Sajadah usang itu masih tergelar
Warnanya luntur dimakan usia
Tiap seratnya bercerita tentang sujud
Tentang dahi yang menempel basah oleh air mata

Ada bau wangi khas di sana
Bukan minyak, tapi akumulasi cinta
Dulu di atas sajadah ini, Nenek berlama-lama
Berbisik pada Tuhan, tentang anak cucunya

Kini aku bersimpuh di atasnya
Merasakan hangat yang tertinggal
Sajadah ini bak perahu usang
Yang tetap setia mengarungi lautan doa

Aku mewarisi selembar sajadah
Dan di dalamnya, seluruh cinta Nenek yang tak pernah mati
Ia adalah peta menuju surga
Yang digambar dengan tetes-tetes air mata