Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

[PUISI] Hibernasi Dewi

[PUISI] Hibernasi Dewi
unsplash.com/kevin laminto
Share Article

Antara sumbangnya jeritan kereta kuda dan makhluk fana
berjejalan di celah spasi antar raga
Tak ubahnya tepukan fajar di bahu pertiwi tiba
Sejenak purnama melenyap pelita
Jalanan telah didesak sejuta umat tuk sambung usia
Sedang trotoar telah disapu rata barisan berseragam pun asongan yang tak sekedar cari hawa

  1. Hiruk pikuk dunia; saling menelan dari roda ke roda, kaki ke kaki, frasa ke frasa
    Destinasi tunggal ditempuh dari pintu mana-mana
    Egoisme di atas egoisme
    Acu pada sayap-sayap rusak yang dikepak percuma
    Sementara hati mendengkur dari sudut selimut masa

  2. Pada zaman di mana asap adalah napas,
    dan tembakau adalah nadi-nadi berdetak

    Secercah realita, realita hati, hati kumuh, kumuh saja tak mampu dilenyap
    Memang manusia; selalu manusia
    Sudah seperti toksin menggelantung pada
    aerosol-aerosol di tiap lekukan wajah sang Bunda

  3. Penjara
    Sebuah penjara air mata disusun dari pernik-pernik api penuh kontradiksi
    Sebuah penjara duka lara diretas antar bola mata penuh isyarat benci
    Dan terus saja kita rela disentuh oleh fatamorgana nista
    Dan terus saja kita rela dijerat oleh tali dari jurang sukma

  4. Maka berhentilah; jika kau tahu eksistensi larik-larik umpatan yang diekspos sama dengan rentangan aib diri

    Seperti tak lazimnya meneliti cermin ketika berandal tak dewasa ditemu pada lensa kwarsanya berdiri

    Maka berhentilah; mengapa tidak bangunkan saja ketulusan itu dari dasar hati yang tertidur?

    Sudah waktunya kita menggali jiwa-jiwa luhur, yang telah lama terkubur.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article

Curated For You

Editorial Team