Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
[PUISI] Patah-Patah Napas
ilustrasi menahan rasa sakit (pexels.com/Rafael Barros)

Di depanmu, aku menolak menyerah
Meski dada ini sudah terbelah
Mata terpejam, bibir kukunci rapat
Menahan isak yang ingin melompat

Napas kutarik, patah dan berat
Mengusap lukamu yang kian menganga
Suaraku bergetar menahan perih
Berpura-pura tegar di batas rintih

"Masih sanggupkah kau bernapas, Ibu?"
Tanyaku pada tanah tempatku bertumpu
Ternyata bukan dadaku yang paling lelah
Tapi Tanah Airku juga sedang berdarah

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team