Meski begitu, kedua sambal ini punya cerita, rasa, dan cara hadir di meja makan yang benar-benar berbeda. Bagi kamu yang penasaran mana yang lebih cocok menemani ikan bakar malam ini, simak penjelasan terkait apa bedanya sambal colo-colo dan sambal dabu-dabu berikut ini.
Apa Bedanya Sambal Colo-colo dan Sambal Dabu-dabu?

- Sambal dabu-dabu berasal dari Manado, sedangkan sambal colo-colo lahir di Maluku dan menyebar ke Papua melalui tradisi kuliner masyarakat pesisir timur Indonesia.
- Keduanya memakai bahan segar seperti cabai, tomat, dan bawang merah, namun dabu-dabu disiram minyak panas tanpa kecap, sementara colo-colo menambahkan kecap serta jeruk oci khas Maluku.
- Dabu-dabu biasa disajikan langsung di atas lauk panas, sedangkan colo-colo menjadi bagian tradisi makan patita yang menonjolkan kebersamaan masyarakat Ambon di tepi pantai.
Dua sambal khas Indonesia Timur ini kerap membuat orang bingung karena penampilannya yang identik. Sambal colo-colo dan sambal dabu-dabu sama-sama hadir dengan potongan bahan segar. Sambal ini hadir di meja makan bersama hidangan laut dan tumbuh dari kebiasaan makan masyarakat pesisir yang berlangsung ratusan tahun.
1. Keduanya lahir dari dua daerah pesisir timur Indonesia

Dabu-dabu tumbuh di dapur-dapur rumahan masyarakat Manado, Sulawesi Utara. Nama dabu-dabu sendiri diambil dari bahasa Manado yang artinya "kurang lebih bumbu segar" atau "sambal mentah". Sambal ini sudah lama menjadi teman setia masakan Manado, seperti ikan cakalang fufu alias ikan cakalang yang diasap hingga kering lalu digoreng serta ayam rica-rica yang terkenal pedasnya itu.
Sambal colo-colo punya kampung halaman yang berbeda, yakni Maluku, terutama Ambon. Sambal ini kemudian merambah ke Papua, khususnya Sorong dan Fakfak, seiring perpindahan masyarakat Maluku yang membawa serta kebiasaan makan mereka. Keduanya lahir dari kecerdasan masyarakat pesisir untuk memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di sekitar rumah guna membuat ikan terasa jauh lebih nikmat tanpa perlu repot memasak lama.
2. Isinya hampir sama, tapi rasanya bisa berbeda

Kalau kamu perhatikan, bahan dasar keduanya memang nyaris serupa, yakni cabai rawit, bawang merah, dan tomat, semuanya dipotong kasar, bukan diulek halus. Dabu-dabu cukup disajikan dengan perasan jeruk nipis dan garam, lalu disiram dengan minyak goreng panas sesaat sebelum dihidangkan.
Teknik siram minyak panas dalam bahasa Manado dikenal sebagai dabu-dabu lilang, cara yang membuat aroma bawang merah dan cabai langsung keluar dengan harum begitu minyak menyentuh potongan bahan segar di mangkuk.
Colo-colo punya isian sambal lebih ramai. Ada kecap manis atau kecap asin sesuai selera, perasan jeruk oci alias jeruk lokal Maluku yang rasanya lebih tajam dari jeruk nipis biasa, kadang ditambah irisan daun kemangi segar. Jika ingin lebih harum, minyak kelapa panas ikut dituangkan di akhir. Hasilnya adalah rasa yang berlapis sebab ada asamnya, ada manisnya dari kecap, ada pedasnya dari rawit, semuanya berpadu jadi satu tanpa satu pun rasa yang mendominasi. Itulah kenapa colo-colo enak banget bahkan kalau hanya dimakan dengan nasi putih panas saja.
3. Cara makan keduanya juga punya cerita sendiri

Sambal dabu-dabu biasanya langsung dituangkan ke atas makanan, disendok ke atas ikan cakalang goreng, disiramkan ke ayam bakar, atau dijadikan saus cocol di pinggir piring. Karena minyak panasnya belum menghilang, sensasi hangat itu masih terasa di suapan pertama. Orang Manado menyebut cara makan seperti ini sebagai pengalaman yang harus dilakukan saat makanan masih panas, bukan setelah dingin.
Colo-colo lebih akrab dan komunal. Di Ambon, ada tradisi yang disebut makan patita, yaitu makan bersama-sama di tepi pantai dengan ikan segar yang baru dibakar di atas bara arang. Satu mangkuk colo-colo diletakkan di tengah. Semua orang mencelupkan ikan masing-masing ke dalamnya.
Tradisi ini bukan sekadar cara makan, melainkan momen kebersamaan yang sudah diwariskan turun-temurun dan masih bisa kamu temukan langsung kalau berkunjung ke warung-warung tepi pantai di Ambon atau Sorong hari ini.
Sambal colo-colo dan sambal dabu-dabu adalah dua bukti bahwa Indonesia Timur menyimpan kekayaan kuliner yang jauh lebih dalam dari yang banyak orang tahu. Keduanya layak kamu coba langsung di daerah asalnya agar benar-benar merasakan perbedaannya. Pengalaman mencelupkan ikan bakar segar ke dalam sambal yang dibuat 2 menit sebelum makan adalah sesuatu yang sulit terlupakan. Kalau kamu tim sambal colo-colo atau sambal dabu-dabu, nih?


















