Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi wanita meneteskan air mata (Pexels.com/FOERDER ZONE)

Dahulu, banjir seolah rutinitas
Tak peduli seberapa sakit
Kupilih mengalir dulu saja di pipi
Meski keluh dipandang terlalu berisik

Lalu kutahan embun sedikit lebih lama
Sampai nanti hujan akhirnya menjelma
Namun mereka kira terlampau perasa
Acuhkan muasal terbit di baliknya

Jadi kupaksa menguap sebelum tercipta
Malah dianggap tak alami luka
Padahal duka begitu kencang bergema
Hanya semakin mahir sembunyikan lara

Nyatanya terlepas dari air mata
Reda bukan berarti sirna
Sebab jejak patah tetap tersisa
Dan senyum takkan secerah biasanya

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team