Barangkali angin telah mafhum,
mengapa sekuntum kembang
tetap mekar di beranda
meski tiada kumbang bertandang.

Ia tak mengaduh kepada musim,
tak merajuk pada hujan,
hanya sesekali menggugurkan kelopak
ketika rindu terlampau sarat
untuk ditanggung tangkai.

Begitulah kiranya aku
semenjak mengenalmu.

Ada renjana yang tumbuh
di sela gurau dan senda,
menyelinap di antara kata-kata
yang saban hari kita pertukarkan
tanpa curiga.

Kau bercerita tentang dunia,
aku mendengarkan dengan saksama.
Sesekali tertawa pada kelakarmu,
padahal ada perkara dalam dada
yang tak kunjung menemukan bahasa.

Ah, barangkali begitulah cinta
menyamar sebagai perkara biasa.
Ia datang tanpa tabuh,
berdiam tanpa alamat,
lalu menetap begitu saja
seolah sejak mula
di sanalah rumahnya.

Tak usahlah kau bertanya
mengapa aku betah berlama-lama.
Bukankah senja pun tak pernah menjelaskan
mengapa ia sudi singgah
di kaki cakrawala?

Dan bila kelak
kau mencintai seseorang,
semoga ia menjagamu
sebagaimana aku diam-diam mendoakanmu.
Tanpa perlu kau tahu,
tanpa perlu namaku
tersebut dalam doamu.

Sebab ada kasih
yang tak hendak menjadi milik,
hanya ingin melihat
yang dikasihinya berbahagia.

Selebihnya, biarlah rahasia
menjadi milik malam
dan aku menjadi seseorang
yang pernah kau kenal
tanpa pernah kau ketahui
betapa jauh hatinya
telah berjalan.