[CERPEN-AN] Selalu Ada Maaf untuk Cinta yang Tidak Pernah Salah

Cinta memiliki jalannya sendiri untuk bahagia

Entah apa yang membuatku tergerak dan melunakkan hatiku yang selama ini keras untuk kembali ke rumah. Kembali ke masa lalu dan memutar kembali roda kenangan yang pernah aku jalani dulu. Mengizinkan ingatan kembali mengarungi hari usang yang telah berlalu, sama dengan merasakan kembali perasaan dan sakit yang sama.

Sulit bagiku mengingat kenangan manis yang pernah aku buat dengan seseorang yang sampai saat ini akan tetap aku panggil Mama. Selain, tentunya, hanya kisah pahit. Bahkan, bisa dibilang buruk yang membekas kuat di ingatanku selama menjadi bagian dari mereka, Mama dan Kak Serein, yang tidak pernah gagal membuatku merasa hanya sosok asing yang tersesat dan tidak tahu harus ke mana mencari tempat berlindung.

Ada banyak alasan yang membuat aku enggan bertandang ke rumah Mama. Perasaan bahwa aku hanyalah seseorang yang tidak mereka harapkan–yang merusak kedamaian hidup Mama dan Kak Serein–sudah seperti alarm peringatan kalau aku tidak diterima di rumah itu. Sejak dulu, sejak Papa membawaku masuk dalam kehidupan keluarganya yang lain. Sejak aku berumur 4 tahun.

“Apa kabar, Kak?” sapaku lemah begitu Kak Serein membuka pintu. Mata kami terpaut. Setelah sekian lama, aku tidak pernah bisa berhenti mengaguminya. Sedingin dan secuek apa pun sikapnya dulu terhadapku.

Tak banyak yang berubah dari Kak Serein. Kakak yang diam-diam sangat aku kagumi. Namun, keadaan memaksa aku untuk menyimpan rasa itu. Bagaimana tidak, selama kami hidup bersama, kami seperti bukan saudara. Ada dinding tak kasatmata yang kami biarkan berdiri kukuh di antara kami. Mungkin, kami menyimpan akar pahit itu di hati kami masing-masing. Luka hati yang tanpa sadar kami biarkan tumbuh subur.

“Perlu waktu sembilan tahun bagimu untuk menyadari bahwa kamu masih punya seorang kakak,” sambut Kak Serein dengan senyum kaku. Dia memelukku erat, hangat, dan rasanya nyaman. Sesuatu yang tidak pernah aku rasakan dulu. Bahkan, aku merasa dia tidak pernah menyukai kehadiranku. Sikapnya yang cuek, menganggap aku tak kasatmata, membuatku tidak berani mengusik dan bersikap manja terhadapnya. Sama seperti sikap Mama kepadaku, bahkan lebih buruk untuk setiap kata-kata tajam menusuk hati yang terlontar dari mulutnya.

Aku tidak pernah bisa lupa bagaimana tatapan tajam Mama saat pertama kali aku memasuki kehidupan mereka. Dingin, menusuk, dan terluka. Tatapan seseorang yang tak berdaya karena dikhianati, tetapi menyimpan dendam. Aku memahami dan mengerti semua itu setelah remaja. Kenyataan pahit yang Papa sembunyikan sekian lama dari Mama telah menghancurkan kepercayaan Mama terhadap Papa. Aku tahu, Mama menyimpan sakit hati dan luka yang teramat dalam. Seiiring waktu, aku mulai mengerti mengapa Mama sulit melupakan dan memaafkan perbuatan Papa.

Sejak Papa membawaku masuk dalam kehidupan mereka, suasana rumah sepertinya tidak pernah damai. Aku sering mendengar Papa dan Mama bertengkar. Mereka saling melontarkan kata-kata dengan nada tinggi dan saling menyakiti. Aku tahu, semua karena keberadaanku.

Setelah itu, hanya bantingan pintu dan suara mobil Papa yang menjauh. Selanjutnya, hanya tangisan kecil Mama yang aku dengar. Entah mengapa, saat itu aku pun ikut menangis tanpa suara. Antara rasa takut karena perasaan kehilangan rasa aman, sedih, dan merasa terluka karena sesuatu yang tidak aku mengerti.

