Kupikir aku telah menempa dada menjadi cadas
kekal menahan amuk gelombang yang culas
namun, takdir adalah pemahat yang tak kenal belas
mengikis angkuhku hingga menjadi jelaga yang terlepas
Reruntuhan ini tak lagi mengenali nama dan rupa
dihempas sunyi di antara debur yang terus bergetar
retak di dinding jiwa merambat
menyimpan jelang yang membusuk dalam diam yang panjang
Kini kupeluk pecahan diri di tubir senja yang pasi
membiarkan asin air mata menyatu dengan buih pasang
agar menemukan cara menerima hancur tanpa harus meradang
![[PUISI] Memangku Puing Samudra](https://image.idntimes.com/post/20260729/pexels-abedalbaset-8668676_e40a3faf-b759-4a08-b9ed-e5f59a6a28cb.jpg)