Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi baki makan siang (pixabay.com/Dee)
  • Puisi mempertanyakan kapan nyawa manusia benar-benar dianggap berharga, di tengah gambaran puluhan ribu korban keracunan dan ratusan ribu infeksi.
  • Warga digambarkan tak dianggap penting, kecuali saat dibutuhkan untuk mendulang suara, sementara kepentingan lain dinilai lebih bermakna daripada jiwa manusia.
  • Kritik utama diarahkan pada pihak yang tetap menikmati keberhasilan besar di tengah penderitaan korban, dengan manusia direduksi menjadi sekadar angka.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Memang semenjak bila nyawa dianggap berharga
Entah puluhan ribu teracun agenda malapetaka
Entah ratusan ribu terinfeksi akibat laku sengaja
Tiada warga yang cukup penting dan berguna
Kecuali tiba waktunya mendulang suara

Memang sejak bila nyawa dianggap berharga
Entah itu satu dua atau berhingga-hingga
Tiada jiwa yang lebih punya makna
Ketimbang lahan basah tercinta
Oh durjana!

Sejak dulu nyawa tak dianggap berharga
Selama bancakan mereka baik-baik saja
Sukses sembilan puluh sembilan koma
Masa bodoh yang lain meniada 
Semua itu hanyalah angka

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team