Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Benarkah Sourdough Lebih Mudah Dicerna daripada Roti Biasa?
ilustrasi roti tawar dan artisan bread (magnific.com/stockking)
  • Proses fermentasi alami pada sourdough memecah sebagian karbohidrat dan protein, menciptakan tekstur serta rasa khas yang membedakannya dari roti biasa.

  • Banyak orang merasa sourdough lebih nyaman di perut karena fermentasi mengurangi senyawa sulit dicerna, meski respons tiap individu tetap berbeda.

  • Fermentasi sourdough menurunkan kadar asam fitat sehingga mineral seperti zat besi dan seng lebih mudah diserap, namun tetap perlu pola makan seimbang untuk manfaat optimal.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Belakangan ini, roti sourdough semakin sering terlihat di rak supermarket, kedai kopi, dan platform media sosial sebagai alternatif yang dianggap lebih sehat. Banyak orang mulai beralih setelah mendengar bahwa sourdough lebih mudah untuk dicerna dibandingkan dengan roti biasa. Namun, apakah klaim ini benar-benar didukung oleh bukti ilmiah atau hanya sekadar tren sementara?

Dengan tekstur unik dan rasa yang sedikit asam, roti sourdough menjalani proses fermentasi yang berbeda dari roti tradisional. Proses ini diyakini berpengaruh pada nilai gizi serta cara tubuh mengolahnya. Agar tidak hanya bergantung pada informasi yang beredar, simak fakta lengkap tentang sourdough dan pengaruhnya terhadap kesehatan pencernaan dalam artikel ini.

1. Proses fermentasi membuat sourdough berbeda dari roti biasa

ilustrasi proofing adonan di suhu ruang (freepik.com/freepik)

Banyak orang memilih sourdough karena dipercaya lebih mudah dicerna. Keyakinan ini muncul akibat dari proses fermentasi alami yang menggunakan ragi liar dan bakteri asam laktat. Durasi fermentasi lebih lama dibandingkan roti biasa yang biasanya menggunakan ragi kering isntan.

Selama proses ini, sebagian karbohidrat dan protein mulai dipecah yang menyebabkan perubahan alami pada adonan. Hal ini kemudian memberikan tekstur, rasa, dan kandungan sourdough yang berbeda dari roti biasa. Memahami cara pembuatannya adalah langkah pertama untuk mengetahui mengapa sourdough sering dihubungkan dengan kesehatan pencernaan.

2. Sebagian orang merasa sourdough lebih nyaman di perut

ilustrasi pencernaan yang sehat (freepik.com/stockking)

Tidak sedikit orang mengaku perut terasa lebih nyaman setelah makan sourdough dibandingkan roti biasa. Salah satu alasannya adalah proses fermentasi yang bisa mengurangi senyawa yang sulit dicerna oleh sebagian orang. Namun, respons tubuh setiap orang tetap bervariasi karena kondisi pencernaan sangat berbeda.

Misalnya, ada yang merasa baik-baik saja setelah mengonsumsi roti biasa, sedangkan yang lain mungkin merasa kembung. Perbedaan ini membuktikan bahwa tidak ada satu jenis roti yang cocok untuk semua orang. Oleh karena itu, penting untuk menyadari bagaimana tubuh bereaksi setelah mengonsumsinya.

3. Fermentasi juga dapat meningkatkan ketersediaan beberapa nutrisi

ilustrasi starter sourdough (commons.wikimedia.org/PilotChicago)

Saat memilih makanan, banyak orang cenderung fokus pada kalori tanpa mempertimbangkan cara tubuh menyerap nutrisi. Pada sourdough, fermentasi berperan dalam menurunkan asam fitat, yaitu senyawa yang dapat menghalangi penyerapan beberapa mineral seperti zat besi, seng, dan magnesium. Penurunan kadar asam fitat bisa membuat mineral tersebut lebih mudah diserap oleh tubuh.

