Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ilustrasi daging steak (unsplash.com/José Ignacio Pompé)
  • Termometer makanan adalah cara paling akurat mengecek kematangan steak; ukur bagian tengah dan angkat 3–6°C sebelum suhu target karena pemasakan berlanjut saat diistirahatkan.
  • Tanpa termometer, kematangan dapat diperkirakan lewat tes sentuhan jari, cake tester, warna kerak dan pinggiran, serta waktu memasak sebagai panduan awal, bukan patokan tunggal.
  • USDA merekomendasikan steak sapi utuh mencapai suhu internal minimal 63°C dan didiamkan sedikitnya tiga menit; waktu istirahat juga membantu menjaga cairan serta tekstur daging.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Memasak steak memang kelihatannya sederhana, tapi menentukan tingkat kematangannya bisa menjadi tantangan tersendiri. Apalagi kalau kamu menginginkan bagian luar yang kecokelatan dengan tekstur daging bagian dalam sesuai selera.

Salah satu kebiasaan yang sering dilakukan saat memasak steak adalah memotong sedikit bagian tengahnya untuk memastikan apakah daging sudah matang atau belum. Padahal, cara tersebut justru berisiko bikin cairan alami daging keluar sehingga teksturnya bisa menjadi lebih kering. Kabar baiknya, ada beberapa cara untuk memeriksa tingkat kematangan steak tanpa harus mengirisnya terlebih dahulu.

Berbagai koki profesional menyarankan penggunaan termometer makanan sebagai metode paling akurat. Namun kalau kamu belum memilikinya, ada beberapa tanda lain yang bisa diperhatikan selama proses memasak. Berikut lima cara mengetahui steak matang sempurna tanpa harus memotongnya.

1. Gunakan termometer khusus makanan

ilustrasi masak daging steak (vecteezy.com/arcadesign)

Cara paling akurat untuk mengetahui tingkat kematangan steak adalah menggunakan termometer makanan digital atau instant-read thermometer. Menurut chef Barry Miles, alat ini membantu menghilangkan perkiraan saat memasak sehingga kamu bisa menghindari steak yang masih kurang matang ataupun terlalu matang. Chef Delfin Jaranilla juga menjelaskan bahwa termometer probe merupakan metode paling dapat diandalkan untuk mengetahui tingkat kematangan daging selama proses memasak.

Cara menggunakannya cukup mudah, yaitu dengan menusukkan ujung termometer ke bagian tengah steak yang paling tebal. Kalau potongan dagingmu relatif tipis, sekitar 2,5 cm atau kurang, masukkan termometer dari arah samping agar ujungnya tetap mencapai bagian tengah. Hindari menusukkannya tepat mengenai tulang atau bagian lemak yang tebal karena bisa menghasilkan pembacaan suhu yang kurang akurat.

Berikut kisaran suhu internal steak berdasarkan tingkat kematangannya:

- Rare: 49–52 derajat Celsius.

- Medium rare: 54–57 derajat Celsius.

- Medium: 60–63 derajat Celsius.

- Medium well: 66–68 derajat Celsius.

- Well done: 71 derajat Celsius atau lebih.

Perlu kamu ingat, suhu steak masih bisa meningkat beberapa derajat setelah diangkat dari wajan atau panggangan. Fenomena ini dikenal sebagai carryover cooking, yaitu proses pemasakan yang masih berlangsung akibat panas tersimpan di dalam daging. Karena itu, kamu bisa mengangkat steak sekitar 3–6 derajat Celsius sebelum mencapai suhu akhir yang diinginkan, lalu membiarkannya beristirahat selama 10–15 menit.

2. Periksa tingkat kekenyalan steak dengan jari

ilustrasi grilled beef steak with vegetables (magnific.com/timolina)

Kalau gak punya termometer makanan, kamu bisa mencoba metode finger test atau tes sentuhan jari. Metode ini cukup populer di kalangan koki karena bisa membantu memperkirakan tingkat kematangan steak hanya dengan membandingkan tekstur daging dan bagian telapak tangan. Chef Megan Keno mengungkapkan bahwa metode tersebut merupakan salah satu teknik awal yang ia pelajari ketika mulai berkarier sebagai koki. Meski begitu, cara ini membutuhkan latihan agar kamu semakin terbiasa mengenali perbedaan teksturnya.

Caranya, sentuhkan ibu jari dengan jari telunjuk, kemudian gunakan jari tangan lainnya untuk menekan bagian telapak tangan tepat di bawah pangkal ibu jari. Tekstur bagian tersebut bisa dijadikan patokan untuk mengenali steak dengan tingkat kematangan rare. Selanjutnya, coba sentuhkan ibu jari dengan jari tengah untuk memperkirakan tekstur medium rare, jari manis untuk medium, dan kelingking untuk well done.

Semakin matang steak, biasanya teksturnya akan terasa semakin padat dan kenyal. Chef Barry Miles menjelaskan bahwa daging steak yang awalnya terasa sangat lunak dan elastis akan menjadi lebih keras seiring meningkatnya tingkat kematangan. Namun, metode ini gak sepenuhnya akurat karena hasilnya bisa berbeda tergantung tekanan jari dan kemampuan seseorang dalam mengenali tekstur. Jadi, sebaiknya gunakan teknik ini sebagai alternatif ketika gak punya termometer, ya.

