlengkapan, serta pengiriman—harus dihitung sejak awal sesuai kebutuhan acara.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menentukan harga jual katering tidak cukup hanya dengan menghitung biaya bahan makanan dan menambahkan keuntungan yang diinginkan. Ada sejumlah pengeluaran yang baru terlihat ketika bisnis menerima pesanan khusus, melayani acara, atau menghadapi permintaan pelanggan yang berubah menjelang hari pengiriman. Jika tidak diperhitungkan sejak awal, biaya tambahan tersebut bisa mengurangi keuntungan meskipun pesanan sudah dibayar.

Tantangannya, setiap pesanan katering memiliki kebutuhan yang berbeda, baik dari segi jumlah porsi, persiapan, maupun layanan di lokasi acara. Pelaku usaha perlu memastikan setiap komponen yang diberikan kepada pelanggan memiliki perhitungan biaya yang jelas. Yuk, simak lima tips menghitung harga jual katering agar keuntungan tidak menyusut berikut ini.


  1. 1. Memperhitungkan biaya perubahan pesanan mendadak

    ilustrasi seseorang menggunakan kalkulator dan laptop sambil mencatat di meja
    ilustrasi seseorang menggunakan kalkulator dan laptop sambil mencatat di meja (pexels.com/Mikhail Nilov)

    Pesanan katering bisa berubah setelah kesepakatan awal, misalnya ketika pelanggan menambah jumlah porsi, mengganti menu, atau meminta tambahan hidangan menjelang acara. Perubahan tersebut dapat membuat pelaku usaha harus membeli bahan tambahan, mengatur ulang jadwal produksi, atau menambah tenaga kerja. Jika harga awal tidak memiliki ketentuan mengenai perubahan pesanan, biaya tambahan berisiko ditanggung oleh bisnis tanpa menghasilkan pendapatan yang sepadan.

    Untuk mengantisipasinya, tentukan batas waktu perubahan pesanan dan jelaskan konsekuensi biayanya kepada pelanggan sejak awal. Permintaan yang masuk setelah bahan dibeli atau proses memasak dimulai perlu dihitung kembali berdasarkan pengeluaran tambahan yang muncul. Dengan begitu, harga yang disepakati tetap menjadi acuan, sedangkan perubahan kebutuhan bisa dibicarakan secara transparan tanpa mengorbankan keuntungan usaha.


  2. 2. Menentukan batas minimum pesanan yang menguntungkan

    ilustrasi sekelompok orang menikmati prasmanan meriah di dalam ruangan
    ilustrasi sekelompok orang menikmati prasmanan meriah di dalam ruangan (pexels.com/Deffo Manizo)

    Pesanan dalam jumlah kecil belum tentu memberikan keuntungan lebih besar hanya karena harga per porsinya lebih tinggi. Bisnis tetap membutuhkan waktu untuk berbelanja, menyiapkan bahan, memasak, mengemas, dan mengatur pengiriman, terlepas dari banyaknya makanan yang dibuat. Jika jumlah pesanan terlalu sedikit, biaya persiapan tersebut bisa menjadi terlalu besar dibandingkan pendapatan yang diterima.

    Pelaku usaha dapat menghitung jumlah porsi minimum yang diperlukan untuk menutup biaya persiapan dan pengeluaran tetap yang berkaitan dengan pesanan. Jika pelanggan memesan di bawah batas tersebut, bisnis dapat menawarkan biaya layanan minimum atau paket dengan jumlah porsi yang lebih sesuai. Strategi ini membantu katering menghindari pesanan yang terlihat menghasilkan pemasukan, tetapi ternyata hanya memberikan keuntungan sangat tipis setelah seluruh biaya dihitung.


  3. 3. Menghitung biaya sesi uji rasa sebelum acara

    ilustrasi dua wanita menikmati hidangan segar di suasana kafe yang nyaman
    ilustrasi dua wanita menikmati hidangan segar di suasana kafe yang nyaman (pexels.com/Sam Lion)

    Sebagian pelanggan katering, terutama yang memesan untuk pernikahan atau acara perusahaan, ingin mencoba makanan terlebih dahulu sebelum memilih paket. Sesi uji rasa tersebut membutuhkan bahan baku, waktu memasak, kemasan, dan tenaga untuk menyiapkan hidangan. Jika bisnis rutin menyediakan sesi ini tanpa memperhitungkan biayanya, pengeluaran untuk mendapatkan pelanggan bisa terus mengurangi keuntungan dari pesanan yang akhirnya diterima.

