Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Kuliner Mie Dingin dari Berbagai Negara di Asia, Mau Coba?
ilustrasi mi (pexels.com/@thejourneyofframes)
  • Yum woon sen Thailand memadukan mi kaca, daging atau makanan laut, sayuran, cabai, saus ikan, dan jeruk nipis; hidangan ini dapat disajikan suhu ruang atau sedikit hangat.
  • Korea menghadirkan naengmyeon berkuah dingin dengan mi soba atau pati, serta kongguksu yang memakai kuah kedelai putih creamy, keduanya populer saat musim panas.
  • Jepang menawarkan hiyashi chūka dengan topping warna-warni dan saus ringan, serta sōmen tipis yang dicelup tsuyu; sōmen juga hadir dalam tradisi nagashi sōmen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mi merupakan salah satu hidangan yang populer di berbagai negara Asia. Diolah dengan beragam bahan, bumbu, dan teknik memasak, mi memiliki karakteristik yang berbeda-beda di setiap negara. Salah satu variasi yang menarik untuk dijelajahi adalah mi dingin, hidangan yang menawarkan sensasi menyegarkan melalui perpaduan mi, sayuran, protein, dan bumbu bercita rasa khas.

Di sejumlah negara Asia, mi dingin bahkan menjadi hidangan favorit saat musim panas karena rasanya yang ringan dan menyegarkan. Mulai dari salad mi pedas khas Thailand, sup mi dingin dari Korea, hingga mi dingin dengan topping warna-warni dari Jepang, setiap hidangan memiliki keunikan tersendiri.

Nah, berikut empat kuliner mi dingin dari negara-negara Asia yang menarik untuk dikenali lebih jauh. Kalau pengin coba, ini menjadi waktu yang tepat, lho!

1. Yum woon sen

Thailand dikenal dengan kulinernya yang kaya akan perpaduan rasa pedas, asam, manis, dan gurih. Karakteristik ini bisa ditemukan dalam yum woon sen, salad mi kaca khas Thailand yang menawarkan kombinasi rasa menyegarkan dengan sentuhan pedas yang menggugah selera. Hidangan ini terbuat dari mi kaca atau bihun transparan berbahan dasar pati yang dipadukan dengan daging, sayuran segar, cabai, serta saus bercita rasa asam dan gurih.

Salah satu ciri khas yum woon sen terletak pada penggunaan saus yang memadukan saus ikan dan perasan jeruk nipis. Saus ikan memberikan rasa gurih dan kaya umami, sedangkan jeruk nipis menghadirkan sensasi asam yang segar. Tambahan cabai memberikan rasa pedas yang menjadi identitas penting dalam hidangan ini. Perpaduan tersebut menghasilkan cita rasa yang kuat, tapi tetap terasa segar ketika disantap.

Proses pembuatannya dimulai dengan memasak mi kaca dan daging babi cincang secara terpisah. Setelah matang, kedua bahan tersebut dicampurkan dengan sayuran cincang, seperti bawang bombai, tomat, dan seledri atau daun ketumbar, sesuai variasi resep yang digunakan. Selanjutnya, campuran bahan disiram dengan saus ikan, perasan jeruk nipis, dan cabai. Beberapa variasi juga menggunakan udang atau makanan laut lainnya sebagai sumber protein untuk memperkaya rasa.

Sebagai pelengkap, yum woon sen secara tradisional dapat diberi taburan kacang tanah yang memberikan tekstur renyah dan cita rasa gurih. Namun, bahan pelengkapnya dapat berbeda-beda, bergantung pada resep dan tempat penyajiannya. Karena rasanya cenderung pedas dan kuat, hidangan ini juga sering dinikmati bersama nasi putih dan sayuran segar, seperti selada, untuk menyeimbangkan cita rasanya.

Meskipun dikenal sebagai salad mi, yum woon sen tidak selalu disajikan dalam keadaan benar-benar dingin. Dalam sejumlah variasi, hidangan ini disajikan pada suhu ruang atau sedikit hangat setelah bahan-bahannya dimasak. Oleh karena itu, karakter utamanya lebih tepat dikenali melalui perpaduan mi kaca, sayuran, protein, dan saus khas Thailand hingga suhu penyajiannya yang unik.