Aku sulit lupa, bagaimana perlakuan Mama terhadapku dan Kak Serein bagaikan bumi dan langit. Bahkan, Papa yang melihat ketimpangan perlakuan itu pun tidak bisa berbuat apa-apa. Mungkin Papa terlalu lelah atau tahu diri semua terjadi karena kesalahannya sehingga sikap diam adalah cara yang Papa pilih agar tidak berakhir dengan pertengkaran. Ada banyak kemungkinan yang sebenarnya sulit aku mengerti hingga saat ini.

Perlakuan berbeda itu sudah aku terima sejak menjadi bagian dari keluarga baruku ini. Malam-malamku tidak pernah lepas dari air mata dan perasaan terluka karena tersingkir dari orang-orang yang kuharap menyayangiku, meskipun aku terlahir dari ketidaksetiaan Papa membagi cinta dan kasih sayangnya kepada Bunda, mama kandungku. 

“Kamu seperti ibumu, hanya datang untuk menghancurkan kebahagiaan kami saja,” tuding Mama setiap kali bertengkar dengan Papa.

“Sekecil ini, kamu sudah pintar membuat orang lain iba, simpati, dan sayang padamu. Kamu seperti ibumu,” cerca Mama tatkala tetangga dan saudara-saudara Papa yang datang berkunjung selalu menanyakan keadaan dan keberadaanku yang lebih memilih masuk kamar bila mereka datang.

“Kamu seperti iblis kecil yang mengganggu kehidupan kami. Mengapa kamu tidak ikut pergi saja bersama ibumu?” umpat Mama di lain waktu, meluapkan kemarahannya karena sesuatu yang tidak aku ketahui.

“Kamu sendiri? Tidak bersama Cello?”

Suara Kak Serein mengejutkanku. Mengembalikan aku pada realita. Aku mengerjap. Kedua mataku membeliak, menatap Kak Serein dengan perasaan berbaur.

“Cello ..., bagaimana Kakak bisa mengenal dia?”

Kak Serein hanya menatapku penuh arti sembari menghela napasnya. Aku menangkap kesenduan dan kabut tipis di matanya.

“Lelaki yang baik. Sejak dulu  aku selalu iri padamu. Kamu selalu membuat siapa pun sayang dan jatuh hati padamu.”

“Kakak ....” Aku kehilangan kata-kata. Kenyataan yang mengejutkan.

Anganku kembali terlempar ke masa lalu. Betapa aku berusaha keras agar Kak Serein menyayangiku, mau berbagi cerita denganku, dan menganggap aku ada. Bagian dari keluarga baruku ini. Bukankah kami ada dari ayah yang sama? Dari darah yang sama yang mengalir di tubuh kami dan membawa nama yang sama di belakang nama kami? Karena itu, aku berusaha menjadi adik yang manis, penurut, dan membanggakan buat Kak Serein. Berharap dia mengakui dan bangga memiliki aku sebagai adiknya.

Namun, hingga kami remaja, harapan itu tidak pernah terwujud. Kami hanya berkomunikasi seperlunya. Yang lebih mengiris hati lagi sikap Mama tidak pernah memberikan celah sedikit pun untukku agar bisa masuk ke hatinya, mendapatkan sedikit saja perhatian dan kasih sayangnya. Masa-masa yang penuh dengan kegetiran dan tidak pernah gagal membuat parit kecil di mataku.

Seperti apa pun usahaku untuk bisa membeli hati Mama, tidak ada yang berhasil. Mama terlalu keras hati dan sengaja membangun dinding yang kukuh agar aku tidak bisa meruntuhkannya. Dari melakukan pekerjaan rumah, belajar serius sehingga di sekolah aku selalu masuk dua besar, dan selalu berusaha menorehkan prestasi dalam setiap bidang yang aku tekuni, tetap saja tidak membuat Mama melirik, memuji, dan bangga padaku. Sesuatu yang sangat melelahkan dan menguras perasaanku.  

