Di tanah yang gaduh, suara-suara berkejaran
Sirene memecah malam, layar ponsel terus menyala
Kabar buruk jatuh seperti hujan yang tak sempat reda
Sementara kita menggenggam esok dengan tangan gemetar
Di trotoar, langkah-langkah pulang membawa lelah
Asap kendaraan menggantung di antara gedung-gedung
Wajah-wajah muda menatap langit yang kelabu
Menyimpan cemas di balik senyum dan notifikasi yang tak pernah diam
Namun, di sela retak trotoar sehelai rumput tetap tumbuh
Hijau kecilnya menolak kalah oleh debu dan bising kota
Seperti doa yang diam-diam kita rawat setiap malam
Meski tak tahu kapan pagi benar-benar membawa jawaban
Maka biarlah harapan menjadi api kecil di dada
Kita lindungi dari angin yang datang membawa putus asa
Sebab perubahan kadang bermula dari langkah yang nyaris tak terdengar
Dari tangan yang tetap menolong dan hati yang memilih percaya
![[PUISI] Merawat Harapan di Tanah Gaduh](https://image.idntimes.com/post/20260914/1000244244_d2dfd167-f78e-4f9a-aea1-5616f2d57906.jpg)