2. Naengmyeon

ilustrasi naengmyeon (pexels.com/@thejourneyofframes)

Berbeda dari salad mi Thailand yang menonjolkan rasa pedas dan asam, Korea memiliki naengmyeon, hidangan mi dingin yang terkenal dengan kuah segarnya. Naengmyeon merupakan salah satu hidangan khas Korea yang sangat digemari, terutama saat musim panas. Hidangan ini biasanya terdiri atas mi tipis berbahan dasar soba atau campuran pati yang disajikan dalam kaldu dingin bersama berbagai pelengkap.

Salah satu versi yang paling dikenal adalah mul naengmyeon, yaitu naengmyeon yang disajikan dengan kuah dingin. Kuahnya dapat dibuat dari kaldu sapi, kaldu daging lainnya, atau campuran kaldu dan cairan hasil fermentasi kimchi lobak, bergantung pada resepnya. Perpaduan kuah yang dingin dengan mi yang kenyal menghasilkan sensasi menyegarkan, terutama ketika cuaca sedang panas.

Semangkuk naengmyeon umumnya dilengkapi dengan irisan lobak acar, timun, telur rebus, dan irisan buah pir Korea. Pada beberapa variasi, hidangan ini juga disajikan bersama irisan daging sapi. Untuk memperkaya cita rasa, pengunjung dapat menambahkan mustard dan cuka sesuai selera. Mustard memberikan sensasi pedas yang khas, sedangkan cuka menghadirkan rasa asam yang menyeimbangkan gurihnya kaldu.

Keunikan naengmyeon tidak hanya terletak pada rasa dan suhu penyajiannya, tetapi juga pada makna budaya yang menyertainya. Mi yang panjang secara tradisional dikaitkan dengan kesehatan dan umur panjang. Karena itu, mi naengmyeon biasanya disantap tanpa dipotong, meskipun sebagian restoran menyediakan gunting agar mi lebih mudah dimakan.

3. Hiyashi chūka

Jepang memiliki beragam hidangan mi yang disesuaikan dengan pergantian musim. Salah satunya adalah hiyashi chūka, hidangan mi dingin yang populer saat musim panas. Nama hiyashi chūka secara umum merujuk pada mi bergaya Tionghoa yang disajikan dingin. Hidangan ini menggunakan mi gandum yang sesudah direbus, didinginkan, lalu disajikan dengan aneka topping segar dan saus bercita rasa gurih, asam, serta sedikit manis.

Daya tarik hiyashi chūka dapat langsung terlihat dari penyajiannya. Berbeda dari sup mi yang mengandalkan kuah panas atau dingin, hiyashi chūka umumnya disajikan tanpa kuah berlimpah. Mi diletakkan di dalam mangkuk atau piring, lalu diberi berbagai topping yang disusun rapi di atasnya. Susunan tersebut menghasilkan tampilan warna-warni yang menggugah selera sekaligus memudahkan penikmatnya merasakan perpaduan berbagai bahan dalam setiap suapan.

Topping hiyashi chūka biasanya terdiri atas timun yang diiris tipis, tomat, telur dadar yang dipotong memanjang, serta irisan ham atau daging ayam. Beberapa restoran juga menggunakan kepiting imitasi sebagai pelengkap. Meskipun topping menjadi salah satu daya tarik utamanya, karakter hiyashi chūka juga sangat ditentukan oleh sausnya. Saus yang digunakan biasanya dibuat dari campuran kecap asin, cuka beras, minyak wijen, dan sedikit gula.

Hiyashi chūka umumnya mulai banyak dijumpai di restoran Jepang ketika musim panas tiba. Kehadirannya menjadi salah satu cara masyarakat menikmati mi tanpa harus menyantap hidangan berkuah panas saat cuaca sedang terik. Suhu penyajian yang dingin, ditambah topping segar dan saus yang ringan, membuat hidangan ini terasa cocok sebagai menu makan siang maupun makan malam pada musim panas.

4. Sōmen

ilustrasi ramen dingin (pexels.com/@change-c-c-974768353)

Selain hiyashi chūka, Jepang memiliki sōmen, jenis mi gandum putih yang sangat tipis dan terkenal karena cara penyajiannya yang sederhana. Mi ini memiliki diameter kurang dari 1,3 milimeter, yang bikin teksturnya lebih halus dibandingkan banyak jenis mi gandum lainnya. Warnanya putih, bentuknya panjang, dan rasanya relatif netral, sehingga mudah dipadukan dengan saus celup maupun aneka pelengkap.

