Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Donat Tradisional Dunia yang Jarang Dijual di Indonesia
ilustrasi pączki (commons.wikimedia.org/Aw58)
  • Artikel mengenalkan lima donat tradisional dunia—Pączki, Malasadas, Sufganiyot, Koeksisters, dan Tulumba—yang jarang ditemukan di Indonesia namun punya sejarah dan cita rasa khas masing-masing.
  • Pączki dari Polandia dibuat padat dengan isian selai mawar; Malasadas asal Portugal populer di Hawaii; sementara Sufganiyot menjadi simbol perayaan Hanukkah di komunitas Yahudi.
  • Koeksisters dari Afrika Selatan terkenal karena sirup manisnya yang mengeras di luar, sedangkan Tulumba dari Turki bertekstur kenyal dan direndam sirup beraroma air mawar atau lemon.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Donat bukan sekadar adonan tepung goreng berbentuk cincin yang dijual di toko kue. Tiap negara ternyata punya versi donat tersendiri, dengan bahan, tekstur, dan rasa yang jauh berbeda dari yang biasa ditemukan di mal atau minimarket, lho.

Banyak di antaranya sudah ada sejak ratusan tahun lalu, lahir dari kebiasaan memasak yang diwariskan secara turun-temurun. Sayangnya, nama-nama donat ini hampir tidak pernah muncul di menu kafe atau toko roti di Indonesia. Kalau pengin tahu lebih jauh, berikut beberapa donat tradisional dunia yang jarang ada di Indonesia.

1. Pączki

Pączki adalah donat goreng Polandia yang ukurannya lebih besar dari donat biasa. Ia lebih berat dan jauh lebih padat karena adonannya mengandung lemak babi atau mentega dalam jumlah yang tidak sedikit.

Isian tradisional pączki adalah selai mawar, yaitu selai yang dibuat dari kelopak mawar asli, bukan perisa buatan. Lapisan luarnya biasanya diglasur dengan fondant putih tebal atau ditaburi gula halus, lalu dihias dengan kulit jeruk yang dikandisi.

Pączki sudah ada sejak abad pertengahan di Polandia. Awalnya dibuat untuk menghabiskan lemak dan gula sebelum masa puasa Paskah dimulai. Tradisi makan pączki paling ramai terjadi pada hari yang disebut Tłusty Czwartek atau Kamis Gemuk, yaitu hari Kamis terakhir sebelum Rabu Abu. Pada hari itu, rata-rata orang Polandia bisa menghabiskan lebih dari satu pączki dalam satu kesempatan, dan toko roti di seluruh negeri bisa menjual ratusan ribu biji hanya dalam satu hari.

2. Malasadas

ilustrasi malasadas (commons.wikimedia.org/_e.t)

Malasadas adalah donat goreng tanpa lubang asal Portugal yang kemudian menjadi ikon kuliner Hawaii setelah dibawa oleh imigran Portugis yang datang bekerja di perkebunan tebu pada abad ke-19. Adonannya menggunakan campuran tepung terigu, telur, mentega, dan sedikit evaporated milk yang memberi rasa susu lebih pekat dibandingkan dengan donat biasa. Setelah digoreng, malasadas langsung digulung dalam gula pasir kasar selagi masih panas, sehingga gula menempel dan sedikit meleleh di permukaan.

Di Hawaii, nama Leonard's Bakery hampir selalu disebut pertama kali kalau bicara soal malasadas karena toko ini sudah menjualnya sejak 1952 dan sampai sekarang masih punya antrean panjang tiap pagi. Versi modernnya kini hadir dengan isian berbagai varian krim, tapi versi klasik tanpa isian yang hanya digulung gula tetap jadi yang paling dicari.

Di Portugal sendiri, versi aslinya disebut filhós dan dibuat saat perayaan Karnaval. Di Hawaii, malasadas justru kehilangan konteks religiusnya dan berubah menjadi makanan sehari-hari yang bisa dimakan kapan saja. 

3. Sufganiyot

Sufganiyot adalah donat isi selai yang menjadi hidangan wajib saat perayaan Hanukkah di Israel dan komunitas Yahudi di seluruh dunia. Bentuknya bulat penuh tanpa lubang di tengah, diisi selai stroberi atau raspberry, lalu ditaburi gula halus. Minyak goreng memang jadi elemen penting dalam perayaan Hanukkah karena berkaitan dengan makna religius festival itu sendiri, sehingga makanan yang digoreng punya tempat istimewa di meja makan.

