Telah mengakar dengan kuat,
pada hati yang mulai tertambat.
Tertindih atas rasa yang sudah lama merunduk,
menanti waktu untuk benar-benar terkubur.
Namun,
lama-lama ia tertimbun lalu mengembun,
laksana air yang mudah menyurut riuh.
Hingga diseret paksa oleh rangkaian damba,
yang menuntut kembali untuk memupuk.
Lalu pada akhirnya,
menuai rasa yang mulai menguap.
Kini semuanya kian sirna,
seolah digerus paksa untuk tumbang di ambang temu.
![[PUISI] Tumbang di Ambang Temu](https://image.idntimes.com/post/20260427/tomas-hudolin-frpafdyanj8-unsplash_0176e9fd-5669-47a2-8589-cc146ae62c9b.jpg)