Makhluk hidup berbulu tebal nan lembut
Resmi menjadi bagian diriku yang penakut
Akan suara hujan di atap seng tipis akut
Sebab, tetes air hujannya bak menyergap
Bantal dan sejumput alat musik terganjal
Di telinga 'tuk menyamarkan hujan brutal
Pernah terjadi dulu sebelum ia akhirnya ikut
Mewarnai lagi kertas kehidupanku yang kusut
Kini dinding kalbuku pecah berkeping-keping
Terlepas benang jahitan luka oleh si hening
Menyobek cemas yang sedang kupandang
Wajahnya yang gemas berkuping panjang
Dengan cermat mendidih kepalaku amat kuat
Jiwaku sungguh kasihan, terkurung dalam penat
Rasa takutku kini tercurah untuk sang adik angkat
Gemar menggigit rok sutra, terdiam dalam hangat
![[PUISI] Terdiam dalam Hangat](https://image.idntimes.com/post/20260414/1000008766_d8f14ba2-4c52-433f-ba7b-b358e7c8685d.jpg)