Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
[PUISI] Perjamuan di Kepala Tuan yang Lapar
ilustrasi mata menatap tajam ke depan (pexels.com/Abbat .)

Mata perempuan itu syahdu
Bibirnya merah merona dengan gincu
Jemari lentiknya terbayang lembut meraba-raba kulit di balik baju
Tubuhnya pun terasa suam-suam kuku

Leher, dada, dan segala lekuk yang kau damba makin merapat di kepala bertuan patriarki
Matamu tak kenyang
Makin kering tekakmu menelanjangi akal
Kau nyalar susun ia dari serpihan fantasi yang kau ciptakan sendiri
Bukan begitu, tuan?

Persetan. Bajingan.
Habis kau tersedak harga diri yang tak pernah sudi tunduk pada birahi
Sebab perempuan bukan objek dan hidangan
Ia adalah pemegang takhta atas dirinya sendiri

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team