Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kau Memang Bukan Untukku

Kau Memang Bukan Untukku
unsplash.com/@goodboyshady

Puluhan kali teman-temanku mengingatkanku tentang ini, tentang hal yang sama bahwa kita tak akan bersatu. Dulu, aku mencoba untuk tidak terlalu dekat denganmu karna aku takut kau hanya akan menjadikanku selinganmu saat kau butuh seseorang untuk menemanimu selagi kau menanti orang yang kau cintai datang padamu.

Lalu aku yang kau kira polos ini kau permainkan sedemikian rupa hingga aku luluh dan lupa akan prinsip pertamaku untuk tak jatuh padamu terlalu dalam. Namun aku juga wanita, kita berbalas pesan setiap hari bahkan aku menceritakan hal-hal yang seharusnya tak kuceritakan pada orang-orang yang belum punya status tetap dalam hidupku. Pasti aku mempunyai harapan khusus padamu soal hubungan kita yang lebih serius.

Dan datanglah saat dimana sang pemeran utama menggeser perlahan posisiku. Posisi yang tadinya untukku. Sang pemeran utama yang ternyata teman karibku. Aku tak menyalahkannya, karna aku tau ini bukan salahnya tapi salahmu. Kau mempermainkanku dan hatiku. Tapi kenapa hanya aku yang sakit disini, kau bahkan dengan santai melanjutkan hubunganmu dengannya dan membuangku seolah aku hanya sampah yang bisa kau lempar kembali keasalnya.

Kenapa seolah aku yang bersalah disini? Aku yang meminta maaf pada temanku padahal aku juga tak bersalah padanya. Aku yang meminta penjelasan darimu tapi malah aku yang memberi penjelasan disini. Apakah aku sebedoh itu? Tidak! Jika aku mengatakan bahwa aku baik-baik saja mendengar hubungan kalian, itu berarti aku membohongi diriku sendiri. Ya! Aku kecewa, sangat kecewa. Tapi aku bisa apa jika kalian memang saling mencintai? Yang bisa aku lakukan hanya merelakanmu dengannya. Mencoba melalui hari-hari dengan biasa seolah tidak terjadi apa-apa.

Tapi tahukah kau ketika aku menangis di belakangmu? Aku yang selalu berusaha tegar tak bisa menahan semua ini lalu menangis secara sembunyi-sembunyi. Tahukah kau seberapa besar cintaku padamu? Tahukah kau apa yang sudah kukorbankan untukmu? Sudahlah, kau tak butuh itu. Yang kuharapkan kau bersungguh-sungguh dengannya, kau tak mempermainkannya seperti saat kau mempermainkanku. Terima kasih telah memberiku luka seperti ini, aku menerimanya. Kau adalah lelaki pertama yang berhasil membuatku menangis.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina
Follow Us

Latest in Fiction

See More

[PUISI] Musim yang Tak Kembali

20 Mar 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Anak Bawang

[PUISI] Anak Bawang

20 Mar 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Di Balik Kaca Toko

[PUISI] Di Balik Kaca Toko

17 Mar 2026, 21:17 WIBFiction
[PUISI] Ilusi Emosi

[PUISI] Ilusi Emosi

17 Mar 2026, 21:07 WIBFiction
[PUISI] Menahan Diri

[PUISI] Menahan Diri

16 Mar 2026, 21:07 WIBFiction
[PUISI] Perpustakaan Waktu

[PUISI] Perpustakaan Waktu

16 Mar 2026, 17:47 WIBFiction
[PUISI] Jejak Keruh

[PUISI] Jejak Keruh

16 Mar 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Menabung Kebaikan

[PUISI] Menabung Kebaikan

15 Mar 2026, 21:17 WIBFiction