Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

[PROSA] Membongkar Segenap Emosi yang Dikebumikan

[PROSA] Membongkar Segenap Emosi yang Dikebumikan
unsplash.

Teruntuk kamu yang beranjak pergi dari lingkup hidupku sebelum sempat saya rengkuh, izinkanku untuk membongkar segenap emosi yang masih saya kebumikan sebelum mereka berceceran ke mana-mana. 

Kamu tahu, eksistensimu bagai mentari yang menyinari luasnya ardi tanpa pamrih. Kamu mencipta gemerlap di antara pekatnya jalinan sajak hidup saya.

Semenjak kedatanganmu kala itu, segenap hal tentang patah dan jatuh sebab kehilangan cinta pertama perlahan memudar. Pintu kalbu saya yang tertutup mulai membuka pelan-pelan meski kuncinya telah dicuri. Jajaran batu bata yang tersusun melingkari hidup saya pun terkikis sedikit demi sedikit, bagai berbatuan di tepi sungai.

Saat kemenangan memahkotaimu, entah mengapa kamu memilih jalan yang tidak pernah saya sangka. Kamu berbalik, lalu menatih derap langkahmu dengan cepat tanpa sepatah kata. 

Lagi-lagi saya jatuh pada sosok yang sekadar singgah tiada sungguh. Lagi-lagi rumah sajak yang saya anggap ramah berakhir hangus. Segala harsa perihalmu pun telah hirap, menyisakan jelaga di antara kepulan harap. Entah mengapa, lagi-lagi semesta ikut campur, merenggut sosok yang sungguh saya kasihi.

Masih kerap terdengar kidung apikmu dalam telinga yang menenangkan saya bahwasanya kamu tidak akan beranjak dari sisi saya. Sebuah janji atau bukan, tetapi kamu ingkar hingga patah tiada malu. Hanya ada residu lantunan suaramu yang masih acapkali memporak-porandakan jemala saya. Lengkap sudah keterpurukan saya, semakin jatuh pula saya ke dalam jurang kenangan.

Sepeninggal dirimu, hari esok akan seperti apa? Saya tidak tahu. Namun, saya dapat melihat bahwasanya bulir-bulir air mata perak yang begitu dingin tergantung membeku di udara. Di sebuah tempat teduh, saya masih hidup dengan perasaan yang sama sebab belum sempat saya ucap selamat tinggal kepadamu. Entah sampai kapan saya harus melampionkan asa, tetapi saya tetap yakin sesungguhnya asmamu yang elok akan lenyap dari kalbu saya yang kembali senyap. 

Terima kasih. Terima kasih sudah berkenan untuk menggelar temu meski sebatas menjadi tamu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ervina E. W.
EditorErvina E. W.
Follow Us

Related Articles

See More

[PUISI] Mendekap Ego

18 Mei 2026, 14:07 WIBFiction
[PUISI] Permata Pudar

[PUISI] Permata Pudar

18 Mei 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Merayakan Mimpi

[PUISI] Merayakan Mimpi

17 Mei 2026, 05:25 WIBFiction
[PUISI] Esok Tanpamu

[PUISI] Esok Tanpamu

17 Mei 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Bawa Aku Pergi

[PUISI] Bawa Aku Pergi

15 Mei 2026, 21:08 WIBFiction
[PUISI] Di Mana Suamiku?

[PUISI] Di Mana Suamiku?

15 Mei 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Senyum Kecil

[PUISI] Senyum Kecil

14 Mei 2026, 05:04 WIBFiction
[PUISI] Persimpangan Hari

[PUISI] Persimpangan Hari

13 Mei 2026, 10:07 WIBFiction