3. Gunakan cake tester untuk memeriksa suhu bagian dalam

ilustrasi steak rare (magnific.com/timolina)

Pernah terpikir menggunakan alat pembuat kue untuk mengecek kematangan steak? Ternyata, cake tester atau tusuk penguji kue berbahan logam juga bisa dimanfaatkan untuk memperkirakan suhu bagian dalam daging. Teknik ini diperlihatkan oleh chef Angie Mar, pemilik restoran Les Trois Chevaux di New York, yang dikenal memiliki keahlian dalam mengolah steak dan prime rib. Metode tersebut juga dibahas dalam Food & Wine sebagai alternatif ketika kamu gak punya termometer daging.

Cara melakukannya cukup sederhana, yaitu dengan memasukkan cake tester secara miring ke bagian tengah steak. Diamkan sebentar agar logam tersebut menyerap panas dari daging, kemudian cabut dan tempelkan ujungnya ke bagian dalam pergelangan tangan. Jika terasa dingin, kemungkinan steak masih mentah, sedangkan sensasi hangat mendekati suhu tubuh bisa menunjukkan tingkat kematangan medium rare.

Apabila ujung cake tester terasa panas, daging kemungkinan sudah mencapai tingkat kematangan yang lebih tinggi, seperti well done. Meski terdengar praktis, metode ini tetap membutuhkan pengalaman karena setiap orang bisa memiliki persepsi berbeda saat merasakan suhu. Pastikan juga alat yang digunakan bersih dan aman untuk makanan supaya gak mengontaminasi steak selama proses memasak.

4. Perhatikan warna permukaan dan bagian pinggir steak

ilustrasi veal steak medium rare with french fries (magnific.com/timolina)

Tampilan steak juga bisa memberikan petunjuk mengenai proses pematangannya. Menurut chef Barry Miles, salah satu tanda yang bisa diperhatikan adalah terbentuknya lapisan kecokelatan pada permukaan luar daging. Lapisan ini dikenal sebagai crust, yaitu hasil proses pencokelatan ketika permukaan daging bersentuhan dengan panas tinggi. Selain memberikan tampilan yang menggugah selera, lapisan tersebut juga berkontribusi terhadap cita rasa steak.

Kamu juga bisa memperhatikan bagian pinggir steak selama dimasak. Ketika panas mulai bekerja, bagian tepi daging akan terlihat semakin matang dan perubahan warnanya perlahan bergerak menuju bagian tengah. Jika bagian luar sudah kecokelatan dan pinggirannya tampak matang, itu menandakan proses memasak sedang berlangsung dengan baik.

Namun, jangan langsung menganggap steak sudah matang sempurna hanya karena bagian luarnya terlihat kecokelatan. Chef Miles mengingatkan bahwa tampilan permukaan dan bagian pinggir hanya memberikan sedikit informasi mengenai kondisi bagian tengah daging. Steak bisa saja memiliki lapisan luar yang sudah matang, tapi bagian dalamnya masih belum mencapai suhu yang diinginkan. Jadi, gunakanlah tampilan visual sebagai petunjuk tambahan, bukan satu-satunya patokan.

5. Jadikan waktu memasak sebagai panduan, bukan patokan utama

ilustrasi jam dinding (pexels.com/Lana Kravchenko)

Selain memperhatikan tekstur dan tampilan, kamu juga bisa menggunakan durasi memasak untuk memperkirakan kematangan steak. Biasanya, resep akan mencantumkan waktu memasak berdasarkan ketebalan daging dan metode yang digunakan, baik dengan wajan maupun panggangan. Informasi tersebut cukup membantu untuk memperkirakan kapan steak perlu diperiksa. Namun, chef Barry Miles menyarankan agar waktu memasak diperlakukan sebagai pengingat untuk mulai mengecek kematangan, bukan bukti bahwa steak sudah selesai dimasak.

Mengapa begitu? Setiap potongan steak memiliki ketebalan, ukuran, dan karakteristik yang berbeda sehingga membutuhkan waktu memasak yang gak selalu sama. Penggunaan api yang terlalu besar, suhu awal daging, hingga jenis wajan juga bisa memengaruhi proses pematangan. Steak setebal 2,5 cm tentu bisa matang lebih cepat dibandingkan potongan daging yang jauh lebih tebal meskipun dimasak dengan metode serupa.

Kalau menggunakan resep sebagai panduan, perhatikan juga waktu istirahat setelah steak diangkat dari panas. Menurut panduan memasak steak dari The Kitchn, daging sebaiknya didiamkan sekitar 5–10 menit sebelum dipotong agar proses pematangan lanjutan berlangsung dan cairannya gak langsung keluar saat diiris. Dengan memberikan waktu istirahat yang cukup, kamu bisa mendapatkan tekstur steak yang lebih baik ketika disajikan.

Menentukan tingkat kematangan steak ternyata gak harus dilakukan dengan cara memotong bagian tengahnya. Kamu bisa menggunakan termometer makanan, tes sentuhan jari, cake tester, memperhatikan perubahan warna, hingga menjadikan durasi memasak sebagai panduan. Dari kelima metode tersebut, penggunaan termometer tetap menjadi pilihan paling akurat karena bisa mengukur suhu bagian dalam daging secara langsung.

Ada satu hal penting yang juga perlu diperhatikan, yaitu keamanan makanan. USDA merekomendasikan steak daging sapi utuh mencapai suhu internal minimal 63 derajat Celsius (145°F), kemudian didiamkan setidaknya selama tiga menit sebelum dikonsumsi. Artinya, tingkat kematangan seperti rare dan medium rare yang memiliki suhu lebih rendah belum memenuhi rekomendasi keamanan tersebut. Jadi, selain mempertimbangkan selera, pastikan kamu juga memperhatikan suhu dan keamanan steak sebelum menyajikannya, ya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article