Comscore Tracker

[NOVEL] Sabria: Bab 1

Penulis: Citra Novy 

[Sabria Asha]

 

Sabria masih menggulung tubuhnya dengan selimut, tidak peduli pada teriakan mama yang terdengar berulang kali dengan nada suara yang makin lama makin tinggi. “Bi!” Kali teriakan itu disertai dengan gedoran di pintu kamar.

It's Sunday, Ma.” Ya ampun!

Sabria mengangkat kepala, pandangannya tertutup oleh helaian rambut yang menebar di wajah. Ia menyingkirkan rambut-rambut itu, dan sialnya, tatapannya kembali menangkap kartu undangan pernikahan Kelvin dan Melin yang tergeletak di lantai—di samping tempat tidur. Benda itu berhasil membuat matanya sembab dan kantung matanya menghitam.

Sepulang kuliah sore kemarin, Gerald—teman dekat Kelvin—menghubunginya, mengajaknya bertemu untuk menyampaikan kartu undangan merah marun bersampul emas itu.

Sepeninggal Gerald, Sabria masih mematung di sisi bangunan fakultas. Tangannya baru berani membuka kartu undangan beberapa detik setelah mobil Gerald tidak terlihat lagi di jalanan fakultas. Nama Kelvin dan Melin yang bertinta emas itu dibacanya, tulisan timbul tenggelam itu diusapnya.

Ia yakin tangis itu tidak akan pecah seandainya Areta dan Hanna tidak datang, bertanya kenapa, merebut kartu undangan dari tangannya, lalu mengusap pundaknya dan berkata, “Udah, nggak apa-apa. Semua bakal baik-baik aja. Oke?”

Satu bulan lalu, ketika Kelvin memutuskan untuk mengakhiri hubungannya, Sabria masih bisa berpikir bahwa setiap orang memang berhak memiliki preferensi, berhak memilih apa yang menurutnya lebih penting dan menyimpan nama Sabria di urutan ke sekian—walaupun tangisnya tetap saja hadir saat mengingat hubungan mereka yang sudah berjalan selama dua tahun harus berakhir dengan alasan sederhana itu.

Namun, semalam, tangis itu tidak hadir sendirian, tapi bersama sergapan pertanyaan yang jumlahnya tak terkira. Seperti, sebanyak apa kekurangannya sampai pantas diperlakukan seperti itu? Sebegitu tidak pantasnya ia untuk Kelvin? Seburuk apa ia sampai tidak pantas berada di sampingnya? Apa kesalahan besar yang pernah dilakukannya sampai Kelvin berhak menyakitinya sampai sehebat itu?

Lalu …, apa yang harus ia lakukan setelah mengetahui hal itu?

Luka akibat berakhirnya hubungan mereka belum sembuh, dan setelah mendapatkan kabar pernikahan itu, ia yakin lukanya akan semakin sulit sembuh, bahkan ia hampir yakin luka itu tidak akan pernah sembuh, mengingat sakitnya.

Aunty Bia!” Gedoran dan seruan mama di balik pintu tergantikan oleh suara monster kecil mengerikan yang entah kenapa hari Minggu pagi begini sudah berada di rumahnya. “Aunty Bi, apakah aku boleh ikut nonton film kartun di dalam?”

Dan mengguncang isi kamar seperti diserang gempa berkekuatan besar? Sabria berguling ke sisi kiri, melepaskan selimutnya, lalu bergerak malas untuk memungut kartu undangan hanya untuk memindahkan posisinya ke dalam tempat sampah.

Saat daun pintu dibuka, makhluk kecil berusia empat tahun bernama Andaru yang tidak lain adalah keponakan laki-laki satu-satunya itu, menerobos masuk, membuka gorden-gorden kamar yang menutup cahaya untuk masuk ke kamar setelah naik ke sofa panjang di sampingnya.

“Boleh, kan?” Andaru menunjuk televisi yang menempel di dinding. Setelah melihat anggukan Sabria, anak itu langsung memanjat lemari buku di bawah televisi untuk menekan tombol power di sisi televisi.

