Pelukan rimba menyimpan rahasia tua,
anak panah melintasi bisik dedaunan sunyi.
Ada damai semu dipelihara masa,
dan saudari di balik sangkar, terkunci janji.
Malam, merekah bagai luka menganga,
besi-besi merobek kabut, memuntahkan bara.
Di antara amis darah dan puing membara,
kebohongan runtuh: sang saudari ternyata jelmaan semata.
Kenyataan terbalik di telapak tangan,
saudara sekandung berdiri di seberang ketiadaan.
Cermin takdir pecah, tak lagi terhindar,
melempar sang pemburu ke tengah pusaran kegelapan.
Dari batu karang kuno terlelaplah prasasti,
dua sosok penjaga terjaga mengikat sumpah pada jiwa.
Kiri dan kanan melangkah, menyertai garis takdir,
menembus gerbang malam, melintasi misteri dua nyawa.
![[PUISI] Sepasang Bayang di Ambang Batas](https://image.idntimes.com/post/20260721/pexels-eye4dtail-136351_64b8c98e-900c-4b51-841b-396c21d1bac7.jpg)