Seterjal bebatuan di jalanan
berliku bahkan menjatuhkan
kaki mungil yang setia berjalan.
Di balik titik takdir yang menyatukan
puing-puing asa dalam dua raga berbeda,
ada air mata yang mengucur deras
membasuh setiap luka dan duka.
Setiap detak waktu yang bergeser,
hanya ada doa yang terus dilangitkan.
Bukan tentang menyuburkan ego
namun saling bertahan dalammenanam asa agar bersama.
Karena keindahan harus ditebus
oleh kesulitan selama nafas berhembus.
![[PUISI] Badai sebelum Bersama](https://image.idntimes.com/post/20260308/pexels-trungnguyenphotog-5108999_5dd28b2d-6124-406e-851d-a389fbf7e005.jpg)