Karena ia yakin hari Minggunya kali ini tidak akan berhasil membuatnya menyendiri, ia memutuskan keluar kamar setelah melihat Andaru menemukan saluran televisi kesukaannya. Aroma minyak panas sudah tercium saat langkahnya mendekat ke arah dapur.

Di ruang makan yang tidak bersekat dengan dapur, Sabria melihat Aryasa tengah menghadap sepiring tempura udang seraya sesekali menyahut pertanyaan mama. Tatapannya teralihkan ketika menyadari kedatangan Sabria. Kakak laki-laki satu-satunya itu memang terkadang memenuhi undangan mama di hari Minggu untuk makan di rumah, walaupun seringnya banyak alasan dan memilih menghabiskan akhir pekan berdua dengan anak laki-lakinya, Andaru.

“Pagi, Mas.” Sabria meraih gelas dari kabinet di atas meja dapur dan mengisinya dengan air putih, melangkah lunglai ke meja makan dan duduk di hadapan Aryasa.

Aryasa adalah tipe orang yang tidak banyak ingin tahu tentang urusan orang lain. Jadi, jika duda beranak satu itu mengernyit seraya menatapnya dan bertanya, “Kamu kenapa?” berarti kondisinya sekarang memang sudah sangat memprihatinkan.

Sabria menaruh gelas kosong ke meja, lalu mengusap rambutnya ke belakang. Mungkin rambut yang terlihat seperti rambut singa itu memang seharusnya dirapikan dulu sebelum ke luar kamar.

“Mama bilang, kamu putus sama Kevin?”

“Kelvin.” Sebenarnya Sabria sudah sangat malas mengoreksi nama Kelvin yang sering dipanggil Kevin, Kalvin, Alvin, atau nama lain yang sering disebut asal oleh Aryasa. Apalagi saat ini, bisa tidak sebut saja ia Pengkhianat? Nama Kelvin terlalu sopan.

“Iya, itu.”

Sabria hanya mengangguk.

“Kamu nggak punya teman gitu, Yas? Kasih buat adik kamu. Biar nggak ngenas-ngenas amat nanti waktu kondangan ke pernikahan Kelvin.” Mulai, mama-mama dengan jiwa perjodohan yang menggelora.

“Ya?” Aryasa malah mengernyit. “Pernikahan?”

“Jadi, Kelvin itu memutuskan untuk menikah sebulan setelah putus dengan Bia. Kurang polos gimana lagi adik perempuan kamu itu? Memangnya ada persiapan pernikahan dilakukan satu bulan, terus sebelumnya yakin Kelvin nggak mengenal dekat cewek itu dulu?” Mama berdecak kesal seraya menghampiri meja makan dengan sepiring udang tempura baru.

“Oh.” Aryasa hanya mengangguk-angguk lalu menatap Sabria dengan iba. “It’s okay.” Tangannya menepuk-nepuk punggung tangan Sabria. “Bodoh sekali dia melepaskan kamu untuk perempuan lain.”

“Sebaiknya aku datang nggak ya ke acara pernikahannya?” Sabria bersedekap, ekspresinya pasti terlihat semakin menyedihkan.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

“Mau Mas temani? Mas bisa bantu untuk sekadar mengacak-acak stand minuman di sana, lalu melempar gelas ke kening pengantin pria dari jarak sepuluh meter.”

“Mas ….”

“Ya, melenceng-melenceng sedikit mungkin kena pelipis.”

Kenapa sih, keluarganya tidak ada keinginan untuk belajar bagaimana cara menghadapi dan memberi semangat orang yang tengah patah hati?

***

Setelah acara brunch selesai, Sabria kembali ke kamar, meninggalkan mama yang tengah menunjukkan foto-foto anak perempuan temannya pada Aryasa. Disahuti oleh papa yang memandikan burung seraya bersiul di halaman belakang.

Mandi adalah hal yang hilang dari list kegiatan hari Minggu saat patah hati begini. Siapa yang peduli ia sudah mandi atau belum? Rapi atau tidak? Wangi atau tidak? Jadi, Sabria memilih kembali tengkurap di atas tempat tidur sementara Andaru melompat-lompat di sampingnya, membuat kepalanya yang tengah rebah ikut terguncang. Ponselnya yang berada di atas nakas berdering, menandakan adanya satu panggilan masuk yang membuatnya mau tidak mau mendorong tubuhnya untuk duduk.