Meskipun manfaat ini terdengar menjanjikan, sourdough bukanlah satu-satunya sumber nutrisi yang dibutuhkan dalam keseharian. Pola makan yang bervariasi tetap penting untuk memenuhi kebutuhan gizi secara lengkap. Dengan kata lain, sourdough bisa berfungsi sebagai pelengkap dalam pola makan sehat, bukan sebagai satu-satunya pilihan utama.

4. Sourdough tetap mengandung gluten sehingga cocok untuk semua orang

ilustrasi menikmati sarapan dengan roti dan keju (freepik.com/freepik)

Popularitas sourdough terkadang membuat beberapa orang beranggapan bahwa roti ini bebas dari gluten. Kenyataannya, sourdough yang terbuat dari tepung gandum tetap mengandung gluten meskipun proses fermentasi dapat mengurangi sebagian dari kandungannya. Bagi orang dengan penyakit celiac, kehadiran gluten, sekecil apa pun, bisa menyebabkan gangguan kesehatan.

Sementara itu, beberapa orang yang mengalami sensitivitas gluten non-celiac mungkin merasa lebih nyaman saat mengonsumsi sourdough, meskipun reaksi mereka bisa bervariasi. Sebagai contoh, ada yang merasa gejala kembungnya berkurang, tetapi ada juga yang tidak merasakan perbedaan. Karena itu, kondisi kesehatan masing-masing harus menjadi pertimbangan sebelum menentukan jenis roti.

5. Sourdough bukan makanan ajaib untuk kesehatan pencernaan

ilustrasi makan buah dan sayur (magnific.com/pvproductions)

Tren makanan sehat sering kali membuat satu produk dianggap memiliki khasiat luar biasa. Namun, kesehatan pencernaan dipengaruhi oleh banyak aspek, seperti asupan serat, kecukupan cairan, tingkat aktivitas, dan kualitas tidur. Sekadar mengganti roti biasa dengan sourdough tidak menjamin sistem pencernaan menjadi lebih baik.

Contohnya, seseorang yang sering mengonsumsi sourdough tetapi jarang mengkonsumsi sayuran dan buah tetap berisiko mengalami masalah pencernaan. Kebiasaan sehari-hari sebenarnya memberikan dampak yang lebih signifikan daripada mengandalkan satu jenis makanan. Jadi, jika ingin merasakan manfaat dari sourdough, penting untuk menyeimbangkannya dengan pola makan yang bergizi dan gaya hidup yang sehat.

Sourdough memang memiliki proses fermentasi yang membuatnya berpotensi lebih mudah dicerna dan dapat memberikan beberapa manfaat bagi kesehatan pencernaan. Namun, manfaat tersebut tetap bergantung pada kondisi tubuh masing-masing serta perlu didukung oleh pola makan dan gaya hidup yang seimbang. Jadi, sebelum ikut tren, yuk kenali dulu kebutuhan tubuh agar pilihan makanan benar-benar memberikan manfaat.

Referensi:

“Sourdough Bread: Starch Digestibility and Postprandial Glycemic Response.” Journal of Cereal Science. Diakses Juli 2026.

“Effect of Different Fermentation Condition on Estimated Glycemic Index, In Vitro Starch Digestibility, and Textural and Sensory Properties of Sourdough Bread.” Foods (MDPI). Diakses Juli 2026.

“How cereal flours, starters, enzymes, and process parameters affect the in vitro digestibility of sourdough bread.” Food Research International. Diakses Juli 2026.

“Pengaruh Perbedaan Konsentrasi Sourdough terhadap Sifat Fisik dan Mikrobiologi pada Roti Tawar.” Heuristic: Jurnal Teknik Industri (Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya). Diakses Juli 2026.

“Karakteristik Fisikokimia dan Mutu Sensori Roti Sourdough dengan Substitusi Tepung Ubi Jalar Ungu dan Air Rendaman Buah Apel Manalagi sebagai Ragi Alami.” Food Technology and Halal Science Journal (Universitas Muhammadiyah Malang). Diakses Juli 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article