Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

[PUISI] Buku Tulis yang Tak Pernah Dibaca Negara

[PUISI] Buku Tulis yang Tak Pernah Dibaca Negara
Sketsa seorang gadis duduk (pexels.com/@pixabay)
Share Article

Anak itu
masih bisa mengeja mimpi
dengan huruf miring di buku tulis murah,
tapi negara membaca hidupnya
sebagai catatan kaki
yang boleh dilewati.

Di NTT,
matahari terlalu rajin menyala
sementara sekolah terlalu sering lupa
bahwa perut kosong
tidak pernah akrab
dengan pelajaran Pancasila.

Ia belajar berhitung
dari jarak:
jarak rumah ke sekolah,
jarak janji ke kenyataan,
jarak suara tangis ke telinga pejabat
yang sedang rapat soal masa depan
versi PowerPoint.

Anak itu SD,
tapi sudah lebih dulu paham
apa arti ditinggalkan.
Ia hafal bentuk abai
dari seragam yang sama
dipakai berulang
hingga warnanya menyerah.

Pemerintah berkata:
pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan
lalu lupa membangun jalannya.
Menyuruh anak berjalan
di tanah retak,
tanpa air, tanpa sepatu,
tanpa alasan untuk tetap kuat.

Ketika ia pergi,
negara buru-buru datang
membawa karangan bunga
dan kalimat duka
yang dicetak rapi,
tanpa tanda tanya.

Tak ada yang bertanya:
mengapa anak sekecil itu
lebih dulu putus asa
daripada para pengambil keputusan?
Mengapa yang paling cepat menyerah
justru bukan mereka
yang digaji untuk peduli?

Di berita,
kematiannya diringkas
jadi angka,
jadi kasus,
jadi jeda iklan.

Lalu kita lanjut hidup,
seolah itu tak pernah terjadi
karena bagi negara,
yang mati hanya satu anak,
bukan kegagalan sistem.

Padahal yang bunuh diri hari itu
bukan cuma seorang murid SD,
tapi juga
nurani yang terlalu lama
diparkir
di gedung-gedung ber-AC.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ken Ameera
EditorKen Ameera

Related Articles

See More

[PUISI] Mendung yang Tak Bisa Dibagi

26 Jun 2026, 21:27 WIBFiction
[PUISI] Masa Usang

[PUISI] Masa Usang

26 Jun 2026, 21:07 WIBFiction
[PUISI] Lemah Tapi Kuat

[PUISI] Lemah Tapi Kuat

25 Jun 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Secercah Gelisah

[PUISI] Secercah Gelisah

24 Jun 2026, 21:17 WIBFiction
[PUISI] Lumbung Kosong

[PUISI] Lumbung Kosong

23 Jun 2026, 07:07 WIBFiction
[PUISI] Menebak Arah Dunia

[PUISI] Menebak Arah Dunia

23 Jun 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Batas Nalar

[PUISI] Batas Nalar

22 Jun 2026, 21:27 WIBFiction
[PUISI] Lembaran dan Balon

[PUISI] Lembaran dan Balon

22 Jun 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Andai Aku Cantik

[PUISI] Andai Aku Cantik

21 Jun 2026, 07:07 WIBFiction