Awalnya, ia tidak cukup percaya pada penglihatannya saat melihat nama Kelvin menyala-nyala di layar ponsel. Kepalanya baru saja terguncang, jadi bisa saja penglihatannya ikut kacau. Namun, setelah beberapa detik berlalu, setelah deringan itu terhenti dan layar ponsel meredup, nama Kelvin muncul lagi dengan deringan yang sama.

Sabria menggeser layar ponsel, membuka sambungan telepon, dan suara berat di seberang sana terdengar setelah jeda dua detik yang terasa sangat panjang. “Bi, aku mau minta maaf.”

Sabria berharap nada suara Kelvin terdengar lebih menyesal, menunjukkan aura patah hati yang sama. Namun, ia sama sekali tidak menangkap getaran semacam itu di suaranya. Mata Sabria memejam. Bagaimana bisa hanya dengan mendengar suaranya, tenggorokaannya terasa sakit?

“Maaf karena aku nggak ngasih undangan itu langsung ke kamu, malah suruh Gerald.”

Andaru masih melompat-lompat di sampingnya, jadi genangan air mata yang terasa hangat di pelupuk matanya dengan mudah jatuh. Ia pikir, air matanya sudah habis semalaman, tapi ternyata masih deras saja.

“Maaf karena selama ini aku nggak jujur sama kamu, maaf karena aku pasti nyakitin kamu, maaf karena ….” Terdengar embusan napas kencang dari seberang sana. “Banyak sekali kesalahan yang aku perbuat sama kamu, Bi. Dan kata maaf berkali-kali nggak akan membuat kamu memaafkan aku secepat itu. Aku tahu.”

“Vin …, boleh aku tanya sesuatu?” Sabria bisa merasakan getar lemah suaranya.

“Kenapa?”

“Kamu … bahagia sekarang?”

Ada selang waktu yang cukup lama sebelum pria itu kembali bersuara. “Aku bahagia bersama Melin. Dan kamu juga harus bahagia.”

Jemari Sabria membeku, terasa dingin. Ah, kenapa Sabria harus menerka Kelvin akan menjawab sebaliknya? Kenapa ia membayangkan di seberang sana Kelvin terluka sama sepertinya?

Belum sempat Sabria membalas ucapannya, pria itu berbicara lagi, mencoba menenangkan. “Bi, waktu akan membantu kamu memulihkan semuanya jika saat ini kamu benar-benar sakit.”

Apa katanya? Bahkan waktu sejak kemari selalu berhasil membawanya pergi pada kenangan bersamanya.

“Aku akan menjawab semua hal yang ingin kamu tahu, tapi nggak sekarang, Bi. Oke?”

Ucapan terakhir Kelvin membuat sisa pertahanannya untuk tidak meledak dalam tangis hancur. Sabria memutuskan sambungan telepon, menunduk dalam dan bahunya berguncang kencang hingga membuat Andaru berhenti melompat-lompat.

Menyadari Sabria tidak baik-baik saja, Andaru bertanya dengan suara sedikit panik. “Aunty Bi, ada yang sakit?” Anak kecil itu bersimpuh di sampingnya.

Sabria memegang dadanya di antara tangis yang hebat.

“Tunggu aku besar, mungkin nanti aku akan jadi dokter biar bisa ngobatin dada Aunty,” ujar Andaru mencoba menenangkan. “Tapi aku penginnya jadi pilot, sih.”

Sabria hanya mengangguk-angguk kecil.

“Sekarang sini, aku peluk dulu.” Dua tangan kecil itu melingkari lehernya, menepuk pelan pundaknya. “Jangan nangis, kok kayak anak kecil.”

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

storial.co
Facebook: Storial
Instagram: storialco
Twitter: StorialCo
YouTube: Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Sabria: Bab 2

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Yudha

Berita Terkini Lainnya