Salah satu cara paling umum untuk menikmati sōmen adalah dengan merebusnya sebentar hingga matang, lalu membilasnya menggunakan air dingin. Pada sejumlah penyajian, mi juga didinginkan dengan air es agar suhu dan teksturnya tetap terjaga. Proses ini membantu menghentikan pemasakan sekaligus menghilangkan kelebihan pati pada permukaan mi, sehingga helaian sōmen tidak terlalu lengket dan terasa lebih segar ketika disantap.

Sōmen biasanya disajikan bersama tsuyu, saus celup berbahan dasar dashi, kecap asin, dan mirin atau pemanis lain, bergantung pada resepnya. Saus ini memiliki cita rasa gurih dan sedikit manis yang melengkapi rasa mi yang ringan. Sebelum dimakan, mi dicelupkan ke dalam tsuyu bersama pelengkap seperti daun bawang cincang, jahe parut, atau nori. Kombinasi tersebut menghasilkan rasa yang sederhana, tetapi tetap kaya aroma.

Keistimewaan sōmen terletak pada teksturnya yang lembut dan ringan. Karena mi ini gak memiliki bumbu kuat, cita rasanya sangat dipengaruhi oleh kualitas saus celup dan bahan pelengkap yang digunakan. Misalnya, jahe memberikan sensasi hangat dan aroma segar, daun bawang menambahkan rasa khas yang sedikit tajam, sedangkan nori menghadirkan aroma rumput laut yang memperkaya keseluruhan hidangan.

Salah satu tradisi penyajian sōmen yang paling menarik adalah nagashi sōmen. Dalam tradisi ini, mi dialirkan bersama air dingin melalui saluran yang biasanya terbuat dari bambu yang dibelah memanjang. Orang-orang yang berkumpul di sepanjang saluran harus menangkap helaian mi menggunakan sumpit ketika mi melintas, lalu mencelupkannya ke dalam saus sebelum dimakan.

5. Kongguksu

Korea Selatan memiliki hidangan mi dingin lainnya yang populer saat musim panas, yaitu kongguksu. Berbeda dari naengmyeon yang disajikan dengan kuah kaldu atau saus pedas, kongguksu menawarkan cita rasa yang lebih lembut melalui kuah putih berbahan dasar kedelai. Hidangan ini cocok bagi pencinta kuliner yang ingin sajian segar, terasa gurih ringan, sekaligus bertekstur kuah yang creamy.

Keunikan kongguksu terletak pada kuahnya yang berwarna putihnya. Namun, warna tersebut tidak berasal dari susu atau produk olahan susu, melainkan dari kedelai yang diolah hingga menghasilkan cairan bertekstur lembut dan kental. Kedelai memberikan cita rasa khas kacang sekaligus menjadi sumber protein nabati yang membuat hidangan ini terasa mengenyangkan tanpa harus menggunakan kuah berbahan dasar daging.

Untuk melengkapi penyajian, kongguksu biasanya diberi irisan mentimun yang memberikan tekstur renyah dan kesegaran tambahan. Beberapa variasi juga menggunakan tomat atau telur rebus sebagai pelengkap. Gak jarang, es batu ditambahkan ke dalam mangkuk agar kuah tetap dingin, terutama ketika hidangan ini disantap saat cuaca panas.

Dari segi rasa, kongguksu memiliki karakter gurih yang ringan dengan aroma kedelai yang khas. Karena kuahnya tidak menggunakan banyak bumbu, rasa alami kedelai menjadi unsur utama yang menentukan cita rasa hidangan. Garam sering ditambahkan untuk memperkuat rasa gurih, sedangkan sebagian orang memilih menambahkan sedikit gula untuk menghasilkan sentuhan manis. Pilihan bumbu ini dapat berbeda sesuai selera pribadi dan kebiasaan di berbagai daerah di Korea Selatan.

Mi dingin dari berbagai negara di Asia memperlihatkan bagaimana bahan makanan yang sederhana dapat diolah menjadi hidangan dengan karakter dan tradisi yang berbeda. Mulai dari Thailand hingga Korea, kelima hidangan tersebut menunjukkan bahwa mi dingin bukan sekadar makanan untuk mengatasi cuaca panas, tetapi juga merupakan bagian dari budaya masing-masing negara. Di balik kesegarannya, terdapat kekayaan bahan, teknik memasak, kebiasaan masyarakat, dan nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kira-kira, kamu berminat coba yang mana nih?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article