Yang aku dapatkan hanya kata-kata tajam mengiris hati serta tatapan dingin sarat kebencian. Pembawa sial, perusak kebahagiaan, anak pelakor, dan banyak lagi predikat buruk lainnya yang Mama lontarkan padaku bila marah. Terutama jika habis bertengkar dengan Papa. Bila membayangkan semua kejadian masa lalu itu, dadaku selalu menyempit. Aliran dingin menyergapku.

Aku merasa semua perlakuan itu tidak layak aku dapatkan. Aku tidak meminta terlahir dari seorang perempuan yang mendapat predikat pelakor dan lelaki yang tidak bisa menjaga janji pernikahan. Ketika Papa meninggalkan kami untuk selamanya karena serangan jantung, aku memutuskan ikut Oma, sesuai pesan Papa sebelum pergi bila aku tidak sanggup lagi bertahan tinggal bersama Mama dan Kak Serein.

Itu sembilan tahun yang lalu. Saat aku kelas XI. Tak pernah sekali pun hatiku terketuk untuk berkunjung atau kembali ke rumah masa laluku. Terlalu banyak kenangan pahit yang aku dapat di rumah ini. Tentang kegetiran hidup dan luka hati yang tidak pernah mampu aku bagi pada siapa pun, kecuali kepada Oma, ibu dari Papaku. Tidak juga kepada Cello, sosok yang tidak pernah lelah dan tak juga berhenti berharap aku akan membuka hatiku untuk kesungguhannya.

Selama lima tahun membersamai hariku, ia tidak pernah putus asa berusaha menghangatkan hatiku yang dingin. Dia tidak lelah meyakinkan aku bahwa cinta sehangat fajar pagi dan layak untuk aku perjuangkan dan dapatkan. Namun, aku selalu menolak untuk memercayainya. Butuh keajaiban agar bisa melupakan kenangan pahit dan menyembuhkan luka hatiku.

“Mungkin karena itu Papa kita jatuh hati pada Bundamu.” Suara Kak Serein menyeruak keheningan.

Mataku mengerjap. Silet terasa menggurat hatiku. Akhirnya, setelah sekian lama, kami bisa membicarakan hal menyakitkan ini. Hal yang sejak dulu tidak pernah berani kami singgung. Mungkin ini sudah waktunya, mengingat kami sudah dewasa dan mengerti apa yang terjadi.

“Sesungguhnya,  aku  tidak  pernah  membencimu,  meskipun dalam banyak hal kamu sering membuat aku iri. Mungkin, itulah yang membuat aku tidak memberi celah sedikit pun padamu untuk dekat padaku. Maafkan untuk semua yang pernah terjadi di masa lalu.” Kak Serein menarik sudut bibirnya sedikit. Gurat sesal tersirat di matanya.

Aku tergugu. Desahan halus terlepas dari mulutku. Setelah sekian lama, inikah kenyataan yang sebenarnya bahwa kami terjebak pada kekisruhan yang disebabkan oleh orang tua kami? Kami hanya korban dari keegoisan orang tua kami. Sebuah perjalanan hati yang melelahkan dan menguras perasaan kami.

“Mama terpukul dan sangat terluka karena Papa menghancurkan kepercayaan dan kebanggaannya. Mama tidak bisa menerima kenyataan pahit ini. Mama hanya fokus pada penderitaannya sendiri sehingga tidak menyadari dan lupa kalau sikapnya telah membuat kita semua menderita. Papa, aku, dan kamu.” Ada getar samar pada suara Kak Serein yang tertangkap telingaku. Raut sesal terlukis nyata di wajahnya.

Aku masih diam dalam kelu. Atmosfer di sekitar kami seakan penuh dengan kesedihan, kekecewaan, dan penyesalan karena kisah usang yang kami putar kembali. Perasaanku menghangat. Sesaat kemudian uap panas menerjang mataku. Aku pun melihat hal yang sama di mata Kak Serein. Entah dorongan apa yang membuat aku memeluk Kak Serein. Selanjutnya, kurasakan cairan hangat jatuh di lenganku. Kakakku yang selalu cuek ternyata tidak setegar yang aku bayangkan. Ia pun serapuh aku. Menyimpan luka hati yang sama.

