Selepas maghrib sehabis gerimis
wayahnya menjamu diri di berbagai sisi
kota, yang mempertemukan
mengiringi, dan membangun mimpi-mimpi

Adalah kau kekasih
puncak ku berekspresi
di tengah jeritan depresi, mendudukkan aku
di ruang-ruang sunyi yang kujejaki

Padahal kau sendiri serupa
serupa aku di permukaan
hanya saja, kau perkasa
sekeras batu yang menolak dihancur paksa
hanya mampu tergores waktu lewat tetes-tetes air

Adalah kau kekasih
gumpalan daging terbaik
yang dirasuki ruh seorang peri
menjelma dalam hening
memekik, kala ku tak sanggup berdiri