5 Hal Menarik Ekiben di Gimbap and Onogiri, Bukan Cuma Properti

Setiap negara punya cara berbeda untuk memperkenalkan budaya kulinernya, termasuk Jepang. Salah satunya melalui drama Gimbap and Onigiri (2026) yang merupakan drama kolaborasi Jepang–Korea Selatan. Penonton akan diajak menikmati kisah romantis yang hangat sekaligus menyelami kekayaan budaya dari kedua negara.
Pada episode 9, Taiga (Eiji Akaso) membawa dua porsi ekiben untuk bekal piknik bersama Rin (Kang Hyewon) di Taman Asukayama. Ekiben dikenal sebagai bekal makan yang dijual di stasiun, dengan ciri khas berbeda di tiap daerah. Jika diperhatikan, pilihan Taiga adalah ekiben legendaris di luar Tokyo.
Kemunculan ekiben itu bukan sekadar pelengkap adegan, melainkan punya detail menarik yang berkaitan dengan budaya kuliner Jepang. Daripada penasaran, berikut beberapa hal menarik yang membuat ekiben di Gimbap and Onigiri lebih dari sekadar properti. Simak sampai selesai, ya!
1. Ekiben memberikan pengalaman bersantap yang berkesan

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Jepang punya jaringan kereta api yang sangat luas. Moda transportasi tersebut menjadi salah satu jembatan antara perjalanan dan kuliner di berbagai daerah. Perjalanan panjang atau waktu jeda yang lama membuat para penumpang membutuhkan bekal sebagai solusi rasa lapar, kemudian muncullah ekiben.
Kehadiran ekiben akan memberikan pengalaman bersantap yang berkesan bagi penikmatnya. Biasanya, menu utama yang disajikan berasal dari bahan lokal di stasiun mana kamu membelinya. Oleh sebab itu saat menyantapnya, kamu dapat mengingat dari mana bekal tersebut dibeli dan tempat perjalananmu dimulai.
Hal ini sesuai dengan yang dilakukan Taiga yang membelikan ekiben untuk Rin. Sebagai orang Korea, Rin mendapatkan pengalaman berkesan untuk pertama kalinya menyantap bekal yang dibeli di stasiun. Sedangkan bagi Taiga yang bekerja di bidang kuliner, cara itu dapat menjadi wujud perhatian dan memperkenalkan budaya Jepang.
2. Menjadi penghubung budaya tradisional dan pop Jepang

Keinginan Rin menyantap ekiben dalam drama tersebut muncul setelah menonton anime. Terlebih, ia merupakan mahasiswa Jurusan Animasi dari Korea Selatan yang jauh-jauh belajar ke Jepang untuk mengasah bakatnya. Sudah menjadi hal lumrah ekiben muncul dalam adegan anime, film, drama, maupun manga Jepang.
Faktanya, ekiben menjadi penghubung antara kuliner tradisional dengan budaya pop di Jepang. Sesuai dengan perkembangan zaman, kemasan ekiben semakin menarik dan inovatif. Kamu dapat menjumpai kolaborasi antara produsen ekiben legendaris dengan anime tertentu yang diproduksi dalam waktu terbatas.
Misalnya saja, anime Frieren: Beyond Journey’s End berkolaborasi dengan ekiben klasik Jepang, Toge no Kamameshi. Toge no Kamameshi telah dijual di Prefektur Gunma sejak 1950-an. Frieren merupakan karakter elf pencinta daging dalam anime.
Berdasarkan kolaborasi tersebut, mereka memproduksi ekiben berbahan dasar daging. Menu utamanya berupa bebek panggang yang hidangkan bersama nasi bumbu. Dikemas dalam mangkuk kecil berbahan keramik, penutup terluarnya berupa kertas plastik bergambar karakter anime dengan informasi produk.
Uniknya, sebagian orang mengumpulkan penutup kertas itu sebagai koleksi. Tidak terbatas pada produk kolaborasi yang memang menampilkan karakter anime. Produk reguler pun punya gambar berbeda, tergantung produsennya, yang tidak kalah menarik.
3. Pemilihan ekiben legendaris sebagai wujud kuliner autentik

Kenapa ekiben bisa terasa istimewa? Taiga tidak asal membelikan bekal yang dijumpainya di stasiun. Memang ada banyak pilihan brand dan menu, tetapi ekiben legendaris biasanya memiliki cita rasa autentik Jepang yang patut untuk dicicipi.
Meski tidak disebutkan secara tersurat, ekiben yang dibeli Taiga mudah dikenali dari kemasan mini pot keramiknya. Wadah tersebut merujuk pada Toge no Kamameshi, produk utama yang telah dijual sejak tahun 1958 oleh Oginoya. Produsen asal Gunma tersebut sudah beroperasi sejak 1885.
Toge no Kamameshi dapat dijumpai di berbagai stasiun di Jepang. Stasiun Yokokawa, Kota Annaka, Prefektur Gunma menjadi lokasi utama yang dapat kamu kunjungi, jika ingin membelinya. Isinya berupa telur puyuh rebus, ayam, jamur shiitake, rebung, aprikot, kastanye, akar burdock, dan nasi.
4. Mewakili cita rasa daerah dan bisa jadi oleh-oleh

Setiap daerah punya ekiben yang mewakili cita rasa setempat karena menggunakan bahan lokal dan musiman. Contohnya Toge no Kamameshi dari Gunma yang menyajikan jamur dan aprikot. Sesuai dengan kondisi geografisnya yang berupa pegunungan, daerah ini memang penghasil buah-buahan, sayutan, dan jamur shiitake.
Lain halnya dengan Hipparidako Meshi Nishi Akashi dari Prefektur Hyogo yang terkenal dengan guritanya. Kemasannya juga terbuat dari keramik, tetapi bentuknya menyerupai mangkuk asli yang digunakan untuk menangkap gurita. Bagian luarnya bermotif gurita dan menunya berupa nasi yang dimasak dengan gurita Akashi.
Tidak hanya soal rasa dan bahannya, kemasan ekiben juga fungsional, lho. Setelah hidangannya habis, kamu dapat menggunakannya kembali sebagai mangkuk hingga pot tanaman kecil dalam ruangan. Desain lain seperti Daruma Bento dapat digunakan sebagai celengan.
Oleh sebab itu, sebagian orang menjadikan ekiben sebagai oleh-oleh atau suvenir sehingga penerimanya tidak hanya mendapatkan pengalaman bersantap dan kepuasan di lidah. Wadahnya bisa digunakan kembali dan mengingatkan pada momen tertentu saat menerimanya.
5. Tidak hanya dinikmati saat perjalanan

Kehadiran ekiben memang untuk menemani perjalanan. Tapi, kini tidak terbatas pada kereta api. Kamu pun dapat menjumpainya di rest area maupun terminal bus.
Adanya ekiben merupakan cara untuk menikmati perjalanan dengan menyantap hidangan sambil menyaksikan pemandangan yang berganti perlahan sebelum sampai tujuan. Namun, kamu tidak harus melakukannya jika tidak terbiasa, seperti Taiga yang sengaja membeli ekiben untuk disantap bersama Rin saat piknik di Taman Asukayama. Di mana pun menyantapnya, rasa ekiben dapat mengingatkan momen saat membelinya.
Ternyata ekiben dalam budaya kuliner Jepang bukan sekadar soal kepuasan rasa dan selera pada makanan. Penikmatnya bisa merasakan bahan lokal dan ciri khas yang berbeda di setiap daerah. Perjalanan pun terasa lebih berkesan hingga sampai tujuan.


















