Di ufuk timur, mentari masih menyapa
Raja Ampat berselimut cahaya surga
Karang dan ikan menari di bawah laut
Namun di atasnya, kerakusan mulai memagut
Gag, Kawe, dan Manuran bersaksi
Cakar mesin menggigit tanah asli
Bukan lagi gemericik air jernih
Tapi debu nikel yang mulai menyisih
Surga terakhir, kata mereka
Tapi surga kini dibungkam logam yang dipuja
Bukan nyanyian burung cenderawasih
Tapi gemuruh truk yang mengganti sunyi
Katamu ini demi masa depan hijau
Katamu ini demi energi yang lestari
Tapi apa arti bersih jika akar diracun?
Apa arti hijau jika laut dikeruhkan?
Tagar pun berkumandang,
#SaveRajaAmpat bukan sekadar suara bimbang
Ini jerit bumi yang terengah
Ini panggilan dari luka yang pasrah
Sang pemerhati bumi berseru di tengah riuh
Menembus dinding-dinding bisu penguasa
Tanyakan pada pasir putih yang kini merintih
Tanyakan pada terumbu yang mulai sedih
Bukan kami menolak kemajuan
Tapi apa arti maju jika surga dilupakan?
Jangan korbankan harta warisan
Demi emas semu dan janji masa depan
Wahai pemangku kuasa,
Ingat, tanah ini bukan milik siapa-siapa
Ia titipan, ia amanah
Yang harus dijaga, bukan dijarah
Raja Ampat, maafkan kami
Kami terlambat, tapi belum usai
Selama ada suara dan hati yang peduli
Kami akan terus berdiri
Menyuarakan langit dan lautmu kembali
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Surga yang Terluka
![[PUISI] Surga yang Terluka](https://image.idntimes.com/post/20250606/sutirta-budiman-DxmBSgUYKis-unsplash.jpg)
ilustrasi pesona Raja Ampat (unsplash.com/sutirta budiman)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Curated For You
- [PUISI] Merengkuh Pilu15 Jun 2025, 05:04 WIB
- [PUISI] Lelaki Penyendiri13 Jun 2025, 15:47 WIB
- [PUISI] Racun Tempat Kerja15 Jun 2025, 19:22 WIB
Editorial Team
EditorKidung Swara Mardika
Related Article
[PUISI] Menjahit Sunyi di Hulu Usia12 Agu 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Anak Terbalut Luka12 Agu 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Berlabuh di Pulau Berbeda11 Agu 2026, 21:17 WIB
[PUISI] Bintang yang Bersinar Sendiri11 Agu 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Tempat Pulang di Dunia11 Agu 2026, 17:07 WIB
[PUISI] Pertanyaan yang Tak Pernah Pergi11 Agu 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Kau Adalah Waktu11 Agu 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Persimpangan Jalan10 Agu 2026, 21:27 WIB
[PUISI] Bunyi yang Tak Pernah Datang10 Agu 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Saat Hasil Tak Kunjung Tiba10 Agu 2026, 14:07 WIB
[PUISI] Satu Pagi Menjamu Agustus10 Agu 2026, 06:52 WIB
[PUISI] Rumah yang Ternyata Bisa Patah10 Agu 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Gelombang Culas10 Agu 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Tak Kurang Sebelum Berdua09 Agu 2026, 20:52 WIB
[PUISI] Bayangan Aksara yang Terkunci09 Agu 2026, 20:27 WIB
[PROSA] Masa Lalu yang Belum Usai09 Agu 2026, 20:07 WIB
[PUISI] Langit Masih Menyimpan Jawaban09 Agu 2026, 14:47 WIB
[PUISI] Untuk Sekadar Diberi Ruang09 Agu 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Liturgi sang Pengembara Maut09 Agu 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Secangkir Teh dan Hening08 Agu 2026, 21:07 WIB