Teksturnya sangat lembut karena adonan menggunakan ragi dan diberi waktu cukup untuk mengembang sebelum masuk ke minyak panas. Lapisan luarnya tipis dan ringan, tidak keras seperti donat yang terlalu lama digoreng. Isian selainya bisa terasa bervariasi tergantung toko, ada yang pelit, ada yang benar-benar meluber saat digigit.

Varian modern sufganiyot sekarang sudah jauh lebih berani, diisi krim cokelat, lemon curd, bahkan salted caramel. Toko-toko roti di Tel Aviv berlomba menciptakan versi paling unik tiap musim Hanukkah tiba. Di luar Israel, donat ini cukup mudah ditemukan di kota-kota dengan komunitas Yahudi yang besar seperti New York atau London. 

4. Koeksisters

ilustrasi koeksisters (commons.wikimedia.org/Arnold Goodway)

Koeksisters adalah donat khas Afrika Selatan yang tampilannya mirip kepang rambut. Koeksisters dibuat dari adonan yang dipilin menjadi dua atau tiga utas lalu digoreng sampai keemasan. Setelah keluar dari minyak panas, koeksisters langsung dicelupkan ke dalam sirup gula dingin yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Proses pencelupan inilah yang membuat koeksisters sangat berbeda dari jenis gorengan manis lainnya, lapisan luarnya berkilau, sangat manis, dan sedikit krispi karena sirup mengeras di permukaan.

Di dalamnya tetap lembut dan sedikit basah karena sirup meresap ke dalam adonan selama proses pendinginan. Koeksisters dibuat oleh komunitas Afrikaner sejak abad ke-18, dan sampai sekarang masih menjadi hidangan wajib di acara keluarga atau pasar tradisional. Manis yang dihasilkannya sangat intens, berbeda kelas dibandingkan dengan donat dengan glaze biasa.

Ada dua versi koeksisters yang beredar di Afrika Selatan, versi Afrikaner dan versi Cape Malay yang lebih berempah menggunakan jahe, kayu manis, dan adas dalam adonannya. Versi Cape Malay biasanya ditaburi kelapa parut di atasnya, memberi dimensi rasa yang lebih dalam. Dua versi ini mencerminkan perpaduan budaya yang panjang di Afrika Selatan. 

5. Tulumba sudah dijual di kaki lima Istanbul sejak era Ottoman

Tulumba adalah donat Turki berbentuk silinder pendek dengan guratan-guratan memanjang di permukaannya. Sepintas sangat mirip churros, tapi lebih padat dan lebih kenyal. Adonannya menggunakan tepung semolina yang memberi tekstur unik, lebih berat dari donat ragi biasa, tapi tidak sekering kue kering.

Setelah digoreng hingga kuning keemasan, tulumba langsung direndam dalam sirup gula encer beraroma air mawar atau lemon selama beberapa menit. Tulumba berasal dari tradisi kuliner Ottoman dan masih sangat mudah ditemukan di pastane, yaitu toko kue tradisional Turki, maupun di pedagang kaki lima di Istanbul. Disajikan dalam wadah kecil bersama teh hitam, tulumba menjadi camilan sore yang sederhana tapi memuaskan.

Makanan yang mirip tulumba juga ada di beberapa negara Balkan dan Timur Tengah dengan nama berbeda-beda, seperti loukoumades di Yunani atau zalabiya di beberapa negara Arab. Ini memperlihatkan betapa luasnya pengaruh masakan Ottoman dalam membentuk tradisi kuliner di kawasan tersebut. Di Indonesia, makanan yang paling mendekati profil rasa tulumba mungkin adalah jalebi dari India yang kadang dijual di restoran India, meskipun teksturnya dan prosesnya cukup berbeda.

Dari Polandia sampai Turki, masing-masing punya varian donat yang menggugah selera. Meski belum banyak dijumpai di sini, tak ada salahnya untuk menjajal salah satunya sekali seumur hidup. Mana yang paling bikin kamu penasaran untuk dicoba duluan?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article