    Pelaku usaha perlu menentukan apakah sesi uji rasa dikenakan biaya tersendiri atau menjadi bagian dari penawaran paket tertentu. Jika biayanya akan diperhitungkan dalam pesanan akhir, ketentuan tersebut sebaiknya disampaikan sejak awal agar pelanggan memahami mekanismenya. Dengan perencanaan yang jelas, bisnis tetap bisa memberikan kesempatan kepada calon pelanggan untuk menilai kualitas makanan tanpa menjadikan proses penawaran sebagai pengeluaran yang tidak terkendali.


  4. 4. Memperhitungkan biaya porsi cadangan

    ilustrasi prasmanan elegan dengan berbagai hidangan yang disajikan dalam penghangat pada acara katering
    ilustrasi prasmanan elegan dengan berbagai hidangan yang disajikan dalam penghangat pada acara katering (pexels.com/Mick Latter)

    Dalam pesanan katering untuk acara, menyiapkan makanan cadangan dapat membantu mengantisipasi perubahan jumlah tamu atau kesalahan pembagian porsi. Namun, makanan tambahan tersebut tetap membutuhkan bahan baku, tenaga memasak, dan kemasan jika disediakan dalam bentuk siap saji. Jika jumlah cadangan selalu ditentukan berdasarkan perkiraan tanpa perhitungan, biaya produksi bisa meningkat sementara sebagian makanan justru tidak terpakai.

    Karena itu, tentukan kebutuhan cadangan berdasarkan jenis acara, kepastian jumlah tamu, dan karakteristik menu yang dipesan. Biaya untuk porsi tambahan perlu dimasukkan ke dalam perhitungan penawaran apabila memang menjadi bagian dari layanan yang dijanjikan. Pendekatan ini membantu bisnis menjaga kesiapan menghadapi perubahan tanpa harus menanggung pengeluaran berlebihan hanya karena menyediakan makanan jauh di atas kebutuhan yang realistis.


  5. 5. Menghitung biaya waktu tunggu dan penataan di lokasi

    ilustrasi seorang koki dengan mahir menyajikan berbagai hidangan berwarna-warni di prasmanan
    ilustrasi seorang koki dengan mahir menyajikan berbagai hidangan berwarna-warni di prasmanan (pexels.com/Ifenacho Solomon)

    Pesanan katering untuk acara tertentu tidak selalu selesai ketika makanan berhasil dimasak dan dikirim. Pelaku usaha mungkin perlu menyediakan tenaga untuk menata makanan, menunggu waktu penyajian, mengisi ulang hidangan, atau membereskan perlengkapan setelah acara. Jika layanan tersebut termasuk dalam kesepakatan tetapi tidak dihitung sebagai komponen biaya, bisnis bisa mengeluarkan waktu dan tenaga tambahan tanpa memperoleh pendapatan yang sepadan.

    Sebelum memberikan penawaran, pastikan kebutuhan layanan di lokasi sudah diketahui, termasuk durasi pengerjaan, jumlah petugas, perlengkapan yang diperlukan, dan jarak pengiriman. Apabila pelanggan membutuhkan waktu tunggu lebih lama atau layanan tambahan di luar kesepakatan, biaya tersebut perlu dijelaskan sejak awal. Dengan begitu, harga jual tidak hanya menutup biaya makanan, tetapi juga mencerminkan keseluruhan layanan yang benar-benar diberikan kepada pelanggan.

    Menghitung harga jual katering membutuhkan perhatian terhadap biaya yang muncul di luar proses memasak. Perubahan pesanan, batas minimum pembelian, sesi uji rasa, porsi cadangan, dan layanan di lokasi dapat memengaruhi keuntungan jika tidak diperhitungkan secara tepat. Dengan memasukkan kebutuhan tersebut ke dalam penawaran sejak awal, pelaku usaha dapat menjaga harga tetap realistis sekaligus mengurangi risiko keuntungan menyusut setelah pesanan selesai.


This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More