Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

[PUISI] Tentang Pulang yang Hanya Berani Kuingat

[PUISI] Tentang Pulang yang Hanya Berani Kuingat
ilustrasi pulang (unsplash.com/Spencer Plouzek)

Di kota yang tak pernah benar-benar tidur
aku berjalan sendiri di antara lampu-lampu yang tak mengenal namaku
Surabaya ramai, tetapi hatiku sunyi
seperti stasiun yang kehilangan kereta terakhirnya

Ada dingin yang diam-diam tinggal di ingatan
tentang pagi berkabut di Paris van Java
tentang jalanan yang lebih pelan dan lebih ramah
seolah waktu di sana tahu cara memeluk manusia

Aku ingin pulang
bukan sekadar ke tempat
tetapi kepada rasa yang dulu sederhana
ketika langit terasa lebih dekat dan napas lebih ringan

Di sini aku punya alasan untuk bertahan
wajah kecil yang menungguku pulang
tangan yang menggenggamku saat lelah
dan satu hati yang memilihku tiap hari

Namun rindu tetap datang diam-diam
menyusup lewat udara yang tak lagi sejuk
membawa nama lain seperti doa yang tertahan
yang hanya bisa kusebut dalam diam

Aku belajar hidup dengan dua arah
melangkah ke depan, tetapi menoleh ke belakang
Dan mungkin itulah arti bertahan
bukan tak merasa sepi
melainkan tetap tinggal
meski hati ingin pulang

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kidung Swara Mardika
EditorKidung Swara Mardika
Follow Us

Related Articles

See More

[PUISI] Dihakimi di Rumah Sendiri

25 Apr 2026, 20:27 WIBFiction
[PUISI] Paradoks

[PUISI] Paradoks

23 Apr 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Kepada Perempuan

[PUISI] Kepada Perempuan

22 Apr 2026, 05:25 WIBFiction