Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

[PUISI] Negeri yang Sibuk Mengukur Bahagia

1 min read
[PUISI] Negeri yang Sibuk Mengukur Bahagia
ilustrasi seorang wanita yang tersenyum bahagia (pexels.com/Raphael Bruno)
  • Puisi menggambarkan negeri yang mengukur kebahagiaan lewat angka, tepuk tangan, dan citra sukses, sehingga kesedihan kerap disembunyikan.
  • Orang-orang berlomba mencapai puncak demi terlihat berjaya, tetapi banyak hati tetap mempertanyakan makna pencapaian mereka.
  • Kebahagiaan digambarkan hadir dalam kebebasan sederhana, seperti anak bermain, saat seseorang berhenti membandingkan perjalanan hidupnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di negeri itu, bahagia punya ukuran
Dihitung dari angka dan tepuk tangan
Senyum harus tampak di setiap foto
Sedih disimpan agar tak merusak citra

Orang-orang berlomba menaiki tangga
Saling menyalip demi terlihat berjaya
Namun di puncak yang penuh cahaya
Banyak hati bertanya, “Sudah sampai mana?”

Seorang anak tertawa di pinggir jalan
Mengejar layang-layang tanpa tujuan
Tak punya piala atau pengakuan
Namun matanya penuh kemerdekaan

Mungkin bahagia tak pernah bisa ditimbang
Tak tinggal di puncak atau dalam genggaman
Ia sering datang tanpa pengumuman
Saat hati berhenti membandingkan perjalanan

    This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
    Negeri yang Sibuk Mengukur Bahagia dalam Sebuah Puisi