Pada malam yang dingin dan terasa sunyi
Aku berbicara dengan sepi yang tak kunjung pergi menepi
Tentang luka lama yang kembali mengetuk pintu hati
Mengajak berbincang tanpa ada sedikit pun basa-basi
Kedatangannya terasa perlahan seperti bayangan
Namun, mengisi ruang kosong dengan rasa kehilangan
Tiada suara sebagai tanda, apalagi sebuah penerangan
Hanya berisi jejak rindu dan kepedihan yang menyedihkan
Aku berjalan menunduk lalu terdiam
Menyembunyikan perih yang tak mudah padam
Terlihat tenang, tapi di dalamnya begitu kelam
Tertawa di luar, tapi tak henti-hentinya terisak tangisan di dalam
Sudah biasa berpura-pura kuat
Karena lelah terasa jika terus terlihat penat
Tentang semua luka yang tak selalu bisa disembuhkan dengan obat
Beberapa di antaranya cukup disimpan rapat-rapat
Namun, bukankah itu cara manusia untuk bertahan?
Menghapus air mata dengan sedikit senyuman
Berlagak bahagia agar tak jadi beban
Meski jiwa sendiri perlahan hilang dari pandangan
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Merengkuh Pilu
![[PUISI] Merengkuh Pilu](https://image.idntimes.com/post/20250614/pexels-karolina-grabowska-8532490.jpg)
ilustrasi memeluk diri sendiri (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)
Take a Deeper Read
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Curated For You
- Perempuan Penggerak Koperasi Tangguh di Tepi Rel20 Oct 2026, 09:20 WIB
- [PUISI] Putar Langkah13 Jun 2025, 05:04 WIB
- Dipa Andika Bongkar Soal Perizinan dan Produksi Operasi Pesta Copet di Pestapora04 Sep 2026, 08:59 WIB
- [PUISI] Atma Menanti Nirwana14 Jun 2025, 05:04 WIB
Editorial Team
EditorYudha
Related Article
[PUISI] Hutan Mengabu dan Burung Tak Bersuara24 Oct 2026, 20:27 WIB
[PUISI] Cahaya di Balik Kesedihan24 Oct 2026, 20:07 WIB
[PUISI] Rapat Darurat di Dalam Kepala24 Oct 2026, 17:07 WIB
[PUISI] Rintik yang Pulang Setelah Penantian24 Oct 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Janji Manis Dewa Petir yang Menyambar Kewarasan24 Oct 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Bangku Tua di Ujung Taman23 Oct 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Asa Berperi23 Oct 2026, 20:07 WIB
[PUISI] Bencana di Balik Angka23 Oct 2026, 18:07 WIB
[PUISI] Jendela yang Selalu Terbuka23 Oct 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Anak Kecil Itu Sudah Mati23 Oct 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Melodi yang Kehabisan Kata22 Oct 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Juang Tanpa Henti22 Oct 2026, 20:17 WIB
[PUISI] Figuran Tanpa Nama22 Oct 2026, 10:07 WIB
[PUISI] Mengukir Luka Baru22 Oct 2026, 08:18 WIB
[PUISI] Sungai yang Tidak Melawan Batu22 Oct 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Ketika Sarang Menjadi Abu22 Oct 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Tetaplah Jatuh Cinta Walau Negara Porak-Poranda22 Oct 2026, 01:10 WIB
[PUISI] Asap Kalimantan dan Wajah-Wajah yang Berpaling22 Oct 2026, 00:19 WIB
[PUISI] Terima Kasih Hidup21 Oct 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Benar Pada Akhirnya21 Oct 2026, 20:07 WIB