Mata perempuan itu syahdu
Bibirnya merah merona dengan gincu
Jemari lentiknya terbayang lembut meraba-raba kulit di balik baju
Tubuhnya pun terasa suam-suam kuku
Leher, dada, dan segala lekuk yang kau damba makin merapat di kepala bertuan patriarki
Matamu tak kenyang
Makin kering tekakmu menelanjangi akal
Kau nyalar susun ia dari serpihan fantasi yang kau ciptakan sendiri
Bukan begitu, tuan?
Persetan. Bajingan.
Habis kau tersedak harga diri yang tak pernah sudi tunduk pada birahi
Sebab perempuan bukan objek dan hidangan
Ia adalah pemegang takhta atas dirinya sendiri
![[PUISI] Perjamuan di Kepala Tuan yang Lapar](https://image.idntimes.com/post/20260305/pexels-abbat-2342223-5595566_20c73111-9ae7-4c39-b582-ecd2dfb0ed9d.jpg)