Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Perbedaan Steamboat dan Hotpot yang Suka Dianggap Sama

Perbedaan Steamboat dan Hotpot yang Suka Dianggap Sama
ilustrasi kuliner steamboat (pexels.com/bams awey)
Intinya Sih
  • Steamboat dan hotpot sama-sama konsep makan rebusan komunal, tapi istilahnya berbeda secara geografis: steamboat populer di Asia Tenggara, sedangkan hotpot berasal dari tradisi kuliner Tiongkok.
  • Kuah steamboat cenderung ringan dan menyesuaikan selera lokal seperti tom yum atau kaldu ayam, sementara hotpot dikenal dengan kuah mala Sichuan yang pedas, berminyak, dan kaya rempah.
  • Steamboat biasanya memakai banyak frozen food praktis, sedangkan hotpot menonjolkan bahan segar berkualitas tinggi serta ritual meracik saus cocolan khas budaya Tiongkok.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Secara umum, steamboat dan hotpot adalah konsep kuliner yang sama, yaitu cara makan komunal dengan merebus berbagai bahan makanan, seperti daging, sayur, hingga seafood ke dalam panci berisi kuah kaldu panas yang diletakkan langsung di meja makan.

Perbedaan utamanya sering kali hanya terletak pada istilah geografisnya. Istilah steamboat sangat populer dan lazim digunakan di Asia Tenggara, khususnya Malaysia dan Singapura. Sementara itu, istilah hotpot (atau dalam bahasa Mandarin disebut huoguo) jauh lebih umum digunakan di China serta di tingkat internasional.

Namun, kalau kita gali lebih dalam, ada beberapa detail kecil yang membedakan pengalaman makan kamu di kedua jenis restoran ini. Perbedaan steamboat dan hotpot berikut ini sudah seharusnya kamu ketahui, karena memang tidak sama, lho!

1. Asal-usul dan penamaan geografis

ilustrasi kuliner steamboat
ilustrasi kuliner steamboat (pexels.com/Markus Winkler)

Seperti yang sudah disebutkan tadi, perbedaan paling mencolok antara steamboat dan hotspot ada pada lokasinya. Kalau sedang jalan-jalan ke Kuala Lumpur atau Singapura, kamu bakal lebih sering menemukan papan nama bertuliskan "Steamboat". Di sana, budaya ini sudah menyatu dengan selera lokal yang kadang mendapat pengaruh Melayu dan Tionghoa Peranakan.

Di sisi lain, istilah "Hotpot" punya cakupan yang lebih luas secara global. Nama ini merujuk pada tradisi asli dari China yang sejarahnya sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Jadi, kalau kamu pergi ke restoran yang mengusung konsep autentik Tiongkok atau Jepang, seperti shabu-shabu, mereka cenderung menggunakan istilah hotpot atau nama spesifik lainnya daripada steamboat.

2. Variasi kuah kaldu yang disajikan

ilustrasi kuliner steamboat
ilustrasi kuliner steamboat (unsplash.com/You Le)

Perbedaan selanjutnya terletak pada rasa. Karena steamboat populer di Asia Tenggara, pilihan kuahnya sering kali disesuaikan dengan selera lokal. Gak jarang kamu bakal menemukan pilihan kuah tom yum yang asam pedas atau kaldu ayam bening yang ringan. Rasanya cenderung "aman" dan segar untuk dinikmati berlama-lama.

Sedangkan hotpot, terutama versi Sichuan atau Chongqing, terkenal dengan kuah mala yang penuh rempah dan minyak cabai. Efeknya bisa bikin lidah kamu mati rasa, karena penggunaan biji lada Sichuan yang kuat. Meskipun sekarang banyak restoran hotpot yang menyediakan pilihan kuah kolagen atau tomat, secara tradisi, hotpot punya karakter kuah yang lebih berani dan berminyak dibandingkan dengan steamboat.

3. Jenis bahan makanan yang dimasukkan

ilustrasi kuliner hotpot
ilustrasi kuliner hotpot (pexels.com/Change C.C)

Meskipun isinya sama-sama daging dan sayur, ada sedikit perbedaan gaya. Di restoran steamboat, kamu bakal sering menemui banyak varian frozen food, seperti bakso ikan, crab stick, pangsit, dan olahan ikan lainnya. Steamboat sering dianggap sebagai makanan yang lebih santai dan "rumahan".

Kalau di restoran hotpot kelas atas, fokusnya biasanya pada kualitas bahan mentah. Kamu akan menemukan irisan daging sapi premium dengan marbling yang cantik, jeroan yang dipotong tipis, hingga berbagai jenis jamur eksotis. Hotpot sering kali dianggap sebagai pengalaman makan yang lebih intens karena fokus pada kesegaran tiap bahan yang masuk ke dalam panci.

4. Saus atau dipping sauce sebagai pelengkap

ilustrasi kuliner hotpot
ilustrasi kuliner hotpot (pexels.com/Huu Huynh)

Nah, poin terakhir ini sering dilewatkan, padahal penting banget. Dalam budaya makan hotpot, terutama di China, meracik saus cocolan adalah sebuah ritual wajib. Biasanya ada meja khusus berisi belasan jenis bahan saus, seperti pasta wijen, minyak bawang, kecap asin, hingga daun ketumbar yang bisa kamu racik sendiri.

Untuk steamboat, saus cocolan biasanya lebih sederhana dan praktis. Sering kali pihak restoran sudah menyediakan saus sambal botolan atau sambal kecap dengan irisan cabai rawit yang sudah jadi di meja. Jadi, kamu gak perlu repot-repot bereksperimen sebelum mulai makan.

Kesimpulannya, steamboat dan hotpot pada dasarnya adalah "saudara kembar" dengan nama yang berbeda tergantung di mana mereka tinggal. Jadi, kalau ditanya apakah steamboat dan hotpot sama? Jawabannya: Iya secara konsep, tapi berbeda secara gaya dan bumbu.

Gimana? Sekarang kamu sudah paham perbedaannya, kan? Jadi, weekend ini kamu rencananya mau makan steamboat yang segar atau hotpot yang pedas membara?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman
Follow Us

Latest in Food

See More