Luka lama itu masih berakar di hati kami. Luka batin yang tanpa kami sadari menggerogoti hidup kami. Meninggalkan kenangan buruk, bahkan mengikis rasa percaya diriku, membuat aku sulit untuk membuka hati pada seseorang. Sebaik apa pun dia. Aku terlalu takut seseorang itu mengkhianati dan meninggalkanku. Aku sangat menjaga diri dan hatiku dari sesuatu yang berkaitan dengan kehilangan.

Sejujurnya, aku kecewa dan terluka, menyadari bahwa Papa bukanlah sosok yang pantas aku jadikan panutan. Ketika semua anak perempuan menjadikan sosok Papa sebagai cinta pertamanya, aku merasa Papa bukan lelaki yang pantas untuk aku cintai. Aku terluka dan menyimpan akar pahit itu hingga dewasa. Karena itu, aku sulit untuk memercayai seseorang.

“Cello lelaki yang baik, Aurora. Dia bukan Papa. Kesungguhannya untuk mendapatkanmu menyadarkan aku dan Mama bahwa kamu layak bahagia. Maafkan kami yang telah menorehkan luka yang begitu dalam di hatimu. Maafkan semua kata-kata tajam dan menyakitkan yang terlontar dari mulut Mama. Maafkan aku yang hanya diam menyaksikan dan mendengar semua itu.” Tangis Kak Serein pecah. Bahunya terguncang hebat. Aku kelu, terlalu sulit untuk berujar. Yang aku lakukan hanya mempererat pelukanku. Kami larut dalam kesedihan dan penyesalan yang dalam. Hingga ....

“Jangan pernah melepasnya. Dia bukan Papa. Mengenal Cello membuat aku percaya bahwa cinta sejati itu ada dan layak untuk diperjuangkan. Dia seperti fajar pagi buat aku dan Mama. Seseorang yang hangat dan membuat kami menyadari banyak hal. Kamu pasti lebih mengenal dia dengan baik.”

Aku cuma mampu mengangguk dengan mata basah. Bayangan Cello berkelebat di mataku. Sosok yang santun, hangat, penuh perhatian. Mencintai dan menerima kekuranganku serta luka batinku. Alasan ini pulalah yang membuat aku memutuskan untuk berdamai dengan hatiku dan memaafkan semua kenangan pahit yang tidak pernah berhenti mengikutiku ke mana pun aku pergi.

Aku sampai pada titik di mana aku menyadari, aku pun layak bahagia. Layak merasakan kasih sayang seseorang. Lepas dari bayang-bayang masa lalu. Lepas dari ketakutan bahwa aku akan menjalani apa yang Mama dan Bunda alami. Semua orang pasti punya takdirnya masing-masing.

“Jangan pernah melepas Cello. Dia bukan Papa. Setiap orang memiliki takdirnya sendiri. Maafkan aku, perempuan yang tidak pantas kamu panggil Mama.” Suara seseorang membuat kami refleks melepas pelukan dan menoleh ke asal suara. Untuk kedua kalinya aku mendengar kalimat yang sama. Tentang Cello dan kesungguhannya untuk meyakinkan aku bahwa cinta layak diperjuangkan.

“Mama ....” Aku terpaku, kelu. Dadaku terasa menyempit seketika. Gurat penyesalan terlukis jelas di wajah dan mata Mama yang penuh bayang bening, yang siap pecah dalam satu kerjapan saja. Detik itu juga aku menyadari, tembok kukuh yang selama ini Mama bangun telah runtuh. Aku tahu, kami telah saling melepas maaf.

Mata dan hatiku kembali menghangat. Cinta memiliki jalannya sendiri untuk bahagia. Itu yang kerap Cello katakan padaku.***

 

Sukabumi, 17–20 Juni 2019

 

Baca Juga: [CERPEN-AN] Tentang Maaf

Ana Lydia Photo Community Writer Ana Lydia

God's plan is always more beautiful than our desire

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Just For You